
Tanjung Jabung Timur Jambi, EDITOR.ID – Beredar sebuah video viral di media sosial menampilkan guru bernama Agus Saputra (AS) pengajar Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi dikeroyok oleh para siswanya.
Video berdurasi 49 detik tampak seorang guru pria bernama Agus Saputra (AS) di keroyok oleh siswa di luar kelas. Dalam tayangan video tersebut siswa beringasan mengeroyok gurunya.
Insiden bermula pada Selasa (13/1) saat guru AS merasa terganggu oleh perilaku siswa di kelas, dipicu oleh salah paham setelah guru memberikan teguran kepada siswa yang mengeluarkan kata-kata tidak pantas.
AS sudah mengaku menampar salah satu siswa setelah merasa ditantang secara verbal.
Guru AS dengan beberapa siswa cekcok mulut, adu argumen. Oleh karena AS mengeluarkan kata-kata yang membuat siswa marah terjadilah pengeroyokan siswa kepada AS membuat suasana menjadi ricuh.
Berdasarkan informasi yang beredar, insiden ini berawal dipicu oleh ucapan AS yang dinilai para siswa menyinggung perasaan mereka.
AS disebut-sebut melontarkan kalimat yang mengaitkan kondisi ekonomi orang tua murid dengan sebutan “miskin”.
Ucapan yang keluar dari mulut AS inilah yang memicu emosi dan reaksi keras dari para siswanya.
Selain video kericuhan, beredar pula video lainnya merupakan kelanjutan pascakejadian yang sama. Video tersebut memperlihatkan AS membawa senjata tajam jenis celurit.
Kedua video tersebut viral, dikhawatirkan memicu keprihatinan publik terhadap keamanan dan kondusivitas lingkungan pendidikan.
Video kelanjutannya malah justru dinilai semakin memperuncing masalah yang semestinya sudah bisa diredam, mengkhawatirkan para orang tua siswa sehingga prihatin berdampak terhadap keamanan keselamatan anak-anaknya maupun kondusivitas lingkungan pendidikan khususnya di SMK Negeri 3, pendidikan nasional umumnya.
Bagi AS pengeroyokan siswa pada dirinya membuatnya ketakutan, AS pun berinisiatif memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan pengaduan resmi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu (14/1/2026).
Padahal sesungguhnya pihak SMK Negeri 3 sudah mengupayakan melakukan mediasi diantara yang saling bertikai, diharapkan AS hadir dan memang sudah dijadwalkan diminta mengikuti mediasi dengan siswa yang berseteru bersama pihak sekolah di Polsek Berbak.
Klaim AS beralasan mengapa dirinya malah mendatangi Dinas Pendidikan untuk meminta perlindungan dan kejelasan jaminan keamanan dari perundungan para siswa.
“Saya tahu persis kondisi geografis dan sosial masyarakat di sana, saya khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sampai saat ini belum ada jaminan keamanan yang jelas, makanya saya mengadukan persoalan ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi,” ujar AS.
Alasan karena belum adanya jaminan keamanan, membuat AS lebih memilih untuk tidak menghadiri mediasi tersebut. “Seharusnya hari ini saya mediasi, entah di sekolah atau di Polsek Berbak. Tapi karena tidak ada jaminan keamanan, saya tidak berani datang dan lebih memilih melapor ke dinas pendidikan provinsi,” tukas AS.
Lebih lanjut, AS membeberkan keluhannya selama sebagai guru di SMK tempat dia mengajar, AS menilai bahwa sebagian siswa yang terlibat dengan dirinya diketahui oleh AS mereka sulit diatur, kurang disiplin, dan sulit ditegur. AS menambahkan, upayanya membina hubungan para siswa dengan guru agar saling menghormati seringkali tidak diindahkan.
Mengenai AS membawa celurit, AS menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah ia mengalami pengeroyokan. Menurut AS pada kejadian pengeroyokan membuat situasi semakin memanas dengan adanya keterlibatan wali murid yang datang ke sekolah.
“Yang diviralkan itu pas saya memegang celurit, itu setelah terjadi pengeroyokan. Saat itu anak-anak dan bahkan orang tua datang, ada wali murid yang ikut campur dan sempat ada yang menantang saya” beber AS.
Atas alasan itu membuat AS membawa Celurit, “Maksud saya memegang celurit hanya untuk membuat mereka bubar dan mencegah tindakan anarkis,” jelasnya.
AS menegaskan bahwa tidak ada niat untuk melakukan tindakan kriminal. “Alhamdulillah tidak terjadi aksi kriminal menggunakan senjata tajam,” ujar AS.
Kapolsek Berbak IPTU Hans Simangunsong ketika dihubungi via WhatsApp membenarkan adanya insiden tersebut dan menyatakan pihak kepolisian akan menempuh jalur mediasi dengan melibatkan pihak sekolah, guru, orang tua murid serta unsur Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan).
Kasus ini masih menjadi perhatian publik. Diharapkan seluruh pihak dapat menahan diri dan penyelesaian dilakukan secara bijaksana demi menjaga keamanan serta keberlangsungan proses belajar-mengajar di lingkungan sekolah.
Hasil Mediasi Siswa yang bertikai dengan guru AS (14 Januari 2026). Para siswa yang terlibat telah membuat surat pernyataan tertulis untuk tidak mengulangi perbuatan mereka yang dinilai tidak pantas perlakuan murid kepada gurunya.
Ketua Komite sekolah menyarankan guru AS untuk mengajukan mutasi pindah dari sekolah tersebut demi menjaga kondusivitas.
Ketua OSIS sebagai perwakilan siswa menyampaikan permohonan maaf kepada instansi terkait, namun tetap mendesak agar guru tersebut dipindahkan karena alasan kenyamanan siswa.
Mediasi dihadiri oleh Kapolsek Berbak, Camat Berbak, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, serta pihak sekolah dan orang tua murid.
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi telah menurunkan tim investigasi untuk mendalami kasus ini secara menyeluruh. (*)












