Jakarta, EDITOR.ID,- Kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh kader partai. Pasalnya kharisma dan kepiawaian Jokowi dalam memimpin bangsa ini menjadi garansi bahwa partai akan jadi besar jika dipimpin Jokowi.
Hal ini disampaikan Ketua Mahkamah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ade Irfan Pulungan. Ade menilai Jokowi menjadi magnet yang dapat mengangkat para politisi partai berlambang Ka’bah itu kembali ke DPR pada 2029.
Ade Irfan Pulungan menegaskan bahwa, Presiden ke-7 Republik Indonesia itu merupakan sosok yang tepat untuk memimpin PPP untuk periode berikutnya.
“Kalau ada yang menawarkan beliau menjadi Ketua Umum PPP, itu sangat luar biasa. Dan kalau dia merespons itu, menurut saya sebuah anugerah bagi PPP,” ujar Irfan saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (27/5/2025).
“Insya Allah kalau PPP dipimpin oleh Pak Jokowi, Insya Allah bertiga dan kembali ke Senayan. Mudah-mudahan bisa menjadi lima besar sehingga mendapat pimpinan di DPR,” sambungnya.
Menurut Irfan, Jokowi memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah dan perkembangan PPP, serta memiliki pengalaman politik yang panjang, menjadikannya figur yang mampu memimpin partai berlambang Ka’bah tersebut.
Ade Irfan menilai bahwa gaya kepemimpinan Jokowi yang komunikatif dan dekat dengan kalangan ulama serta tokoh umat sejalan dengan nilai-nilai PPP.
Ia juga mengapresiasi perhatian Jokowi terhadap isu-isu keumatan, seperti disahkannya Undang-Undang Pesantren pada masa pemerintahannya.
Irfan meyakini bahwa dengan kapasitas dan pendekatan tersebut, Jokowi dapat membawa pembaruan dan transformasi yang diperlukan untuk membesarkan PPP tanpa mengubah tradisi dan kultur partai.
Sebagai informasi, PPP untuk pertama kalinya gagal mendapatkan kursi di DPR sejak mengikuti pemilihan umum (Pemilu) sejak 1977.
Dalam Pemilu 2024, partai berlambang Ka’bah itu mendapatkan 5.878.777 suara atau 3,87 persen suara. Angka tersebut tak mencapai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) sebesar 4 persen.
Menurut Irfan, Jokowi merupakan sosok yang tepat untuk memimpin PPP. Pengalamannya di bidang politik dan pemerintahan tentu menjadi sangat tepat untuk memimpin partai berlambang Ka’bah itu.
Apalagi, Irfan melihat Jokowi sebagai sosok yang mengerti sejarah dan perkembangan PPP selama ini.
“Tentu sosok-sosok yang seperti itu saya pikir cukup capable jika PPP itu dipimpin oleh orang yang sudah memiliki pengalaman politik yang cukup panjang, ya, dan cukup lama pengalaman dari pemerintahannya untuk bisa memimpin sebuah partai,” ujar Irfan.
Irfan mengatakan, PPP saat ini membutuhkan pembenahan dan orang yang tepat melakukan hal tersebut adalah Jokowi.
“Saya pikir figur Pak Jokowi yang cocok untuk memimpin PPP supaya ada pembenahan, ya, ada semacam pembaruan, ya, transformasi yang dilakukan oleh Pak Jokowi,” ujar eks Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) itu.
Sebelumnya, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP, Romahurmuziy atau Rommy mengungkap sejumlah nama dari eksternal yang masuk bursa calon ketua umum PPP.
Mereka adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Dudung Abdurachman, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hingga eks Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.
Bahkan, Rommy menyebut pernah membujuk Anies untuk menjadi ketua umum PPP. Ia juga mengaku sudah berkonsultasi dengan Jokowi terkait nama Amran Sulaiman.
“Saya berusaha sebisa mungkin agar partai ini kembali ke Senayan. Effort untuk ke situ maha berat, mengingat belum ada satu sejarah pun sejak 1998, partai yang terlempar dari Senayan, mampu kembali,” ujar Rommy, Senin (26/5/2025).
“Karenanya dibutuhkan extraordinary power dan extra ordinary leader untuk memimpin PPP. Karenanya saya berusaha membujuk banyak tokoh yang saya nilai mampu, baik karena ketokohannya,” sambungnya.
Jokowi Pilihan Pertama Jadi Ketum Andai Haji Isam Mengambil Alih PPP
Sementara Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti menyebut sosok Jokowi bisa menjadi calon paling kuat memimpin PPP, dengan syarat pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam bisa mengambil alih partai berlambang Ka’bah itu.
Ray mengatakan urusan mengambil alih PPP hanya tinggal formalitas ketika Haji Isam benar-benar turun dalam gelanggang.
“Perkara alih kuasa di PPP sudah selesai. Tinggal menunggu formalitasnya,” kata pengamat politik itu, Kamis (29/5).
Ray mengatakan dua nama bakal mencuat menjadi caketum PPP, apabila Haji Isam mengambil alih partai tersebut.
Dia menyebut dua nama itu ialah Jokowi dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang juga kerabat Haji Isam.
“Kedua nama ini potensial jadi Caketum PPP berikutnya,” kata Ray.
Menurutnya, nama Jokowi menjadi pilihan pertama sebagai Ketum PPP, karena eks Gubernur Jakarta itu punya kedekatan dengan Haji Isam serta membutuhkan kendaraan politik.
“Jokowi saat ini membutuhkan labuhan untuk menggerakan visi politiknya,” ujar aktivis prodemokrasi itu.
Ray mengatakan Jokowi memang masih memiliki PSI sebagai kendaraan politik, tetapi partai berkelir merah itu masih belum mengakar di rakyat.
“Jika Haji Isam masuk (ke PPP), kemungkinan Jokowi akan didapuk sebagai ketum terbuka lebar,” ujarnya.
Di sisi lain, sosok Amran nantinya hanya menjadi ban serap andai Jokowi tidak bersedia menjadi Ketum PPP setelah didorong Haji Isam.
“Beliau (Amran) akan menjadi pilihan kedua,” kata Ray.
Menurut Ray, Amran sebagai menteri era Prabowo Subianto, membutuhkan izin kepala negara untuk menjadi Ketum PPP.
Selain itu, lanjut dia, Amran yang kini menjabat menteri, bakal sulit bekerja untuk menaikkan angka keterpilihan PPP.
Ray menilai pilihan menjadikan Jokowi sebagai Ketum PPP berikutnya lebih rasional untuk menaikkan angka keterpilihan partai.
“Dalam kultur politik Indonesia, popularitas pemimpin parpol sangat banyak membantu elektabilitas parpol. Jokowi dapat memenuhi hal ini,” katanya.
Ray menaruh kemungkinan 60 persen bagi Jokowi menerima pinangan Haji Isam menjadi Ketum PPP.
“Jawabannya positif iya. Ibarat angka di kisaran 60 persen,” ujar Ray. (tim)












