Jakarta, EDITOR.ID,- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan telah menangkap, yang disebut Venezuela sebagai penculikan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro. AS mengerahkan pasukan elite Delta Force untuk menyerang Venezuela dan menangkap Maduro.
Detik-detik penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores diungkapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers pada Sabtu seperti dilansir The Week.
Operasi ini melibatkan intelijen AS dan orang dalam lingkaran keamanan Venezuela. Pemerintah AS sebelumnya menawarkan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro, awalnya 15 juta dolar AS, kemudian naik menjadi 25 juta hingga 50 juta dolar AS (Rp835 miliar).
Sumber Reuters menyebut ClA memiliki informan dekat Maduro yang memantau pergerakannya, sementara beberapa pejabat keamanan disebut menarik perlindungan atau memberi akses khusus kepada pasukan AS. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksinya hanya sekitar 1 persen dari total global.
Pada Desember 2025, ekspor minyak tercatat 921 ribu barel per hari, sekitar 80 persen ke China dengan transaksi menggunakan yuan, tak lagi menggunakan USD. Presiden Donald Trump menyatakan AS akan mengambil alih pemerintahan Venezuela dan mengelola cadangan minyaknya, sekaligus melanjutkan penjualan minyak ke China namun dengan harga yang lebih tinggi.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro tiba di New York, Sabtu (3/1/2026) pagi waktu setempat, setelah diculik pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force dalam operasi tengah malam di Caracas. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, disebut diseret dari kamar tidur sebelum dievakuasi tanpa perlawanan dan dibawa ke Amerika Serikat.
Pasukan itu merupakan pasukan elit untuk unit misi khusus militer AS.
Sumber CIA di dalam pemerintahan Venezuela disebut telah membuat AS dapat melacak lokasi Maduro menjelang penangkapan. Ini merupakan bagian dari operasi dan jaringan intelijen AS yang luas.
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengatakan ‘Operasi Absolute Resolve’ dilakukan dengan perencanaan dan latihan selama berbulan-bulan. Dia mengatakan pasukan AS menunggu cuaca yang tepat.
Lebih dari 150 pesawat digunakan untuk membawa tim itu ke ibu kota Venezuela, Caracas. Tim tersebut tiba dan memasuki kompleks Maduro, yang disebut Trump lebih mirip dengan benteng, pada pukul 02.01 waktu setempat.
Saat itu, listrik di Caracas telah dimatikan oleh AS. Maduro disebut mencoba masuk ke tempat aman yang diperkuat baja.
Maduro telah mencapai ke pintu tempat aman itu, namun pintunya tak dapat ditutup. Trump mengatakan tidak ada pasukan AS yang tewas dan hanya ada ‘sedikit’ korban luka dalam operasi tersebut.
Rahasia Pasukan Elit AS Sukses Culik Presiden Venezuela
Selama berbulan-bulan, intelijen AS telah memantau gerak-gerik Nicolas Maduro.
Sebuah tim kecil, termasuk informan AS di dalam pemerintahan Venezuela, telah mengamati di mana pria berusia 63 tahun itu tidur, apa yang dia makan, apa yang dia kenakan, dan bahkan, menurut para pejabat militer tinggi, “hewan peliharaannya”.
Kemudian, pada awal Desember, sebuah misi yang direncanakan dan diberi nama “Operasi Absolute Resolve” diselesaikan.
Ini adalah hasil dari perencanaan dan latihan yang cermat selama berbulan-bulan. Bahkan, pasukan elit AS yang membuat replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas untuk melatih rute penyergapan mereka.
Rencana tersebut—merupakan intervensi militer AS yang luar biasa di Amerika Latin yang belum pernah terjadi sejak Perang Dingin—dirahasiakan dengan ketat.
Kongres tidak diberitahu atau dikonsultasikan sebelumnya. Dengan rincian yang tepat telah ditetapkan, para pejabat militer tinggi hanya perlu menunggu kondisi optimal untuk meluncurkan serangan.

Pejabat militer mengatakan pada Sabtu (03/01), mereka ingin memaksimalkan unsur kejutan.
Menanggapi serbuan ini, Presiden Brasil Lula da Silva mengatakan, penangkapan pemimpin Venezuela dengan kekerasan tersebut sebagai “preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional”.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan mengatakan, ia “sangat prihatin” dengan operasi militer AS di Venezuela, dan menambahkan bahwa hal itu memiliki “implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan tersebut”.
“Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya,” kata pernyataan itu.
“Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh – oleh semua pihak – terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Ia sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional belum dihormati.”
Penculikan Presiden Venezuela Jadi Sorotan Dunia, Sikap Arogan AS
Pengamat internasional Asri Hadi menilai langkah yang diambil oleh presiden AS Donald Trump dengan menangkap presiden Venezuela yang sedang berkuasa adalah tindakan yang buruk bagi penghormatan terhadap kedaulatan satu negara dan juga terhadap hukum internasional.

“Ini bukan soal salah atau tidak bersalahnya presiden Venezuela, tapi soal kedaulatan negara Venezuela yang di langgar oleh AS,” ujarnya.
Lebih jauh Asri mengatakan seharusnya Amerika melakukan tindakan dengan melaporkan presiden Venezuela ke Mahkamah Internasional ICC atas dugaan tindakan kriminal atau apapun itu yg melanggar hukum. “Tidak bisa satu negara melakukan invasi militer ke negara lain bedasarkan asumsi secara sepihak,” tuturnya.
“Jika kejadian model begini dianggap biasa dan normal maka akan terjadi hal yang sama terhadap pemimpin negara lain yang tidak disukai oleh pemerintah AS . Bisa jadi akan ada lagi presiden negara lain yang ditangkap oleh militer AS dengan dalih yang mereka ungkapkan berdasarkan asumsi mereka sendiri,” paparnya.
Dengan demikian akan terjadi hukum rimba , siapa yang kuat dia yang bisa menentukan kebenaran dan keadilan atas nama kepentingan negaranya, bukan atas dasar hukum internasional.
Dengan demikian lembaga PBB sudah tidak ada artinya , mahkamah internasional cuma di anggap angin lalu . Kedepan dunia internasional akan memasuki era hukum rimba, negara yang kuat punya kuasa penuh untuk memaksakan kehendak, tak peduli lagi dgn hukum internasional & lembaga PBB atau Mahkamah Internasional.
Era gelap bagi perdamaian dunia yang justru di cita-citakan oleh 5 negara besar anggota tetap dewan keamanan , satu diantara 5 negara itu adalah Amerika serikat, negara yang saat ini gemar mengancam negara lain kecuali zionis Israel. Apapun kejahatan kemanusiaan yg dilakukan oleh Netanyahu dia tetap aman dalam perlindungan presiden AS Donald Trump . Sebuah tontonan ketidakadilan yang nyata sedang di perlihatkan oleh Amerika Serikat.****












