Jakarta, EDITOR.ID,- Tak jarang kita mengalami kesulitan untuk mencari lembaga atau jurnalis yang bisa membantu penulisan dan pendistribusian artikel berita atau rilis ke media-media. Jangan bingung karena kini sejumlah media yang tergabung dalam Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) bisa memberikan solusi bagi anda yang ingin menyebarluaskan informasi dan acara ke banyak media.
Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) digawangi dua Budi. Satunya Budi Rahardjo dan Satunya Budi Purnomo yang merupakan wartawan senior. Untuk Budi Purnomo dengan sapaan mas Bepe dikenal sebagai jurnalis yang menjadi kepercayaan Prabowo Subianto saat tiga Pilpres silam. Mas Bepe yang membantu publikasi segala aktivitas Prabowo kala itu melalui jaringan medianya.
Mereka boleh diistilahkan Budi Rahardjo dan Budi Purnomo adalah dua Begawan Media. Karena perjalanan dan pengalaman keduanya di dunia pers sejak mulai dari bawah sebagai wartawan peliput hingga memimpin menjadi CEO Media.
Budi Rahardjo dan Budi Purnomo menggandeng wartawan senior lainnya Asri Hadi, Edi Winarto, Ahmed Kurnia, Djono Wikanto Oesman, hingga Ludi Hasibuan. Para wartawan senior ini pernah menjadi andalan narasumber di era 90-an hingga saat ini. Jika dulu mereka jadi reporter dan redaktur, kini sudah memegang kendali media, memainkan publikasi dan membangun narasi.
Para begawan media ini banyak sekali pengalaman malang melintang membesarkan dan mengecilkan berita dengan presisi, menghidupkan isu yang nyaris mati, dan mengobati reputasi yang nyaris tumbang.
Mereka disebut Begawan Media.
Para sosok wartawan ini dikenal sebagai para pendiri Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) dan pengurus Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).
Kiprah mereka di dunia jurnalistik digital sudah menembus batas antara media, komunikasi, dan strategi branding.
1. Asri Hadi — Sang Diplomat Media
Pemimpin Perusahaan HarianKami.com dan Pemred Indonews ini dikenal luas sebagai sosok yang tenang tapi tajam.
Mantan dosen IPDN, karier jurnalistik Asri Hadi dimulai dari HealthNews, media antinarkoba pertama di Indonesia yang diakui oleh UNODC (Badan Dunia PBB).
Kini, sebagai Bendahara AMDI, Asri menjadi penghubung antara dunia media, organisasi sosial, dan lembaga pemerintahan.
Ia dikenal sebagai problem solver yang lihai, terutama bagi pihak-pihak yang butuh citra positif dan strategi komunikasi yang elegan.
Singkatnya: yang lesu ia bangkitkan, yang sunyi ia gaungkan.
2. Edi Winarto — Sang Arsitek Sistem Cerdas
Lulusan S2 Hukum ini bukan hanya seorang advokat dan pengurus Peradi, tapi juga pemilik dan pengelola media Editor.id, MediaSosialita.com, dan MonitorNusantara.com.
Sebagai Sekjen AMDI, Edi dikenal sebagai “otak sistem” di balik pengelolaan jaringan media digital yang luas. Ia mampu menaikkan jumlah penonton dalam publikasi baik artikel tulisan dan video dalam berbagai tayangan media.
Ia memahami anatomi komunikasi digital seperti dokter memahami tubuh manusia. Di tangannya, sistem, algoritma, dan strategi konten bisa disulap menjadi mesin pemberitaan yang hidup.
Ia membesarkan traffic, menenangkan krisis, dan merancang arah. Begawan media dengan logika hukum dan sentuhan digital. Edi Winarto juga banyak menulis buku tentang sosok kepemimpinan hingga teknis.
3. S.S. Budi Rahardjo, MM — Sang Pengrajin Media
Nama Budi Rahardjo alias Budi Jojo ini identik dengan Majalah Matra dan Majalah Eksekutif—dua media legendaris yang masih eksis di era digital.
Namun, kiprahnya jauh melampaui tinta dan kertas. Ia mengelola ekosistem media yang luas: dari Matranews.id, Eksekutif.com, Temposiana.com, Tiras.id, BeritaSenator.com, hingga HarianKami.com.
Selain itu, Budi juga dikenal sebagai penulis biografi tokoh-tokoh nasional dan penggerak media televisi digital streaming.
Ketua AMDI (Asosiasi Media Digital Indonesia) ini seperti pengrajin media: menyulam berita menjadi narasi bernilai, merajut citra menjadi kisah.
Yang kecil ia besarkan dengan cerita, yang besar ia bingkai dengan makna.
4. Budi Purnomo – Jagoan Komunikasi Politik
Sosok jurnalis yang tak kalah sarat pengalaman adalah Budi Purnomo. Dibesarkan dari media Persda Kompas Group, Budi Purnomo banyak berpengalaman menduduki posisi sebagai Direktur Komunikasi Politik maupun Bisnis. Saat menjadi reporter, Budi Purnomo banyak melakukan liputan di pasar modal, perbankan, industri hingga politik.
Budi Purnomo juga dikenal sebagai “pembuat media”. Ia banyak menelurkan media-media besar sebut saja Tabloid Genie yang pernah mencapai kesuksesan. Mas Bepe juga dikenal membangun jaringan radio.
Kini Budi Purnomo banyak membangun media-media digital. Ia memiliki puluhan media online yang selama ini banyak membantu pencitraan positif dan kinerja Presiden Prabowo Subianto. Budi Purnomo mengendalikan media-media IndonesiaRaya.com, Bisnis Today, EmitenNews.com Hello.id, PrabowoNews.com, Berita-08.com
5. Ahmed Kurnia — Sang Guru Komunikasi
Dulu wartawan Tempo, kini dosen di London School of Public Relations (LSPR) dan London Stikom School.
Ahmed dikenal sebagai komunikator ulung, bukan hanya dalam pemberitaan, tapi juga dalam atmosfer pers Indonesia itu sendiri.
Ia memahami denyut industri media, perubahan pola konsumsi berita, hingga bagaimana algoritma memengaruhi persepsi publik.
Ketika publik gamang, Ahmed hadir dengan teori dan praktik komunikasi yang jernih.
Baginya, media bukan sekadar kanal informasi, melainkan ruang interaksi sosial yang harus dijaga etika dan estetikanya.
6. Djono Wikanto Oesman – Penulis Buku dan Wartawan Handal
Djono Wikanto Oesman adalah mantan wartawan investigasi andalan Jawa Pos. Sejak jadi reporter hingga sekarang Djono tetap menjadi kepercayaan tokoh besar pers dan pendiri Jawa Pos, Dahlan Iskan. Bahkan hingga kini Djono tetap dipercaya dan ikut bosnya, Dahlan membantu di redaksi Harian Disway Biro Jakarta.
Selain sebagai wartawan senior di Harian Disway, Djono juga banyak menulis buku. Puluhan buku mulai dari profil perusahaan, biografi hingga pengetahuan ia tulis. Memang sejak muda sebelum jadi wartawan Jawa Pos, Djono W Oesman adalah penulis Novel terkenal di Surabaya. Barulah ia bergabung ke Jawa Pos.
Salah satu karya novel monumentalnya berjudul “311 Hari. Novel ini menceritakan kisah seorang penderita lupus yang divonis dokter akan meninggal satu tahun lagi. Maka ia mengisi sisa hidupnya dengan bekerja mengabdi pada sesama. Djono menulis bagimana sosok peran sentralnya mengisi hari-hari jelang kematian. Novel ini langsung meledak dan laris manis di pasaran. Ribuan terjual. Bahkan kisahnya diangkat ke layar lebar dan sukses meraih penonton besar.
7. Ludi Hasibuan – Jago Menulis dan Kritis
Ludi Hasibuan adalah jurnalis senior. Ia mantan wartawan Grup Kompas. Ludi berpengalaman menangani tabloid hiburan milik Kompas. Tulisannya mengalir dan enak diresapi, sangat informatif.

Para jurnalis senior ini memiliki kemampuan membesarkan yang kecil, mengecilkan yang besar, dan membangkitkan yang hampir punah.
Tentu saja, bukan dalam arti harfiah. Tapi dalam konteks komunikasi, branding, dan pemberitaan, mereka memang memiliki sentuhan ajaib.
Mereka paham cara menjaga reputasi di tengah dunia digital yang penuh AI, algoritma, bot, dan big data.
Mereka bukan sekadar jurnalis, tapi penyembuh wacana, dokter reputasi, dan perawat narasi bangsa.
Di tangan empat begawan ini, dunia media digital Indonesia bukan sekadar hidup—tapi perkasa. ***












