Berpikir Dialektis Saat Pandemi

img 20210906 222255

Yang paling penting, dari semua itu bagaimana dengan metoda berpikir dialektika yang disempurnakan, kita (pemerintah dan masyarakat) mensosialisaikannya dengan komunikasi yang benar.

Maksudnya tidak menimbulkan ?tekanan? yang menyebabkan anggota masyarakat merasa mendapat beban yang berakibat semakin ?stress?. Menghargai semua protokol kesehatan dan antisipasi kondisi PPKM (darurat maupun level 1 – 4) tapi tidak melahirkan penyakit baru berupa tekanan kejiwaan. Kondisi tersebut akan lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat, jika pertanggungjawaban penggunaan dana-dana yang sangat besar jumlahnya itu untuk proyek penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), disampaikan secara jujur, terbuka dan meyakinkan.

Karenanya sangat perlu didukung upaya Pemerintah melalui Menko Kemaritiman dan Investasi yang lakukan-langkah merangkul lebih banyak elemen-elemen masyarakat guna antisipasi bahaya merambahnya virus Covid -19.

Ulama dan Pemuka Agama, Kampus dan Organisasi Pergerakan Mahasiswa, serta lainnya memang perlu dilibatkan dalam penanganan Covid -19. Mereka perlu dilibatkan khususnya dalam menyejukkan suasana dengan menyampaikan info secara obyektif dan jujur, khususnya tentang penggunaan anggaran pemerintah dan yang lain, melalui Komunikasi yang sehat.

Yang tidak boleh dilupakan, dalam suasana semacam ini, masyarakat jangan tergelincir atau digelincirkan pada cara berpikir menyelamatkan dari Covid-19, tapi dengan cara-cara dan langkah-langkah yang didasari metode berpikir Neo Liberalisme yang akarnya adalah Kapitalisme. Sebuah idiologi yang pernah menjajah dan mencekeram bumi Nusantara selama 3,5 abad, khususnya karena kepentingan ekonomi.

Harus diakui sejak 1967 liberalisme/Neolib mencekeram Nusantara lagi hingga kini. Masa depan Indonesia yang makin menyedihkan itu, bisa diantipasi dengan bekerjanya sektor kesehatan dalam makna yang luas dan mendalam !!!


*). Kristiya Kartika, Mantan Ketua Presidium GMNI dan mantan pengurus DPP PDIP. Pendidikan terakhir, lulus program Doktor Manajemen Bisnis San Beda University, Manila, Philippina (2009). Pernah menjadi anggota Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) dan Wakil Ketua Tim Konsultansi Pembangunan pada Kantor Menteri Muda Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Kini Team Kerja Menteri PAN-RB RI, dan Pemerhati Independen masalah Ekonomi, Politik, Sosial, Reformasi Birokrasi serta Pembangunan Nasional. (Tim)

Leave a Reply