BEM Kampus Rame-Rame Protes Namanya Dicatut “BEM Bersatu” Serang Tyo Ardianto

BEM Kampus: Kami Tetap Jalankan Cita-Cita Reformasi, Pencatutan Nama Sejumlah BEM telah mencoreng Nama Baik BEM

BEM Bersatu Gelar Konferensi Pers

Jakarta, EDITOR.ID,- Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi tidak terima dan memprotes organisasi mereka dicatut ” sekelompok orang yang mengaku dari “BEM Fakultas Bersatu”. Sebelumnya, kelompok ini mengaku dari “BEM Fakultas Bersatu”, menggelar konferensi pers di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

Mereka mendukung pemerintah dan menyerang Ketua BEM UGM 2025 Tyo Ardianto.

Usai munculnya “BEM Fakultas Bersatu”, organisasi mahasiswa yang resmi langsung melayangkan protes. Mereka menyatakan tidak pernah bergabung maupun mengirimkan perwakilan dalam kegiatan tersebut.

Organisasi mahasiswa yang rame-rame protes itu adalah BEM Universitas Pamulang (UNPAM), BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (FTI UBSI), BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ), dan BEM Institut STIAMI.

BEM Fakultas Bersatu Serang Mantan Ketua BEM Tyo Ardianto

Sebelumnya, kelompok yang mengatasnamakan BEM Fakultas Bersatu menggelar konferensi pers dan menyatakan penolakan terhadap gerakan mahasiswa yang dinilai ditunggangi kepentingan politik praktis.

Mereka juga menyoroti mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto yang diklaim memiliki keterkaitan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut dugaan kedekatan itu berkaitan dengan penggunaan mobil Fortuner saat aksi demonstrasi di kawasan Gejayan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (13/6/2025).

Namun, sejumlah BEM yang namanya disebut dalam daftar peserta konferensi pers justru menyampaikan klarifikasi dan membantah keterlibatan mereka.

Tak lama berselang, muncul gelombang klarifikasi-klarifikasi oleh BEM berbagai Universitas yang namanya dicatut oleh BEM Bersatu, berikut di antaranya!

Klarifikasi BEM FTI UBSI

Melalui akun @bemftiubsi di Instagram, BEM Fakultas Teknik Universitas Bina Sarana Informatika (FTI UBSI) menegaskan bahwa organisasi mereka sama sekali tak terlibat dalam kegiatan BEM Bersatu.

Bahkan, BEM FTI UBSI juga menegaskan tidak pernah memberikan mandat kepada pihak mana pun untuk mewakili organisasi menghadiri dalam konferensi pers tersebut, termasuk mengirimkan perwakilan untuk berpartisipasi..

“Sehubungan dengan pemberitaan yang mencantumkan nama BEM FTI UBSI dalam konferensi pers terkait dugaan keterkaitan Letjen (Purn) Setyo Sularso dan Tiyo Ardianto, kami menyampaikan bahwa BEM FTI UBSI tidak pernah menghadiri maupun mengirimkan perwakilan pada konferensi pers tersebut,” tulis pernyataan BEM FTI UBSI.

Menariknya, terdapat salah satu mahasiswa yang mengklaim dirinya perwakilan dari BEM FTI UBSI. Melihat hal ini, FTI UBSI mengklarifikasi bahwa Ahmad bukan perwakilan resmi dari mereka.

Terkait hal ini BEM FTI UBSI menyatakan tidak memiliki pengurus, anggota, maupun ketua bernama Ahmad sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan.

“BEM FTI UBSI tidak memiliki pengurus, anggota, maupun ketua bernama ‘Ahmad’ sebagaimana yang disebutkan dalam pemberitaan terkait,” bunyi salah satu poin klarifikasi resmi BEM FT UBSI.

BEM UNJ Bantah Terlibat di BEM Fakultas Bersatu

Sementara itu, BEM Fakultas Psikologi UNJ melalui akun @bemfpsiunj di Instagram juga menegaskan tidak pernah memberikan persetujuan kepada siapa pun untuk mewakili organisasi dalam konferensi pers tersebut.

“BEM FPsi UNJ tidak pernah memberikan persetujuan kepada pihak tersebut untuk mewakilkan dan menggunakan nama BEM FPsi UNJ,” demikian pernyataan organisasi itu.

Meski demikian, BEM FPsi UNJ mengakui terdapat sivitas akademika bernama Ahmad Ghazy yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Namun, Ahmad Ghazy disebut merupakan alumni angkatan 2020 dan bukan bagian dari kepengurusan aktif BEM FPsi UNJ periode 2026.

BEM FPsi UNJ Minta Orang Yang Mengaku Mahasiswa UNJ Agar Minta Maaf

BEM FPsi UNJ juga meminta Ahmad Ghazy yang mengaku mahasiswa padahal sudah lulus agar menyampaikan permintaan maaf karena dinilai telah mencatut nama lembaga.

STIAMI Tegaskan Tidak Terlibat di BEM Bersatu

Senada, BEM Institut STIAMI lewat akun Instagram @bemstiami_official menyatakan tidak terdapat lembaga bernama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI sebagaimana disebut dalam daftar peserta konferensi pers.

Karena itu, seluruh pernyataan maupun pandangan yang disampaikan oleh pihak yang mengatasnamakan lembaga tersebut dinilai menjadi tanggung jawab pribadi.

BEM Institut STIAMI juga menegaskan tidak pernah tergabung dalam aliansi yang mengatasnamakan “BEM Bersatu” maupun aliansi lain tanpa keputusan resmi organisasi.

Dalam daftar peserta konferensi pers, terdapat nama Rezky Anandar yang mengaku berasal dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI.

“Perlu kami tegaskan bahwa di lingkungan Institut STIAMI tidak terdapat lembaga yang bernama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI,” tulis BEM Institut STIAMI melalui akun Instagram resminya.

UNPAM Minta Kampus Tindak Tegas Mahasiswa Ngaku BEM Bersatu

Sementara itu Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Pamulang (KBN UNPAM) membantah ada pengurus atau anggota KBM UNPAM mereka terlibat di BEM Bersatu. KBN UNPAM meminta pihak rektorat mengambil tindakan terhadap sejumlah mahasiswa yang tampil dalam konferensi pers BEM Bersatu dengan membawa nama BEM Unpam.

KBM menilai penggunaan nama organisasi tersebut tidak memiliki dasar karena BEM Unpam sudah lama tidak aktif.

Koordinator KBM Unpam, Haikal Indra, menanggapi kehadiran sejumlah mahasiswa dalam konferensi pers yang digelar aliansi BEM Bersatu. Menurutnya, pihak yang hadir bukan representasi resmi mahasiswa Unpam.

Haikal mengatakan BEM Unpam telah lama dibekukan atau tidak lagi menjalankan aktivitas organisasi sebagaimana mestinya. Karena itu, ia mempertanyakan penggunaan nama lembaga dalam forum publik.

“Yang perlu digarisbawahi, BEM Unpam sudah lama dibekukan atau nonaktif sejak peristiwa penolakan Wakapolri masuk ke dalam kampus,” kata Haikal kepada TribunTangerang.com, Rabu (17/6/2026).

Ia mengakui individu bernama Alfi Abdillah yang hadir dalam konferensi pers tersebut memang tercatat sebagai mahasiswa aktif di Unpam.

Namun, menurutnya, status sebagai mahasiswa tidak serta-merta memberikan legitimasi untuk mengatasnamakan organisasi yang sudah tidak aktif.

“Kami menyayangkan ada orang yang mengatasnamakan BEM Unpam. Yang bersangkutan memang benar kuliah di Unpam,” ujarnya.

KBM Unpam, lanjut Haikal, melakukan penelusuran terhadap sejumlah nama yang muncul dalam konferensi pers tersebut. Dari hasil penelusuran internal, beberapa di antaranya diketahui pernah terlibat dalam organisasi kemahasiswaan tingkat program studi.

“Ketika kami cek, beberapa orang yang ikut dalam konferensi pers tersebut pernah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Manajemen Unpam dan pernah mencalonkan dirinya menjadi ketua himpunan,” kata Haikal.

Atas dasar itu, KBM Unpam meminta pihak kampus untuk memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Mereka menilai penggunaan nama organisasi yang tidak aktif berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik.

“Kami meminta kepada rektorat untuk mengambil sanksi tegas kepada orang-orang yang ada di konferensi pers tersebut,” ucapnya.

Menurut Haikal, langkah tersebut diperlukan agar tidak ada pihak yang mengklaim mewakili organisasi kemahasiswaan tanpa dasar yang jelas.

Ia menilai representasi mahasiswa harus dilakukan melalui mekanisme yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.

BEM Bersatu Serang Gerakan Mahasiswa Telah Kehilangan Arah

Dalam konferesi persnya BEM Bersatu sebelumnya juga mengklaim bahwa pergerakan mahasiswa saat ini mulai kehilangan arah, minim kajian, lemahnya substansi, dan ketidakjelasan substansi tuntutan. Bahkan, mereka menyatakan penolakan mahasiswa ditunggangi politik praktis.

BEM Bersatu Tolak Intervensi Politik Praktis

Perwakilan BEM Bersatu sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun Rahmat Djimbula menuding adanya bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis.

“Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” ujar Rahmat Djimbula dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Selain mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kelompok itu juga mendorong pengusutan kasus korupsi tanpa pandang bulu dan meminta gerakan mahasiswa tetap independen dari intervensi politik.

Mereka menyampaikan tiga tuntutan, yakni sterilisasi gerakan mahasiswa dari intervensi politik praktis, dukungan terhadap program MBG dengan perbaikan tata kelola, serta pengawalan terhadap proses penegakan hukum terhadap koruptor secara objektif.

BEM Bersatu Tuding Demo Mahasiswa Ditunggangi PDIP

BEM Bersatu menuding bahwa aktor demonstrasi mahasiswa adalah eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto. BEM Bersatu juga menuduh PDIP menunggangi gerakan massa.

BEM Bersatu mengungkit mobil yang ditumpangi Tiyo yang terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.

BEM Bersatu lantas mengungkap status Setyo sebagai besan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Adapun, Ganjar adalah politikus dari PDI Perjuangan dan sempat diusung partai yang sama pada Pilpres 2024.

BEM Bersatu juga mengaitkan kehadiran politisi PDI Perjuangan Andi Widjajanto di tengah demonstrasi mahasiswa, sehingga mengaitkan aksi massa ditunggangi kepentingan partai.

Adapun nama-nama perwakilan yang hadir sebagai berikut:

Leave a Reply