Teheran, EDITOR.ID – Sejumlah media mainstream dan media resmi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026. Laporan menyebutkan ia tewas akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.
Ribuan orang pelayat berpakaian hitam berkumpul di Enghelab (Revolution) Square, Teheran, serta di kompleks makam Imam Reza di Mashhad untuk memberikan penghormatan terakhir.
Para pelayat membawa bendera Iran dan foto Ali Khamenei saat mengiringi prosesi tersebut, dan Pemerintah Iran mengumumkan selain masa berkabung nasional selama 40 hari sekaligus bendera setengah tiang dikibarkan di seluruh penjuru negeri sebagai tanda penghormatan.
Kematian pemimpin berusia 86 tahun ini memicu reaksi global, termasuk pengumuman dari Presiden AS Donald Trump yang menyebutnya sebagai titik balik bagi rakyat Iran. Sementara itu, militer Iran (IRGC) telah bersumpah akan melakukan serangkaian serangan pembalasan.
Suasana duka yang mendalam saat ini menyelimuti Iran di dua lokasi utama:
1. Enghelab (Revolution) Square, Teheran
Lautan Massa dari ribuan warga Teheran memadati Enghelab Square, jantung simbolis kota, untuk berkabung dan memberikan penghormatan terakhir.
Banyak pelayat terlihat menangis sambil membawa foto mendiang Ali Khamenei dan bendera Iran.
Di tengah duka, massa juga meneriakkan yel-yel dukungan terhadap militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai bentuk solidaritas nasional pascaserangan.
2. Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad
Mashhad, yang merupakan kota kelahiran Khamenei, menjadi pusat perhatian karena adanya rencana prosesi pemakaman besar.
Mengingat tradisi sebelumnya pada pemakaman Presiden Ebrahim Raisi, diperkirakan jutaan orang akan memadati area sekitar Makam Imam Reza.
Peziarah dari berbagai daerah mulai berdatangan ke kompleks makam suci ini untuk mendoakan “Rahbar” (pemimpin) mereka. Suasana di dalam kompleks sangat khidmat dengan pembacaan Al-Qur’an dan doa-doa khusus.
Detik-detik tewasnya Ali Khamenei
Mengulik dari media Al Jazeera, Khamenei tewas akibat serangan udara presisi (air strike) di kantor sekaligus kediaman resminya (Beit Rahbari) di pusat Teheran. Operasi ini merupakan serangan gabungan antara militer Israel (IAF) dengan dukungan intelijen AS.
Operasi ini dinamakan “Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS dan “Roaring Lion” oleh pihak Israel.
Target Utamanya kompleks kediaman dan kantor Ali Khamenei (Leadership House) di pusat kota Teheran.
Kekuatan serangan dilaporkan sekitar 30 bom presisi dijatuhkan ke kompleks kediaman tersebut oleh ratusan jet tempur Angkatan Udara Israel dengan dukungan logistik dan intelijen Amerika Serikat.
Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ini melibatkan total 125 pesawat.
Dari jumlah tersebut, sekitar 52 unit merupakan pesawat pengisian bahan bakar (tanker), sementara sisanya mencakup jet tempur, pesawat intelijen, pengawasan, dan pengintaian.
Serangan dilaporkan meratakan seluruh bangunan di kompleks kediaman (Leadership House) hingga ke tanah.
Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan berskala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada hari Sabtu, 28 Februari 2026.
Presiden AS Donald Trump adalah pihak pertama yang mengumumkan kematian tersebut melalui unggahan di Truth Social, menyebutnya sebagai “keadilan bagi rakyat Iran”.
Gedung Putih menyatakan operasi dilakukan setelah negosiasi mengenai program nuklir Iran gagal dan adanya ancaman serangan preemptive dari Iran terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut.
Pentagon dan U.S. Central Command (CENTCOM) menyebut ini sebagai konsentrasi kekuatan tempur Amerika terbesar di kawasan tersebut dalam satu generasi, melibatkan serangan udara presisi dan penggunaan pesawat nirawak (drone).
Reaksi Rusia: Pemerintah Rusia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan tersebut sebagai “tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan” dan memperingatkan risiko bencana di Timur Tengah.
Media pemerintah Iran (IRIB/Fars) mengonfirmasi kematian tersebut beberapa jam kemudian, menyebut Khamenei telah “syahid” dan menetapkan 40 hari masa berkabung nasional.
Stasiun televisi Israel (Channel 12) mengonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Selain itu, putri, menantu, dan cucunya juga dilaporkan menjadi korban jiwa.
Serangan tersebut juga menewaskan beberapa pejabat tinggi, termasuk tokoh senior IRGC dan penasihat keamanan di lokasi yang sama.
The Washington Post memberitakan waktu kejadian serangan terjadi pada Sabtu malam, dan media pemerintah Iran (IRIB) mengonfirmasi kematiannya pada Minggu pagi, 1 Maret 2026.
Kantor berita BBC memberitakan, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk memicu perubahan rezim dan memberikan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih negara mereka.
Media pemerintah Iran (IRINN dan IRNA) telah mengumumkan kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai “kemartiran” akibat tindakan kriminal rezim Zionis dan AS.
Serangan Balasan Iran pasca Ali Khamenei diketahui telah tewas
Iran telah meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke arah pangkalan militer AS di kawasan Teluk (Bahrain, Qatar, UEA) serta wilayah Israel (Tel Aviv dan Yerusalem).
Rincian respons militer Iran yang dilaporkan
Serangan Balasan Iran berupa “hujan” rudal dilakukan militer Iran yang langsung melancarkan serangan balasan besar-besaran yang menargetkan 27 pangkalan militer milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Deklarasi Perang oleh Pemerintah Iran
Presiden Iran secara resmi menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei merupakan sebuah deklarasi perang dan bersumpah akan melakukan pembalasan dendam yang setimpal.
Sumpah Garda Revolusi (IRGC)
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengeluarkan pernyataan resmi untuk melancarkan balasan besar di tengah masa berkabung nasional yang ditetapkan selama 40 hari.
Mobilisasi di Titik Strategis
Meskipun Teheran terus menjadi sasaran serangan udara lanjutan oleh militer Israel yang menyasar markas-markas rezim, militer Iran tetap berupaya melakukan  konsolidasi internal dan memperkuat pertahanan di jantung kota.
Instruksi Darurat Nasional
Sebelum peristiwa tersebut, Khamenei dikabarkan telah mengeluarkan instruksi darurat mengenai struktur komando nasional dan suksesi militer untuk memastikan keberlanjutan operasi tempur jika dirinya tewas.
Sementara kondisi Teheran pasca kematian pemimpin tertinggnya dilaporkan oleh DW.com, telah terjadi perpecahan reaksi di masyarakat, sebagian warga turun ke jalan untuk berkabung, sementara yang lain dilaporkan merayakan peristiwa tersebut di beberapa wilayah. (*)












