Kapal PPA ini juga bisa diubah sebagai kapal fregat sejenis FREMM (Frigate European Multi-Mission).
Pengadaan kapal PPA oleh Indonesia rupanya diiringi dengan paket offset yang komprehensif. Paket offset tersebut mencakup berbagai aspek seperti konsultasi pengembangan galangan kapal, strategi bisnis jangka panjang, peningkatan fisik galangan kapal, penyampaian materi didaktik, serta kursus pelatihan kelas di Italia yang berdurasi enam bulan.
Selain itu, dukungan pengelolaan aset modernisasi galangan kapal, pelatihan manajemen, pusat pelatihan simulator, pengembangan jalur pelatihan di Universitas Pertahanan, serta pembentukan tim ahli lokal untuk pengembangan peluang langsung dan tidak langsung juga termasuk dalam paket offset.
Kemhan RI diketahui telah memenuhi semua syarat yang diperlukan untuk efektifitas dan masa berlaku kontrak.
Pihak Fincantieri juga telah mendapatkan persetujuan dari OCCAR (Organisation Conjointe de Coopération en matière d’Armement/Organisation for Joint Armament Cooperation) Italia dan Angkatan Laut Italia untuk penjualan kapal tersebut kepada Indonesia.
Kapal PPA yang dipesan Indonesia memiliki kemampuan multi-misi dan dilengkapi dengan teknologi terkini. Kemungkinan penempatan dua unit kapal patroli multiguna atau multipurpose Offshore Patrol Vessel (OPV) buatan Italia di Koarmada II.
Laporan Fincantieri menyebut bahwa Kemenhan membeli dua kapal patroli lepas pantai kelas Paolo Thaon itu dengan dana 1,18 juta euro atau sekitar Rp 20,3 triliun.
Pengadaan dua kapal tersebut merupakan langkah maju bagi Kemhan RI dalam mewujudkan pertahanan maritim yang tangguh.
Kedatangan kapal diharapkan akan semakin meningkatkan kemampuan TNI AL dalam menjaga kedaulatan wilayah dan memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas keamanan regional. (*)












