“Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi”: Cara Chairil Anwar Menafkahi Putrinya dari Balik Kubur

Pernyataan putri tunggal Chairil Anwar, Evawani di Karet Bivak  pada 28 April 2026 sangatlah mendalam. Kalimat tersebut memiliki dua makna besar: Secara finansial (royalti) diperolehnya adalah bukti nyata bahwa karya sastra yang berkualitas bersifat abadi. Meskipun Chairil Anwar telah tiada puluhan tahun lalu, buku-bukunya seperti "Deru Campur Debu" atau "Aku" terus dicetak ulang dan dipelajari.  Royalti ini menjadi "warisan hidup" yang secara fisik menyokong hidup putri tunggalnya.

Jakarta, EDITOR.ID – Kisah haru Evawani Alissa mencari jejak ayah di antara Deru Campur Debu. Pelukan yang tertunda 77 tahun mengenyam warisan Si Binatang Jalang.

Evawani Alissa (sering ditulis Evawarni dalam beberapa konteks) adalah putri tunggal dari penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar, hasil pernikahannya dengan Hapsah Wiraredja, mereka menikah pada 6 Agustus 1946, sebelum akhirnya bercerai.

Terdapat foto ikonik yang menampilkan Chairil Anwar bersama putrinya yang masih kecil, Evawani. Evawani menuturkan bahwa ia dipesankan untuk memanggil Chairil dengan sebutan namanya langsung, bukan ayah, karena Chairil merasa masih sangat muda dan ingin berteman dengan anaknya, cerita Evawani sering berbagi mengenai sosok ayahnya dalam berbagai acara literasi.

Evawani dan ayahnya, Chairil Anwar, memang selalu menyentuh hati, diungkapkannya pada momen di Karet Bivak dalam peringatan 77 tahun wafatnya Si Binatang Jalang merangkum sebuah ironi yang indah sekaligus getir.

Evawani yang kini sudah meraih Sarjana Hukum adalah putri tunggal Chairil Anwar. Ia kangen sepanjang masa pada ayahnya itu, karena merasa tidak sempat mengenal,  mengenal ayahnya lewat royalti dan buku pelajaran.

Mengapa Evawani merasa “kangen sepanjang masa” dan detail mengenai pengalamannya menemukan identitas sang ayah? Alasan utamanya adalah faktor usia dan waktu. Wafat di usia muda Chairil Anwar meninggal dunia pada 28 April 1949 dalam usia yang masih sangat muda, yakni 26 tahun.

Saat sang ayah wafat, Evawani baru berusia sekitar 1 tahun 10 bulan. Pada usia tersebut, memori kognitif seorang anak belum terbentuk dengan sempurna untuk bisa mengingat interaksi secara personal.

Ia tumbuh besar hanya melalui cerita-cerita orang lain dan karya-karya besar ayahnya, tanpa pernah memiliki ingatan langsung tentang suara, aroma, atau hangatnya pelukan sang ayah di masa kecilnya.

Rupanya Evawarni baru tahu bahwa ayahnya tokoh besar saat sekolah. Rahasia di balik foto gendongan Chairil Anwar dalam momen penemuan identitas di ruang kelas terungkap sosok misteri bayi dalam buku teks,  Evawani pun menemukan sosok ayahnya di tengah pelajaran sekolah. Kisah Evawani mengetahui siapa ayahnya adalah salah satu fragmen paling ikonik dalam sejarah sastra Indonesia:

Tanpa Penjelasan Keluarga

Selama masa kecilnya, Ibu Evawani tidak diberitahu secara gamblang oleh ibunya (Hapsah Wiraredja) bahwa ia adalah putri dari penyair paling fenomenal di Indonesia.

Saat duduk di bangku sekolah (konon saat SD), Evawani baru tahu kalau ia putri Chairil Anwar ketika gurunya mengajar di kelas, menggunakan buku teks yang di dalamnya ada foto Chairil Anwar.

Yang mengejutkan, dalam foto itu Chairil Anwar sedang menggendong seorang bayi. Dan dalam foto itu Evawani yang masih bayi, ada dalam gendongan pujangga terkenal tersebut, yang sudah Eva kagumi, tanpa tahu siapa sesungguhnya Chairil Anwar.

Evawani mengenali bayi itu adalah dirinya sendiri. Itulah momen di mana ia menyadari bahwa sosok hebat yang sedang dipelajari seluruh kelas adalah ayahnya sendiri.

Kini momen di acara ziarah ke Karet Bivak, memperingati 77 tahun wafatnya Chairil Anwar, adalah ironi indah di Karet Bivak, bagaikan nafas Chairil Anwar yang masih menghidupi putrinya dalam acara memperingati wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 2026, Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi, cara Chairil Anwar Menafkahi putrinya dari balik kubur. Evawarni berucap “Saya sedih sekaligus bangga, sampai hari ini Ayah saya masih ikut membiayai hidup saya lewat royalti-royalti bukunya,”  hal itu menjadikan warisan yang tak pernah habis,  sebagaimana puisi Chairil Anwar menjadi “Tabungan” abadi bagi sang putri, bukan sekadar nama besar ayahnya, Evawani: “Ayah masih ikut membiayai hidup saya.”

Pernyataan Evawani di Karet Bivak  ini sangatlah mendalam. Kalimat tersebut memiliki dua makna besar. Secara finansial (royalti) ini adalah bukti nyata bahwa karya sastra yang berkualitas bersifat abadi. Meskipun Chairil telah tiada puluhan tahun lalu, buku-bukunya seperti Deru Campur Debu atau Aku terus dicetak ulang dan dipelajari.  Royalti ini menjadi “warisan hidup” yang secara fisik menyokong hidup putri tunggalnya.

Ada rasa haru bahwa meskipun Evawani tidak sempat bermanja-manja dengan ayahnya secara fisik, sang ayah hadir  melindunginya melalui nama besar dan karya yang ditinggalkan.

Kalimat ini menunjukkan dualitas perasaan seorang anak Sedih karena kehilangan kesempatan untuk mengenal sosok manusia di balik nama besar itu, namun  Bangga  karena kontribusi ayahnya terhadap bangsa ini begitu besar sehingga namanya tidak pernah benar-benar mati.

Chairil Anwar pernah menulis, Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Melalui Evawani dan royalti karyanya, doa dalam puisi itu terwujud secara nyata. (*)

Leave a Reply