Lampeso, Maros, Sulsel, EDITOR.ID – Mengingat kondisi pegunungan kars di kawasan Gunung Bulusaraung yang curam, dan agar evakuasi korban mengedepankan efisiensi waktu dan juga keamanan Anggota Tim gabungan. Disepakati evakuasi menggunakan Helikopter dikarenakan melalui jalur darat sangat sulit dan memakan waktu lama.
Hal itu dilakukan terhadap korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang pertamakali diketemukan. Jenazah dijemput menggunakan helikopter di wilayah Kampung Lampeso, Kabupaten Maros, pada Rabu pagi, 21 Januari 2026, atas perimbangan kondisi geografis, cuaca dan situasi di lapangan
Lokasi penemuan jenazah berada di lereng dan jurang Gunung Bulusaraung dengan kedalaman sekitar 200 hingga 350 meter.
Helikopter Basarnas jenis Dauphin HR-3601 digunakan untuk mempercepat proses pemindahan jenazah dari titik evakuasi di persawahan atau kaki gunung langsung menuju Lanud Sultan Hasanuddin.
Sebelumnya, proses evakuasi sempat tertunda selama beberapa hari akibat cuaca ekstrem dan kabut tebal di area pegunungan yang membahayakan tim SAR jika dipaksakan melalui jalur darat.
Kampung Lampeso atau area persawahan di Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana, dipilih sebagai titik penjemputan karena merupakan area terbuka terdekat yang memungkinkan helikopter untuk mendarat atau melakukan proses hoisting setelah jenazah dibawa turun oleh tim SAR darat dari puncak gunung.
Desa Rompegading juga dikenal sebagai desa wisata, yang memiliki potensi alam seperti Air Terjun Lacolla di dusun terdekat, meskipun akses jalannya mungkin menantang
Sebelumnya, korban telah dievakuasi secara manual oleh tim SAR dari dasar jurang sedalam 200 meter di Bukit Bulusaraung ke punggungan Lampeso pada Selasa, 20 Januari 2026.
Helikopter lepas landas dari Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 07.47 WITA dan tiba di Biddokkes Polda Sulawesi Selatan dengan membawa jenazah pada pukul 08.54 WITA.
Korban yang dievakuasi merupakan seorang laki-laki. Meskipun ada laporan identifikasi pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono pada hari yang sama, jenazah pertama yang diangkat menggunakan helikopter dari Lampeso dikonfirmasi berjenis kelamin laki-laki.
Proses evakuasi udara ini dilakukan setelah kondisi cuaca di wilayah Maros-Pangkep dinyatakan mendukung bagi penerbangan helikopter Basarnas.
kemudian jenazah segera dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim DVI.
Hingga saat ini, proses pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan di medan yang terjal dan ekstrem di sekitar puncak perbukitan tersebut.
Sebelumnya, korban telah dievakuasi secara manual dari dasar jurang sedalam 200 meter ke punggungan Lampeso pada Selasa malam.
Evakuasi korban yang pertamakali diketemukan di Maros–Pangkep, Tim SAR mengklaim bertahan 30 Jam di Jurang
Proses evakuasi di pegunungan Bulusaraung dikenal kondisinya sangat ekstrem. Tim SAR gabungan menuruni jurang sedalam sekitar 100 meter menggunakan teknik rappeling.
Sebanyak 10 personel dari Basarnas, Kopasgat TNI AU, BPBD, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam melakukan penyisiran mengikuti alur air sejauh 200 meter. Korban pertama, seorang laki-laki, ditemukan pukul 13.43 WITA tersangkut di dahan pohon di kemiringan tebing sekitar 30 derajat.
Proses packing jenazah memakan waktu satu jam. Upaya evakuasi ke atas sejauh 60 meter terhambat hujan deras dan keterbatasan peralatan. Tim akhirnya mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat, dipilih Lampeso.
Cuaca buruk memaksa tim bermalam di lereng tebing yang rawan longsor. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama sekitar 30 jam. Pada 19 Januari, estafet evakuasi dilakukan demi keselamatan tim.
Jenazah dibawa melalui Kampung Lampeso, Desa Lampeso, hingga jalan poros Kecamatan Cenrana, lalu dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi DVI.
Pada Selasa (20/01/2026), tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban kedua berjenis kelamin perempuan dari jurang sedalam sekitar 350 meter. Evakuasi dilakukan dengan teknik vertical rescue di tengah medan terjal, hujan, dan kabut tebal.
Korban kemudian dibawa ke Posko Tompobulu untuk diserahkan ke tim DVI. Operasi SAR melibatkan 1.075 personel dari berbagai unsur, didukung helikopter, pesawat intai, dan drone thermal.
Tim SAR menegaskan bahwa pencarian korban lainnya akan terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel.
Pesawat ATR 42-500 dengan rute Yogyakarta–Makassar ini jatuh setelah menabrak lereng di kawasan Gunung Bulusaraung. Kondisi medan yang terjal dan hutan lebat di area Lampeso menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.
Hingga 21 Januari 2026, jenazah yang telah dievakuasi dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim DVI Polda Sulsel. (*)










