10 Ribu Naskah Kuno Aceh Dijarah, Sejarah Sengaja Diputarbalikkan Belanda? Ini Fakta Mengejutkannya!

Foto ini menampilkan Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional perempuan asal Aceh, sesaat setelah ditangkap oleh Belanda pada tahun 1905.Dalam foto tersebut, Cut Nyak Dhien terlihat renta, letih, dan hampir buta, duduk di tengah para pengikut setianya.Setelah penangkapannya, ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, untuk mencegah pengaruhnya menyebarkan semangat perlawanan kepada rakyat Aceh.Ia wafat dalam pengasingan di Sumedang pada tahun 1908 dan dimakamkan di sana.

Jakarta, EDITOR.ID — Belanda sembunyikan ini delama 100 Tahun berbohong di balik Perang Aceh akhirnya terbongkar!

Manipulasi sejarah dari sudut pandang penjajah menuju kebenaran hakiki selama ini, narasi sejarah Perang Aceh (1873–1914) yang diwariskan oleh kolonial Belanda dipenuhi dengan distorsi.

Sekitar 10 ribu naskah kuno Aceh dicuri dan dibawa ke Belanda, sebuah tindakan yang diduga kuat untuk memutus generasi muda Aceh dari akar sejarahnya.

Dalam studi sejarah modern, saat ini sedang terjadi transisi besar: mengubah sudut pandang Erosentris (kacamata kolonial Belanda) menjadi Indonesiasentris (kacamata perjuangan bangsa).

Dicap Pengkhianat oleh Kolonial, Taktik ‘Mata-Mata’ Pejuang Aceh Ini Bikin Belanda Rugi Bandar

4 manipulasi sejarah terbesar Belanda yang kini mulai terungkap kebenarannya:

1. Stigmatisasi Pejuang sebagai “Pemberontak” dan “Perompak”

Narasi Belanda: Dalam dokumen militer abad ke-19, tokoh-tokoh besar seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, dan Panglima Polem dilabeli sebagai fanatiki (orang fanatik yang membabi buta), rover (perompak), atau opstandelingen (pemberontak).

Fakta Sebenarnya: Label negatif ini sengaja diciptakan untuk melegitimasi agresi militer Belanda di mata dunia internasional. Belanda ingin dicitrakan sedang melakukan “misi perdamaian dan pemberadaban”, padahal mereka sedang menjajah kerajaan berdaulat yang diakui dunia.

2. Glorifikasi “Pahlawan” Palsu vs Pembantaian Massal

Narasi Belanda: Jenderal J.B. van Heutsz dipuja-puji di Belanda sebagai pahlawan besar dan pembawa kedamaian (pasifikator). Namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan dan monumen di sana.

Fakta Sebenarnya: “Prestasi” Van Heutsz diraih dengan cara yang sangat keji, mulai dari taktik bumi hangus hingga pembantaian massal warga sipil (termasuk perempuan dan anak-anak di Kuta Reh di bawah komando G.C.E. van Daalen).

Belanda juga licik dengan menyandera keluarga pejuang agar mereka menyerah. Berita kebrutalan ini sempat disensor ketat dari koran-koran Eropa demi menjaga citra Belanda.

3. Jasa “Mata-Mata” Snouck Hurgronje dalam Memecah Belah

Narasi Belanda: Catatan kolonial sering kali mengecilkan arti perlawanan rakyat Aceh dengan menyebut konflik tersebut hanyalah masalah “perpecahan internal” antar-golongan.

Fakta Sebenarnya: Perpecahan itu adalah hasil desain licik Snouck Hurgronje. Orientalis Belanda ini menyusup ke Aceh dengan memalsukan identitas sebagai “Abdul Ghaffar”. Doktrin hasil analisis sosiologisnya digunakan Belanda untuk memecah belah kaum Ulama (pemimpin agama/ideologis) dengan kaum Uleebalang (bangsawan / politik) guna melemahkan persatuan rakyat.

4. Cap “Pengkhianat” untuk Strategi Intelijen Teuku Umar

Narasi Belanda: Belanda mencatat aksi Teuku Umar sebagai pengkhianat besar (het verraad van Teuku Umar). Ia dianggap tidak terhormat dan licik tanpa moral karena membelot kembali ke kubu Aceh.

Fakta Sebenarnya: Teuku Umar melakukan strategi undercover (pura-pura menyerah) yang sangat brilian. Setelah mendapat kepercayaan Belanda dan diberi gelar “Teuku Umar Johan Pahlawan”, beliau membawa lari ratusan senjata, ribuan butir amunisi, dan uang tunai milik Belanda untuk memperkuat logistik gerilya rakyat Aceh.

Apa yang viral di platform TikTok melalui narasi Van De Meer sangatlah beralasan. Sejarah memang kerap ditulis oleh pemenang perang (history is written by the victors).

Beruntung, saat ini banyak sejarawan modern baik dari Indonesia maupun sejarawan objektif dari Belanda sendiri yang mulai membongkar arsip lama (Archives) di Den Haag.

Kebenaran perlahan terungkap, meluruskan betapa heroik, berdarah-darah, dan mahalnya harga yang harus dibayar oleh rakyat Aceh demi mempertahankan tanah air mereka. (*)

Leave a Reply