Jakarta, EDITOR.ID,- Perang antara Iran versus Israel di kawasan Timur Tengah makin memanas. Kedua negara saling menembakkan rudal mereka menyasar ke kawasan strategis hingga mengakibatkan sejumlah obyek vital hancur termasuk kilang minyak. Jika perang ini dibiarkan dan tak kunjung mereda maka akan memicu harga minyak meroket.
Konflik Iran-Israel di Timur Tengah hingga hari keenam terus memanas bahkan meluas. Kedua negara saling serang. Perang ini berpotensi menyebabkan harga minyak diprediksi bisa menembus US$ 100 per barel.
Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi memprediksi harga minyak bisa terkerek hingga US$ 100 per barel karena di timur tengah banyak sekali negara produsen minyak yang berpotensi terseret ke konflik antara Iran dan Israel.
Jika Iran terus melancarkan serangan ke Israel, otomatis fokus negeri ini akan disibukkan dengan persiapan perang jangka panjang. Akibatnya pasokan minyak akan berkurang dan harganya meningkat. Karena selama ini Iran adalah produsen besar untuk minyak dan gas di dunia.
“Nah, kalau asumsinya perang ini meluas gitu ya, melibatkan negara seperti Saudi misalnya, atau juga Yordania gitu ya, atau kemudian Irak bergabung dengan Iran gitu ya, maka ini akan semakin menaikkan harga minyak dunia gitu ya,” sebut Fahmy sebagaimana dilansir dari detikcom, Selasa (17/6/2025).
“Kalau Perang tadi meluas, eskalasinya luas gitu ya, maka ini akan menaikkan, bahkan bisa di atas US$ 100 dolar per barrel gitu ya. Karena tadi ini melibatkan negara penghasil minyak,” sebutnya menambahkan.
Bukan cuma perang yang perlu diwaspadai, bahaya juga mengintai Selat Hormuz di Iran yang menjadi alur logistik utama perdagangan minyak. Bila selat itu terganggu perang, harga minyak juga bisa meroket lagi.
“Nah, kalau kemudian Perang menyebabkan Lautan Selat Hormuz itu terhambat, yang di situ adalah pelayaran untuk pengangkutan minyak, maka akan semakin pasokannya semakin berkurang, dan ini akan menaikkan harga minyak tadi,” sebut Fahmy.
Demikian pula kilang minyak Israel di Haifa juga porak poranda dihantam rudal Iran. Perang ini mengakibatkan kerugian besar di kedua negara. Serangan rudal yang ditembakkan Israel dan Iran sama-sama menargetkan kilang minyak.
Dilansir Aljazeera, Minggu (15/6/2025), kementerian perminyakan Iran mengatakan kilang minyak di Isfahan diserang oleh Israel. Namun, kilang minyak tetap aktif sepenuhnya
Kantor berita semi-resmi ISNA melaporkan bahwa semua unit operasional, fasilitas, dan departemen kilang minyak berada dalam kondisi stabil .
“Para karyawan kompleks ini, dengan upaya dan komitmen mereka yang terus-menerus, melanjutkan proses produksi dan penyediaan bahan bakar ke negara itu tanpa gangguan,” bunyi pernyataan yang dikutip kantor berita tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah serangan yang dilaporkan terjadi di kota itu.
Iran juga menyerang kilang minyak Haifa Israel. Serangan ini menyebabkan kerusakan.
Perusahaan Israel, Bazan, yang mengoperasikan kilang minyak di kota utara Haifa mengatakan telah terjadi kerusakan “lokal” pada jaringan pipa dan jalur transmisi di kompleks itu selama serangan Iran semalam, menurut media Israel.
Perusahaan itu mengatakan kilang minyaknya terus beroperasi. Walaupun begitu beberapa fasilitas lain telah ditutup. Dikatakan bahwa mereka masih menilai implikasi kerusakan tersebut.
Laporan itu muncul ketika media Israel mengatakan pasukan Iran telah menembakkan sekitar 80 rudal ke Israel semalam, termasuk 40 di bagian utara negara itu, tempat Haifa berada.
Harga BBM di RI Bisa Naik
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri Diprediksi bakal naik apabila hingga akhir bulan ini konflik terus menerus memanas dan bahkan eskalasinya meluas ke beberapa negara lain yang jadi sekutu Iran maupun Israel.
Fahmy melanjutkan harga BBM non subsidi menjadi yang paling cepat mengalami kenaikan. Sebab, BBM jenis ini dijual mengikuti pergerakan pasar. Bila harga minyak dunia terus menguat bukan tidak mungkin Pertamax Cs bakal mengalami kenaikan.
“Untuk harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax itu selama ini kan sudah diserahkan pada mekanisme pasar gitu, pada saat harga minyak mentahnya sudah naik, ya pasti dia akan menaikkan,” sebut Fahmy.
Untuk BBM subsidi, semacam Pertalite, dia menilai jangan buru-buru dinaikkan harganya. Sebab, hal itu jelas akan menaikkan inflasi dan menekan daya beli di tengah masyarakat.
Menurut Fahmy selama harga minyak mentah dunia masih berada di bawah US$ 100 per barel sebisa mungkin pemerintah menahan harga BBM subsidi. Namun apabila sudah lebih dari US$ 100 per barel, mau tak mau harga BBM subsidi dinaikkan agar APBN tak terbebani.
Di sisi lain, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan sejauh ini harga minyak masih di rentang US$ 73-75 per barel. Menurutnya, jumlah itu masih jauh di bawah rentang harga minyak asumsi makro dalam APBN 2025 yang ditetapkan sebesar US$ 82 per barel.
Dia menilai selama harga minyak mentah masih di bawah US$ 82 per barel pemerintah tak perlu menaikkan harga BBM subsidi. Namun, kalau harga minyak sudah lebih US$ 82 per barel, meskipun masih di bawah US$ 100 per barel, maka sudah saatnya kenaikan harga BBM subsidi diberlakukan.
“Selama harga minyak ini tidak mengalami peningkatan signifikan atau dalam hal ini mengalami peningkatan di atas US$ 82 per barel maka saya kira pemerintah belum perlu melakukan penyesuaian harga BBM karena kondisi subsidi masih mengacu pada asumsi makro yang ditetapkan pada APBN,” papar Rendy ketika dihubungi detikcom.
Saran ke Pemerintah
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menekankan efek ke APBN bisa sangat besar apabila subsidi BBM meningkat di tengah penerimaan negara yang seret. Dia menegaskan hal ini harus jadi perhatian khusus dari pemerintah.
“APBN efeknya adalah kalau subsidi-nya terlalu melebar ya ini bisa membuat defisit APBN-nya juga makin meningkat di tengah penerimaan negara itu mengalami tekanan jadi situasi ini memang harus terus dimonitor oleh pemerintah dan disiapkan berbagai langkah mitigasi-mitigasinya,” beber Bhima kepada detikcom.
Pemerintah harus mulai memitigasi masalah ini, secara politik anggaran harus ada revisi dari APBN karena kenaikan harga minyak mentah sangat fluktuatif dan akan mempengaruhi postur kebijakan dari APBN untuk berbagai pos anggaran.
Lebih lanjut, pemerintah harus menyiapkan strategi untuk mitigasi apabila kenaikan harga BBM subsidi bisa mempengaruhi kenaikan angka kemiskinan. Salah satunya adalah dengan memberikan tambahan bantuan sosial.
“Dan pemerintah juga harus menyiapkan tambahan bansos, tambahan perlindungan sosial pada masyarakat rentan dan masyarakat miskin itu yang harus diantisipasi,” lanjut Bhima.
Penghematan penggunaan BBM subsidi juga bisa didorong dengan pengurangan konsumsi BBM subsidi lewat ajakan kepada masyarakat naik angkutan umum. (tim)












