Jakarta, EDITOR.ID,- Perjuangan aksi demo dan tuntutan keras para aktivis mahasiswa akhirnya mencair usai mereka diterima pemerintah di Istana Negara, Kamis (4/9/2025) malam. Awalnya massa mahasiwa dari berbagai elemen menggelar aksi demo dengan tuntutan 17+8, meminta pemerintah turunkan pajak rakyat dan menghapus berbagai fasilitas tunjangan DPR.
Namun usai pertemuan di Istana, mahasiswa mulai berubah melunak. Bahkan Perwakilan mahasiswa dari berbagai organisasi menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdialog langsung dengan jajaran pemerintah, usai menghadiri silaturahmi.
Lebih dari 30 perwakilan mahasiswa hadir, mulai dari Himapolindo, BEM SI Kerakyatan, Fornasossmass, PB HMI, GMNI, GMKI, PMII, SEMMI, KAMMI, hingga Generasi Muda FKPPI.
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan tersebut. Pertemuan itu berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB yang dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, serta Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro.
Koordinator Media BEM SI Kerakyatan, Pasha Fazillah Afap, menilai undangan silaturahmi tersebut sebagai wujud keterbukaan pemerintah. Ia juga menambahkan bahwa respons pemerintah cukup baik.
“Tadi Bapak Mensesneg sudah memberikan respon yang cukup positif dan segera akan disampaikan ke Bapak Presiden. Kebetulan memang tadi sebetulnya Pak Presiden ingin menemui kami, namun ada acara Maulid di Istiqlal,” ujar Pasha Fazillah.
Senada, Ketua BEM UPN Veteran Jakarta, Kaleb Otniel Aritonang, menyebut pemerintah siap mengakomodasi aspirasi mahasiswa.
Sementara Phalosa dari Universitas Yarsi menegaskan mahasiswa tetap akan mengawal komitmen pemerintah. “Apapun tuntutannya, harus tetap masyarakat dan rekan-rekan mahasiswa kawal,” urainya.
Dari kelompok Cipayung plus, Ketua Umum DPP GMNI, Risyad Fahlefi menekankan pentingnya perlindungan terhadap aktivis. Risyad juga memastikan aspirasi mahasiswa telah diterima dengan baik.
“Ya intinya, aspirasi diterima dan akan ditindaklanjuti secepat-cepatnya melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Kita tunggu saja respons berikutnya dari pemerintah dan DPR,” tuturnya.
Sedangkan, Ketua Umum PB PMII M. Shofiyullah Cokro menilai keterbukaan pemerintah perlu terus dijaga. Menurutnya, mahasiswa mempunyai peran penting dalam setiap kebijakan pemerintah.
“Kendala-kendala yang dihadapi pemerintahan juga bisa disampaikan secara terbuka agar mahasiswa turut membantu, tidak hanya menuntut,” tegasnya.
Lebih lanjut, para mahasiswa pun sepakat bahwa pertemuan ini menjadi langkah awal memperkuat komunikasi dengan pemerintah.
“Pertemuan malam ini memberikan kita semangat untuk terus mengkritik dan mengoreksi bangsa. Kritik adalah bentuk kecintaan masyarakat terhadap negara,” ucap salah satu perwakilan elemen mahasiswa.
Dalam kesempatan itu, Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa sekaligus menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun arah bangsa.
“Terima kasih atas kesediaan hadir malam ini untuk bersama-sama membangun perspektif yang sama tentang bangsa kita. Di tengah dinamika yang terjadi, kita tetap menginginkan Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju dan sejahtera, sejajar dengan negara-negara maju lainnya,” kata Menteri Brian.
Ia menambahkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal arah gerakan mahasiswa agar tetap sejalan dengan pembangunan bangsa.
“Tokoh-tokoh mahasiswa seperti kalian lah yang akan ditunggu oleh rekan-rekan lainnya, bagaimana arah ke depan gerakan mahasiswa, sehingga kita bisa sinergi membangun kebersamaan,” ujarnya.
Sementara itu, Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa di Istana. Ia mengungkapkan, dirinya telah meminta izin langsung kepada Presiden Prabowo untuk menggunakan Istana Negara sebagai ruang dialog tersebut.
“Saya tadi minta izin Bapak Presiden, meskipun bukan beliau yang hadir. Istana itu bukan milik Presiden semata, melainkan milik kita bersama. Karena itu saya ingin bertemu dengan adik-adik, silakan sampaikan apa yang menjadi kehendak kalian,” tutur Pras.
Ia menegaskan, pemerintah siap mendengarkan setiap aspirasi mahasiswa.
“Saya dan kami terus mempelajari apa yang menjadi aspirasi dari seluruh pihak, apalagi dari adik-adik mahasiswa. Jangan terjebak istilah atau diksi, sampaikan saja secara terbuka,” tegasnya. (tim)












