Jakarta, EDITOR.ID,- Peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember besok akan menjadi momen istimewa. Pasalnya Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah mengangkat pahlawan buruh asal Sidoarjo Marsinah mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Marsinah adalah buruh pabrik jam tangan yang meninggal penuh kejanggalan akibat membela teman-temannya yang dipecat perusahaan karena melakukan unjuk rasa.
Konon Marsinah dianiaya dengan sangat mengenaskan karena berani menentang penguasa. Nama Marsinah diabadikan sebagai salah satu tokoh perjuangan hak-hak pekerja. Buruh wanita muda ini menjadi perhatian luas, dan kemudian tercatat dalam sejarah Indonesia setelah ia ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993.
Kondisi jenazahnya yang sangat mengenaskan dan kematiannya yang dianggap tidak wajar dipertanyakan banyak pihak.
Dikutip dari buku Seri Laporan Kasus, Kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah, 10 hari sebelum ditemukan meninggal, Marsinah tampil gigih memperjuangkan nasib 13 rekan kerjanya yang dipecat di kantor Kodim Sidoarjo, usai mengikuti aksi unjuk rasa menuntut perbaikan kondsi kerja di pabrik tempatnya bekerja.
Marsinah lahir di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada 10 April 1969. Ia anak kedua dari tiga bersaudara. Namun, ibunya meninggal saat ia berusia 3 tahun.
Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Nglundo 2, Kecamatan Sukomoro, lalu melanjutkan pendidikan ke SMPN 5 Nganjuk. Sedangkan, pendidikan menengah atas Marsinah ditempuh di SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Ia dikenal sebagai siswa mandiri dan cerdas.
Sejak kecil Marsinah sudah terbiasa menghadapi kesulitan hidup. Saat usia dua tahun Marsinah sudah ditinggal mati ibunya. Setelah ayahnya menikah lagi, ia dipungut anak oleh pamannya. Sejak SD ia sudah bergelut mencari nafkah, berjualan kue selepas sekolah. Kehidupan seperti itu ia jalani hingga lulus SMA Muhammadiyah pada tahun 1989.
Kepahlawanan Marsinah
Selepas SMA ia langsung bekerja karena tidak memiliki biaya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kebiasaan mandiri terus ia tempuh dengan berjualan bahan pakaian, seprei, buku-buku dan barang-barang lain di tempat kerjanya.
Marsinah juga merupakan sosok yang gemar membaca apa saja dari buku dan koran. Di samping itu ia juga mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. Keterbatasan tidak menghalangi tekadnya untuk terus belajar apa saja yang mampu ia jangkau.
Hingga saat ini namanya harum dikalangan kaum buruh. Sebenarnya peristiwa ini bermula dari tuntutan yang sangat sederhana, tuntutan kenaikan upah bagi kaum buruh. Seandainya tuntutan tersebut dikabulkan, maka masalah akan selesai.
Namun kenyataan berkata lain, perusahaan menolak tuntutan yang akhirnya berujung pada unjuk rasa karena beberapa buruh merasa tidak puas, dan Marsinah ikut di dalamnya.
Perusahaan mengancam untuk memecat 13 orang pengunjuk rasa. Marsinah pun tidak bisa tinggal diam, ia balik mengancam akan membongkar rahasia perusahaan jika pemecatan terjadi.
Setelah kejadian tersebut Marsinah gugur dalam keadaan sangat menyedihkan. Ia gugur sebagai seorang pejuang atas nama keadilan dan kemanusiaan. Marsinah juga dinominasikan untuk menerima penghargaan “Yap Thiam Hien Human Right Award” dari Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia di Jakarta.
Lebih dari itu, banyak yang mengusulkan supaya Marsinah diberi gelar pahlawan. Tidak ketinggalan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pun telah menetapkan Marsinah sebagai pahlawan. Sidang Tanwir Muhammadiyah II di Surabaya pada bulan Desember 1993 menetapkan Marsinah sebagai “Pahlawan Pekerja”. Sikap Muhammadiyah tersebut tidak sendirian. Jauh sebelum Muhammadiyah menentukan sikapnya, beberapa kalangan telah memberikan penghargaan serupa.
Sepenggal kisah Marsinah ini setidaknya sudah cukup untuk mewakili nasib jutaan buruh yang banyak dilupakan kepentingan. Berjuang melawan tirani kekuasaan yang tak berkesudahan. Memeras keringat untuk sesuap nasi dan seteguk dahaga sehari kedepan.
“Yang ada disyukuri, jika tidak ada dicari dan diupayakan. Yang terpenting besok kami masih bisa makan”. Sulit bagi mereka untuk berpikir, bermimpi, dan berharap jauh kedepan, jika upahnya hanya cukup untuk mengganjal perut yang sedang lapar.
Keluarga Marsinah Dapat Undangan Pemberian Gelar Pahlawan
Pihak keluarga dari aktivis buruh Marsinah menyebut telah mendapat undangan untuk pemberian gelar pahlawan. Marsini yang merupakan kakak dari Marsinah, akan menghadiri pemberian gelar pahlawan itu besok.
“Sekarang saya bisa bicara karena sudah jelas saya ke sini ini karena diundang juga untuk menerima sertifikat gelar pahlawan,” kata Marsini di kantor Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Marsini menceritakan telah dihubungi terkait pemberian gelar ini beberapa hari lalu. Dirinya sempat bertanya kebanyak pihak karena takut terjebak penipuan.
“Begitu ada ini ada kekhawatiran, ada ketakutan gitu. Nah setelah itu kan di link-nya, di link-nya itu penerima, pendamping penerima,” tuturnya.
Ia menjelaskan telah diminta sejumlah dokumen dalam bentuk digital dalam proses pemberian gelar pahlawan ini. Marsinih juga meminta doa dari masyarakat kepada adiknya tersebut.
“Saya khususnya itu minta doa. Karena Marsinah tidak punya keturunan. Sehingga mendoakan karena hasilnya sudah dinikmati oleh teman-teman. Saya mohon doa untuk Marsinah yang sudah mengorbankan diri,” ungkapnya.
Keluarga Besar Buruh Ucapkan Terima Kasih kepada Prabowo Subianto
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyampaikan terima kasihnya ke Presiden Prabowo Subianto atas pemberian gelar pahlawan ini. Pemberian gelar ini merupakan janji Prabowo pada saat pelaksanaan May Day beberapa waktu lalu.
“Kami menyampaikan rasa terima kasih kami kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan anugerah pahlawan nasional kepada pahlawan buruh Ibu Marsinah,” kata dia.
“Kami dari DPP SPSI mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya.
Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan nama-nama pahlawan nasional baru besok. Dia menyebutkan nama-nama tokoh yang direkomendasikan untuk menerima gelar pahlawan nasional sudah diserahkan ke Prabowo.
“Ya jadi prosesnya berjenjang ya, sudah beberapa kali kami sampaikan mulai dari tingkat kabupaten, provinsi sampai ke Kemensos setelah itu ke Dewan Gelar, Dewan Gelar yang melapor kepada Presiden. Semua sudah dilalui prosesnya, siapapun nanti yang ditetapkan oleh Presiden tentu sudah sangat memenuhi syarat. Nah soal siapa saja kita tunggu pengumuman resminya,” kata Gus Ipul kepada wartawan, Minggu (9/11).
Dia menuturkan rencananya nama-nama pahlawan akan diumumkan Prabowo besok. Salah satu yang diusulkan adalah Presiden RI ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Ya salah satu memang yang kita usulkan ya, kita usulkan dari bawah salah satunya adalah Presiden Soeharto, ada juga Presiden Abdurrahman Wahid, dan banyak lagi tokoh-tokoh dari berbagai provinsi, dari berbagai daerah,” ucapnya.
“(Jam 16.00 WIB pengumuman) insyaallah kita tunggu aja, kita tunggu nanti pengumuman dari istana ya, kita tunggu. Ini prosesnya sudah dilalui semua,” tutupnya. ***












