Settia

SBY Pusing Kader Demokrat Rame-Rame ke Jokowi

EDITOR.ID, Jakarta,- Fenomena politik kader Partai Demokrat berame-rame hijrah mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin, makin meluas. Terkini hampir seluruh caleg Demokrat yang berada di dapil II Sumut, terutama di Tapanuli, juga mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Hal ini diungkap Politikus Partai Demokrat Demokrat Jhoni Allen Marbun. Caleg DPR RI Sumut 2 Nomor urut 1 dari Partai Demokrat ini juga terang-terangan berbeda sikap politik dengan DPP. Ia mengaku mendukung pasangan Jokowi-Maruf dan siap memenangkan rival Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu di daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara.

Dukungan rame-rame politisi Demokrat Sumut ini membuat Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dibuat pusing. Konon partai berlambang bintang mercy ini pun merubah strateginya.

Apalagi setelah melihat hasil survei terakhir Indikator yang menyebutkan 40,5 persen konstituen Demokrat justru mengalihkan suaranya atau split ticket voting ke Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Terpaksa PD menggunakan strategi politik dua kaki.

“Sejak awal Demokrat memberi kebebasan kepada anggota Partai Demokrat untuk menentukan pilihannya. Makanya waktu itu kita menyebut dengan dua kaki, itu satu kaki kita menangkan pileg dan satu kaki memenangkan pilpres,” kata Waketum Partai Demokrat Roy Suryo di kantor Indikator, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat, Rabu (29/1/2019).

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini menyebut Demokrat tetap akan mengutamakan pemenangan partai. Pasalnya, ia menyadari Demokrat tidak akan mendapatkan efek ekor jas (coattail effect) dari Prabowo-Sandiaga.

“Iya, kami harus mengatakan begitu (mengutamakan partai). Maka berkali-kali kami mengatakan kami memainkan politik dua kaki. Dua kaki itu memang karena ini pileg dan pilpres, jadi kita harus realistis menonjolkan itu juga,” ujarnya.

“Karena kami tidak memiliki calon dari Demokrat maka kita harus mengatakan kalau kita tidak bisa berharap ada coattail effect, efek ekor jas tidak mungkin kita dapatkan karena jelas yang mendapatkan hanya 2 partai, yaitu partai yang sama-sama mengusung presiden. Maka kita harus memenangkan pilegnya karena kita tahu bahwa insyaallah dengan kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia akan tetep alhamdullilah tetap dicintai oleh masyarakat dan mengalami kenaikan persentase yang ada,” pungkas Roy.

Hasil survey politik yang dipaparkan Indikator menemukan kader Partai Demokrat yang hijrah ke paslon 01 Jokowi-Maruf mencapai 40,5 persen

Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan salah satu petinggi Demokrat Jhoni Allen Marbun. Johni menegaskan ia tidak sendiri dengan sikap politik yang berbeda dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat di pilpres 2019 itu. Menurutnya, hampir seluruh caleg Demokrat yang berada di dapil II Sumut, terutama di Tapanuli, juga mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Keputusan itu didasarkan banyak hal. Salah satunya, imbuh Jhoni, karena Demokrat tidak punya kader yang dijadikan kandidat calon presiden ataupun calon wakil presiden di pilpres 2019.

“Karena tidak ada kader Demokrat di pilpres 2019. Jadi bebas berikan pandangan,” kata Jhoni sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (1/2).

Selain itu, Jhoni menilai pemilu 2019 berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sistem pilpres dan pileg yang dilakukan serentak membuat resiko pertarungan lebih tinggi. Menurut Jhoni, konstituennya mayoritas menginginkan agar Jokowi kembali menang di pilpres.

“Warga Tapanuli sampai Toba Samosir melihat Jokowi serius bangun Danau Toba dan Bandara Sisingamangaraja. Sementara konstelasi pemilu serentak riskan. Jadi kita bicara calon yang konkret programnya saja,” ungkap Jhoni.

Jhoni Allen Marbun kemudian mengklaim dia dan caleg Demokrat lainnya yang mendukung petahana menilai banyak program-program Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang diteruskan di rezim Jokowi-Jusuf Kalla. Program yang ia maksud di antaranya infrastruktur, dana desa dan program keluarga harapan.

“Kami realistis, wajar kalau mau Jokowi dilanjutkan dua periode. Kalau kekurangan semua orang punya, tapi bisa diperbaiki di lima tahun mendatang,” kata Jhoni.

Program SBY yang dilanjutkan Jokowi itu kata Jhoni berimbas pada elektabilitas petahana, khususnya di Tapanuli, Samosir dan Danau Toba. Jhoni mengklaim elektabilitas Jokowi di wilayah tersebut sudah mencapai 90 persen.

“Kalau Sumatera secara keseluruhan juga sekarang selisih Jokowi dan Prabowo beda sedikit. Di Jawa Barat, hitungan tim saya akan dimenangkan Jokowi karena Gubernurnya bukan dari koalisi Prabowo lagi,” kata Jhoni.

Bicara soal chemistry, Jhoni mengungkapkan banyak kader Demokrat yang sebetulnya sudah simpati terhadap Jokowi. Hal itu terlihat saat Jokowi menghadiri Rapimnas Partai Demokrat Maret tahun 2018 lalu. Namun hal itu berubah karena tidak ada kader Demokrat di pilpres 2019.

Kendati demikian, Jhoni menegaskan walau mendukung Jokowi di pilpres 2019, ia tetap akan menjadi kader Partai Demokrat. Jhoni juga yakin SBY dan DPP Demokrat tidak akan memberikan sanksi pada kadernya yang beda pilihan di pilpres.

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief mengakui permainan dua kaki Partai Demokrat di Pemilu 2019 dilakukan atas perintah SBY.

Menurut Andi, justru aneh jika sebuah partai politik tidak bermain dua kaki saat ini. Sebab di pemilu 2019, ada dua pemilihan yang digelar bersamaan yakni pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

“Soal Demokrat dua kaki jadi rame. Perintah Ketua Umum SBY itu jelas memang dua kaki. Satu kaki di pileg, Satu kaki di Pilpres. Justru yang main satu kaki itu yang aneh dalam pemilu berbarengan,” tulisnya melalui akun Twitter @AndiArief pada Selasa (11/9).

Dia mengatakan bahwa dalam pemilu 2019 calon legislatif adalah senjata dalam pileg. Sementara dalam pilpres, pengurus pusat parpol adalah tombaknya. Wacana Demokrat bermain dua kaki di Pemilu 2019 muncul setelah sejumlah kadernya di daerah secara terang-terangan menyatakan mendukung pasangan bakal capres dan cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin.

Tak hanya politisi Partai Demokrat saja, sejumlah mantan menteri dan pejabat era Susilo Bambang Yudhoyono juga mendeklarasikan dukungan untuk Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
Dalam deklarasi yang diselenggarakan di salah satu di rumah makan di Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (29/1/2019) siang, mereka mendukung Jokowi-Ma’ruf karena mengaku punya sudut pandang yang sama dalam membangun Indonesia.

Mereka yang mendukung Jokowi-Maruf diantaranya Kedubes Indonesia untuk Republik Ceko Aulia Aman Rachman, Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II Muhammad Lutfi, serta Menteri Kelautan dan Perikanan KIB I Freddy Numberi, Menteri Ketenagakerjaan dan Trasmigrasi KIB I Erman Soeparno serta Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan KIB I Agung Laksono.

Mantan Menteri Perdagangan era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Muhammad Luthfi menyatakan dukungannya ke Jokowi dengan alasan mantan Walikota Solo itu selama memimpin berhasil membangun infrastruktur berbasis teknologi dan pendidikan yang merupakan modal penting untuk pertumbuhan. Sambungnya, iklim investasi juga berlangsung kondusif.

“Pak Jokowi pemimpin yang baik dan kinerja pemerintah di bawah kepemimpinannya sudah terbukti berhasil,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

“Dulu peringkat EoDB kita 124 dan hari ini 73. Ini prestasi luar biasa. Jadi kita dukung pembangunan yang sudah dilakukan Pak Jokowi agar terus dilanjutkan. Kita adalah bangsa yang sedang bergegas untuk semakin maju, maka sangat dibutuhkan pemimpin yang sudah bekerja nyata,” sambungnya.

Mantan Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan, kinerja Jokowi sangat bisa diandalkan, termasuk pembangunan wilayah perbatasan dan kawasan Indonesia timur.

“Saat ini “window” kita di perbatasan lebih baik dan diakui negara-negara kawasan. Jokowi juga punya perhatian tinggi soal Papua. Terbukti dalam empat tahun menjadi presiden, beliau sudah 12 kali bekunjung ke Papua. Calon yang lain belum ada bukti,” katanya. (tim)

Leave a Reply