Saldo Miliaran di Bank Kian Menyusut Tergerus Kebutuhan, Hidup Gantungkan Makan Tabungan, Pertanda Apa?

Penurunan jumlah rekening nasabah itu bisa jadi karena tabungannya tergerus kebutuhan. Di sinilah muncul istilah makan tabungan. Nasabah Kecil Terjepit

Ilustrasi Uang

Jakarta, EDITOR.ID,- Pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja dan daya beli di Indonesia perlu diwaspadai. Tanda-tanda masyarakat kian sulit secara ekonomi sudah mulai muncul kepermukaan. Salah satu sinyalnya bisa dipantau dari pertumbuhan simpanan nasabah di atas Rp 5 miliar atau simpanan jumbo, terlihat mulai menyusut ditengah daya beli yang melemah dan situasi ekonomi tak menentu.

Penurunan jumlah rekening nasabah itu bisa jadi karena tabungannya tergerus kebutuhan. Di sinilah muncul istilah makan tabungan.

Rekening bank dengan saldo jumbo di Indonesia terus mengalami penyusutan sejak Mei 2024. Tak hanya jumlah rekening, isinya pun kian mengempis.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya tren menyusutnya pertumbuhan tabungan di atas Rp5 miliar, terjadi sejak akhir 2023.

“Tabungan di atas Rp5 miliar kalau kita lihat trennya turun terus dari akhir tahun lalu sampai sekarang trennya turun terus,” kata Purbaya dalam konferensi pers, dikutip, Rabu 31 Januari 2024.

Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan dalam beberapa kesempatan menyebutkan bahwa mayoritas pemilik rekening di atas Rp5 miliar adalah korporasi.

Pelambatan jumlah rekening jumbo dan isinya itu bisa jadi pertanda dunia usaha sedang meriang ketika ekonomi melamban. Kredit perbankan melamban, indeks harga konsumen, dan daya menurun.

LPS: Simpanan Nasabah Turun Terus dari Tahun ke Tahun

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan nasabah di atas Rp 5 miliar hanya tumbuh 4,4% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 12,3% YoY.

Bahkan, jika dilihat sejak awal tahun, simpanan nasabah di atas Rp 5 miliar konsisten turun. Di mana, secara year to date turun sekitar 5,3% dan secara month on month turun tipis 1%.

BI Catat Saldo Rekening Turun Terus

Sementara Data Bank Indonesia (BI) per Agustus 2024 mencatat, pertumbuhan jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar sebesar 3,5 persen, turun dari 4,9 persen pada Juli 2024.

Pertumbuhan jumlah simpanan kelompok ini pun menyusut menjadi 9,1 persen dari 10,4 persen pada periode yang sama. Sementara rata-rata tabungan dari rekening tajir ini Rp21,1 miliar, susut dari 21,2 miliar pada Juli 2024.

Jika dilihat dari data Bank Indonesia (BI), penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari nasabah korporasi per Mei 2025 juga hanya tumbuh 7,7% dari April yang tumbuh 9,5%. Jika dilihat lebih rinci tabungan nasabah korporasi juga di Mei hanya tumbuh 20,9% dari April yang tumbuh 23,5%.

Pertumbuhan Nasabah Kecil Juga Ikut Menyusut

Melansir data pada Datanesia.id, pada Agustus 2024, total rekening di bank mencapai 592,9 juta. Jadi, satu orang bisa memiliki minimal dua rekening. Itu mengacu pada data BPS yang mencatat jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas ada 214 juta. Sedangkan jumlah simpananya –tabungan, deposito, dan giro– mencapai 8,7 triliun.

Mayoritas rekening di bank masih menjadi milik nasabah kecil, di bawah Rp100 juta. Meskipun mayoritas (98,81%), simpanan kelompok ini paling kecil (Rp1,06 triliun) atau setara 12,2% total simpanan.

Nasabah kecil ini juga pertumbuhan jumlah rekeningnya turun. Pada Agustus 2024, pertumbuhan rekening kelompok ini sebeser 11,7 persen, turun tipis dari 11,8 persen pada bulan sebelumnya. Meski pertumbuhan rekeningnya turun, jumlah simpanannya naik 5,3 persen dari sebelumnya 4,9 persen. Selama lima bulan terakhir, tabungan nasabah kecil ini juga stagnan di angka Rp1,8 juta.

Penurunan jumlah rekening nasabah itu bisa jadi karena tabungannya tergerus kebutuhan. Di sinilah muncul istilah makan tabungan. Survei konsumen BI memperlihatkan bahwa proporsi konsumsi terhadap pendapatan menurun pada tingkat pengeluaran Rp1 – 3 juta.

Di sisi lain, porsi cicilan pinjaman terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp1 – 4 juta. Nasabah kecil terjepit. Jadi, daripada dikejar penagih utang, tabungan menjadi korban.

Penurunan Saldo Rekening Bank Didominasi Perusahaan, Ada Apa?

Ekonom Celios Bhima Yudhistira menilai, fenomena menurunnya simpanan nasabah di atas Rp 5 miliar yang memang didominasi dari korporasi ini bisa jadi, karena pengusaha melakukan ekspansi atau sebagian perusahaan sudah menggunakan uang internalnya atau simpanannya itu untuk membayar gaji atau biaya operasional.

“Itu juga yang kita lihat agak mengkhawatirkan kalau simpanan korporasinya turun digunakan untuk membiayai internal gitu. Karena seharusnya kan simpanannya itu sebenarnya sebagian hasil dari laba, hasil dari pendapatan operasional. Nah ini per sektor harus di cek dulu gitu, mana yang mencerminkan memang simpanannya menurun digunakan untuk ekspansi,” kata Bhima sebagaimana dilansir dari kontan.co.id, Selasa (8/7).

Bhima melihat, ada kekhawatiran uang simpanan berkurang itu digunakan untuk membiayai beban operasional dibandingkan untuk melakukan ekspansi.

Menurut Bhima, yang harus diwaspadai oleh perbankan dengan simpanan yang menyusut berarti likuiditasnya semakin ketat ke depannya.

“Simpanan perorangan tumbuhnya kalau gak salah sampai 0% ya pertumbuhannya. Berarti gak ada pertumbuhan kemudian dari sisi korporasi simpanannya berkurang untuk membiayai operasional rutin. Jadi bank yang memang harus berjaga-jaga dari tekanan likuiditas ke depannya,” ungkap Bhima.

Bhima menyebut, di tengah ketidakpastian ekonomi apalagi ada pengumuman tarif Indonesia kena 32% untuk ekspor ke Amerika plus 10% kena anggota BRICS, akan membuat sisi pelaku usaha cenderung untuk kesulitan mempertahankan pendapatannya ke depan, dan harga komoditas trennya juga masih rendah.

Oleh karena itu, tren perlambatan simpanan dari korporasi disebut akan berlangsung cukup lama. Tapi ia memproyeksikan November-December dimana ada libur panjang Nataru bisa menggerakkan konsumsi rumah tangga sehingga pendapatan dari sisi pelaku usaha bisa lebih pulih dan simpanannya bisa lebih tumbuh positif.

Sementara dari sisi perbankan, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) mencatat pertumbuhan segmen nasabah tajir yang berasal dari dua kelompok nasabah perseroan yakni PermataBank Priority dan PermataBank Private mencapai 10% yoy hingga pertengahan tahun 2025.

Direktur Consumer Banking Bank Permata Djumariah Tenteram menjelaskan bahwa pertumbuhan di segmen tersebut tumbuh stabil setiap tahunnya.

“Di tengah gejolak ekonomi global, kami terus menjalankan fungsi konsultatif terhadap nasabah affluent yang memiliki portofolio investasi. Hal ini salah satunya dilakukan dengan memperhatikan profil risiko nasabah terkait instrumen investasi apa yang dapat disesuaikan, sehingga tujuan masing-masing dapat tercapai,” ungkap Djumariah.

Adapun, PT Bank Central Asia (BCA) mencatat, hingga Maret 2025, jumlah rekening dengan nilai simpanan Rp 2 miliar sampai dengan Rp 5 miliar tercatat tumbuh tipis sebesar 1,1% secara YoY, demikian juga dengan nilai simpanannya.

EVP Corporate and Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, pada umumnya, pertumbuhan tabungan dan DPK akan bergantung pada sejumlah variabel makroekonomi, baik yang berasal dari kondisi eksternal maupun kondisi domestik.

Secara konsolidasi, total DPK BCA naik 6,5% YoY mencapai Rp 1.193 triliun per Maret 2025. CASA tumbuh 8,3% YoY mencapai Rp 979 triliun, atau sekitar 82% total DPK. Dana CASA menjadi kontributor utama pendanaan BCA seiring dengan meningkatnya volume transaksi. Frekuensi transaksi yang diproses BCA secara menyeluruh tumbuh 19% YoY.

“Mencermati kebutuhan nasabah yang dinamis dan beragam, BCA secara konsisten mengusung konsep “hybrid banking” untuk memberikan layanan secara holistik, baik di ekosistem online maupun offline, untuk dapat mempertahankan posisi di pasar dan senantiasa bertumbuh,” jelas Hera sebagaimana dikutip dari Kontan.id. (tim)

Leave a Reply