Rupiah Terseok ke Level Terendah Terhadap Dolar AS: Ini Penyebabnya

Rupiah Tertekan ke Rp17.861 per Dolar AS, Konflik Iran hingga Agenda MSCI Jadi Perhatian Pasar

ilustrasi Dolar AS

EDITOR.ID-JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Rupiah ditutup melemah 106 poin ke level Rp17.861 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.755 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung di tengah meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, risiko gangguan pasokan energi, serta penantian data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi sentimen eksternal dan domestik masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Ketegangan AS-Iran Kembali Membayangi Pasar

Dari eksternal, pasar kembali mencermati ketegangan antara AS dan Iran. Kedua negara sama-sama menuntut kompensasi terkait serangan militer yang terjadi baru-baru ini.

Situasi tersebut kembali mengurangi optimisme bahwa kedua pihak akan segera mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang memiliki peran penting dalam perdagangan energi global.

Washington dan Teheran bahkan menyampaikan klaim berbeda mengenai kondisi Selat Hormuz. AS menyatakan jalur tersebut masih terbuka, sementara Iran mengklaim telah menutupnya dengan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.

Ketidakpastian mengenai jalur pelayaran tersebut menjadi perhatian serius pelaku pasar karena setiap gangguan terhadap arus perdagangan energi berpotensi meningkatkan harga minyak mentah.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menuntut Iran memberikan kompensasi bagi korban jiwa akibat konflik. Tuntutan itu muncul sebagai respons atas tuntutan kompensasi yang lebih dulu disampaikan Teheran.

Perkembangan tersebut membuat harapan pasar terhadap normalisasi situasi kawasan kembali meredup, setelah sebelumnya harga minyak sempat mengalami penurunan tajam akibat ekspektasi bahwa akses di Selat Hormuz akan segera kembali normal.

Ancaman Houthi Menambah Risiko Gangguan Pasokan Minyak

Risiko geopolitik semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan.

Kelompok yang didukung Iran tersebut juga mengancam memperluas konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

Jika eskalasi berlanjut, gangguan terhadap distribusi minyak global berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak mentah sekaligus menambah tekanan inflasi di sejumlah negara.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing.

Pasar Menunggu Data CPI dan PPI AS

Fokus investor selanjutnya beralih ke data ekonomi Amerika Serikat.

Data Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen AS dijadwalkan menjadi perhatian utama pada Rabu (12/8/2026), disusul data Producer Price Index (PPI) pada Kamis (13/8/2026).

Dalam rilis Ibrahim, CPI Juli diperkirakan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan (YoY). Sementara itu, Core CPI diproyeksikan melambat dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen YoY.

Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed berikutnya.

Menurut Ibrahim, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September berada di sekitar 44 persen, turun dari 67 persen sepekan sebelumnya.

Artinya, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih dapat berubah dengan cepat. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS, sedangkan data inflasi yang lebih rendah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

MSCI Index Review Jadi Perhatian Investor Indonesia

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada MSCI August 2026 Index Review.

MSCI menetapkan pengumuman hasil Index Review Agustus pada 12 Agustus 2026, sedangkan perubahan indeks dijadwalkan berlaku mulai 1 September 2026.

Sebelumnya, MSCI menyatakan tetap mempertahankan sejumlah perlakuan khusus terhadap sekuritas Indonesia, termasuk pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menerapkan penambahan saham ke MSCI Investable Market Indexes.

Kondisi tersebut membuat investor mencermati potensi perubahan komposisi indeks dan dampaknya terhadap arus dana asing di pasar modal Indonesia.

Pencalonan Destry Dinilai Meredakan Kekhawatiran

Sentimen domestik mendapatkan sedikit penopang dari perkembangan kepemimpinan Bank Indonesia.

Dalam rilis Ibrahim disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Perkembangan tersebut dinilai dapat mengurangi sebagian ketidakpastian pasar mengenai keberlanjutan arah kebijakan bank sentral.

Meski demikian, pasar tetap mencermati berbagai indikator ekonomi domestik karena tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal.

Keyakinan Konsumen Melemah

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Dalam data yang dikutip Ibrahim, IKK turun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026. Angka tersebut disebut sebagai level terendah sejak September 2025.

Jika dibandingkan dengan posisi Januari 2026 yang mencapai 127, indeks tersebut telah turun 10,2 poin.

Penurunan IKK menunjukkan adanya pelemahan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ekonomi ke depan. Kondisi ini menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Penjualan Eceran Masih Menjadi Penopang Permintaan

Di sisi lain, aktivitas konsumsi tetap menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar.

Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran pada April 2026 mengalami kontraksi 11,6 persen secara bulanan, sejalan dengan normalisasi permintaan setelah periode Ramadan dan Idulfitri. Pada Mei, kontraksi membaik menjadi 1,5 persen.

Untuk Juni 2026, BI sebelumnya memperkirakan penjualan eceran secara bulanan masih mengalami kontraksi 0,8 persen, meskipun lebih baik dibandingkan kontraksi 1,5 persen pada Mei. BI menyebut periode libur sekolah turut memengaruhi perkembangan tersebut.

Catatan penting: angka penjualan eceran Juni sebesar +0,7 persen mtm dalam bahan rilis yang diberikan tidak sejalan dengan publikasi resmi BI yang tersedia, yang mencatat prakiraan -0,8 persen mtm. Karena itu, angka tersebut sebaiknya tidak ditulis sebagai data realisasi BI tanpa verifikasi tambahan.

Rupiah Diproyeksikan Masih Fluktuatif

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpotensi berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.860-Rp17.970 per dolar AS.

Level Rp17.970 menjadi area yang patut diperhatikan karena mendekati batas atas proyeksi pergerakan rupiah untuk perdagangan berikutnya. Sementara itu, area Rp17.860 menjadi batas bawah dari kisaran yang diperkirakan.

Dengan demikian, arah rupiah dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, hasil data CPI dan PPI Amerika Serikat, serta respons investor terhadap agenda MSCI.

Tekanan eksternal yang berasal dari geopolitik dan kebijakan moneter AS masih menjadi faktor dominan, sementara dari dalam negeri investor akan mencermati daya beli masyarakat, arus modal asing dan kebijakan Bank Indonesia.

Sanggahan

Analisis ini merupakan pandangan pribadi Ibrahim Assuaibi selaku pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas. Analisis tersebut tidak dimaksudkan sebagai ajakan kepada pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk maupun melakukan transaksi pada sektor tertentu.

Transaksi valuta asing memiliki risiko tinggi. Setiap keputusan transaksi menjadi tanggung jawab masing-masing pelaku pasar setelah mempertimbangkan kondisi pasar dan profil risiko masing-masing.**

Leave a Reply