Rupiah Rontok, Gubernur BI Akui Dipicu Pencalonan Deputi Gubernur BI

Keponakan Presiden RI Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono Jadi Salah Satu Kandidat Deputi Gubernur BI

Jakarta, EDITOR.ID,- Ekonomi Indonesia dalam kondisi waspada. Rupiah terpuruk. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali rontok hingga hampir menyentuh level Rp 17.000 per Dolar AS. Apa penyebabnya? Ada tiga: pertama isu pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Kedua, capital flight atau aliran modal asing keluar Indonesia.

Ketiga, permintaan dolar AS tinggi dari perusahaan dan perbankan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan anjloknya rupiah dipengaruhi faktor global dan faktor domestik yakni persepsi negatif pasar.

Perry menyatakan pencalonan deputi gubernur baru pengganti Juda Agung memicu sentimen negatif investor hingga menyebabkan rupiah terkapar-kapar. Dari tiga nama calon yang diusulkan BI, ada keponakan Presiden Prabowo Subianto yakni Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono.

“(Faktor domestik pelemahan rupiah) karena persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur,” kata Perry kepada wartawan dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).

Perry Warjiyo menegaskan proses pengisian jabatan Deputi Gubernur BI yang kosong usai pengunduran diri Juda Agung tidak mengganggu pelaksanaan tugas BI sebagai bank sentral. Pengambilan kebijakan tetap berjalan secara kolektif kolegial dan profesional.

“Kami tegaskan bahwa proses pengisian jabatan Deputi Gubernur tersebut tidak akan mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan bi sebagai Bank Sentral, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Bank Indonesia. Pengambilan keputusan di BI dilakukan oleh dewan Gubernur secara kolektif kolegial,” kata Perry.

Perry Tegaskan Pencalonan Deputi Gubernur BI Atas Usulannya

Perry akui dia yang mengusulkan nama-nama pengganti Juda Agung ke Prabowo, termasuk Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan Prabowo sendiri.

Perry menyampaikan, pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI telah disampaikan secara resmi kepada Presiden Prabowo Subianto sejak 13 Januari 2026, dengan tembusan kepada Ketua DPR RI dan Gubernur BI.

“Saya sebagai Gubernur BI pada 14 Januari 2026 menyampaikan kepada bapak presiden rekomendasi usulan 3 calon Deputi Gubernur, yaitu bapak Thomas Djiwandono, bapak Dicky Kartikoyono dan Bapak Solikin M Juhro,” ungkap Perry.

Selanjutnya, Presiden meneruskan ketiga nama tersebut ke DPR RI untuk menjalani proses persetujuan. Nantinya akan dilakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) mulai Jumat pekan ini hingga Senin pekan depan.

“Selanjutnya bapak presiden telah menyampaikan usulan 3 orang calon Deputi Gubernur tersebut kepada dewan perwakilan rakyat guna mendapat persetujuan sebagaimana Ketentuan dan proses pengaturan dalam undang-undang. Kita tentu saja Serahkan semuanya kepada DPR untuk memberikan persetujuan terhadap salah satu dari tiga orang calon Deputi Gubernur tersebut,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Perry menekankan bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur BI sudah sesuai undang-undang, serta tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI yang diklaim tetap profesional dengan tata kelola yang kuat.

“Proses pengambilan kebijakan di BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat. Tentu saja bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Perry.

Modal Asing Kabur

Selain karena adanya pencalonan Deputi Gubernur BI, Perry mengakui terpuruknya nilai tukar rupiah juga dipengaruhi adanya aliran modal asing keluar akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, di mana sampai 19 Januari 2026 nilainya tercatat 1,6 miliar dolar AS.

Selain itu, ada kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi.

“Aliran modal asing keluar, juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun Danantara,” papar Perry.

“Itu turut mempengaruhi kinerja rupiah,” imbuhnya.

Pengaruh Kondisi Global

Dari sisi global, pelemahan nilai tukar disebut bukan hanya dialami rupiah. Faktor seperti geopolitik, kebijakan tarif AS, hingga kemungkinan kecil turunnya suku bunga acuan The Fed menyebabkan dolar AS menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju seperti AS.

“Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental kita yang baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan prospek ekonomi yang membaik,” imbuh Perry.

Upaya BI Perkuat Rupiah

Dalam data Bank Indonesia nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 sebesar Rp 16.945 per Dolar AS, melemah 1,53 persen jika dibandingkan dengan level akhir Desember 2025. Guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI mengaku terus menempuh dan meningkatkan intensitas langkah-langkah stabilisasi.

“Melalui intervensi di pasar non deliverable forward baik di off shore maupun on shore, domestic non deliverable forward dan di pasar spot. Respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen pada 2026,” beber Perry.

Perry meyakini ke depan nilai tukar rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Hal itu didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ke depan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro market,” pungkasnya. ***

Leave a Reply