Tel Aviv, EDITOR.ID,- Iran kembali menghujani rudal-rudal ke Israel. Rudal Iran melesat melintasi sejumlah negara Timur Tengah dan bertaburan diatas langit Israel. Rudal-rudal tersebut kemudian menyerang dan menghantam sasaran di seluruh negeri Zionis. Bom! ledakan dahsyat terdengar disana-sini dan gedung roboh dihantam rudal.
Media lokal melaporkan sirene serangan udara meraung-raung memberikan peringatan kepada warga Israel agar segera menyelamatkan diri dan berlindung ke bungker yang telah disiapkan di seluruh negeri Zionis itu. Namun masih terlihat warga Israel panik dan dievakuasi ke bungker-bungker yang telah disiapkan.
Media lokal di Israel melaporkan bahwa dampak rudal telah dilaporkan di wilayah Haifa di utara dan Beersheba di selatan.
Kawasan itu sering menjadi sasaran tembakan rudal Iran. Setidaknya satu rudal jatuh di Yerusalem juga.
Saluran 12 Israel melaporkan sekitar 39 rudal teridentifikasi dalam rentetan serangan ini.
Surat kabar Israel Haaretz mengutip tim medis darurat yang mengatakan dua orang, satu terluka parah dan satu terluka sedang, dibawa ke rumah sakit untuk menerima perawatan.
Hal ini menyusul laporan tentang dampak rudal Iran di kota Israel utara.
Kantor berita Reuters melaporkan ledakan telah terdengar di Yerusalem dan Tel Aviv, beberapa saat setelah militer Israel mengatakan angkatan udaranya sedang berupaya mencegat rudal yang ditembakkan Iran.
Melalui unggahan di media sosial twitter atau X, Militer Israel menyebut bahwa sistem pertahanannya sedang berupaya mencegat rudal, menyarankan warga Israel memasuki wilayah yang dilindungi.
Jadi Sasaran Rudal Berulang Kali, Walikota Haifa Minta Perang Israel
Kota Haifa di Israel menjadi salah satu lokasi yang disasar rudal-rudal Iran. Wali Kota Haifa, Yona Yahav, meminta perang Israel dan Iran segera diakhiri.
Yahav mengatakan tidak ada warga di Haifa yang tewas setelah aksi saling serang Israel dan Iran dalam delapan hari terakhir. Total ada 21 orang terluka di Haifa, tiga di antaranya luka parah.
“Saya tidak suka perang,” kata Yahav dilansir CNN, Jumat (20/6/2025).
Yahav mengaku telah 10 kali mengalami perang selama hidupnya. Dia mendesak perdamaian segera disepakati antara Israel dan Iran.
“Tujuan utama permainan ini adalah perdamaian,” katanya.
Walikota Haifa Minta Presiden AS Segera Kirim Bantuan
Walkot Haifa ini juga ditanya terkait peluang bergabungnya Amerika Serikat dalam kisruh perang Israel dan Iran.
Presiden Donald Trump diketahui akan memberikan keputusan dalam dua pekan ke depan tentang posisi Amerika dalam perang tersebut.
Menurut Haifa, tenggat waktu yang dibutuhkan Trump itu sangat lama. Dia menyebut banyak warga Israel membutuhkan jaminan keamanan saat ini.
“Saya tidak bisa mendapatkan jawaban dari Trump dan ini mengganggu saya,” katanya.
“Karena saya suka stabilitas dan saya piker dia harus memberi saya stabilitas ini,” sambung Yahav.
Perang Sudah Berlangsung 8 Hari
Perang Israel versus Iran telah berlangsung selama 8 hari sejak 13 Juni silam. Kota-kota di Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, hingga Haifa menjadi sasaran kiriman rudal dari Iran.
Hari ini militer Iran juga meluncurkan serangan rudal terbaru ke wilayah Israel. Sebanyak 17 orang dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.
Pejabat Eropa dan Menlu Iran Bertemu
Sementara itu, Luciano Zaccara, profesor politik Teluk di Universitas Qatar, mengatakan para pejabat Eropa yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Araghchi hari ini di Jenewa memiliki pilihan yang terbatas.
Berbicara kepada Al Jazeera, ia mengatakan dengan berakhirnya mekanisme “snapback” pada bulan Oktober, yang akan mengarah pada pemulihan sanksi PBB yang dilonggarkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, negara-negara Eropa memiliki waktu yang singkat untuk memberikan tekanan apa pun pada Iran.
“Mereka memberi diri mereka sendiri tenggat waktu pertengahan Agustus untuk memutuskan apakah mereka akan menerapkan mekanisme ini atau tidak,” ujar Zaccara.
“Ini memberi (mereka) waktu yang sangat singkat, daya ungkit … untuk melakukan sesuatu,” papar dia.
Jika Trump Tak Minta Israel Hentikan Serangan, Perang Berlanjut
Zaccara berpendapat “satu-satunya hal” yang dapat mereka tuju sekarang adalah meyakinkan Iran “untuk sedikit meredakan ketegangan dan duduk kembali dengan Amerika Serikat (AS) untuk merundingkan sesuatu, yang merupakan sesuatu yang menurut Araghchi tidak akan pernah mereka lakukan di bawah tekanan.”
“Jadi selama Trump juga tidak mendesak Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran, pembicaraan ini tidak akan pernah terjadi,” ujar dia.
Dia mencatat, “Dengan memberi dirinya waktu dua minggu untuk mengambil keputusan atas tindakan selanjutnya, presiden AS tersebut memberi tahu Israel, ‘Baiklah, lakukan sebanyak yang Anda bisa, dan kemudian saya akan memutuskan’.”
Ia menambahkan, “Saya pikir ia (Trump) mencoba mengulur waktu, untuk melihat apa yang terjadi; ia memutuskan untuk meninggalkan Israel demi melakukan pekerjaan kotor, untuk melihat seberapa jauh Israel dapat melemahkan rezim Iran.” (tim)












