Jakarta, EDITOR.ID – Rocky Gerung mengkritisi tragedi bunuh diri (bundir) pasca seorang pelajar kelas 4 SD berusia 10 tahun di NTT akibat orang tuanya tidak mampu membeli buku tulis senilai Rp 10.000 otomatis menggugurkan narasi keberhasilan pemerintah Prabowo Subianto di forum internasional.
Apa yang disampaikan Rocky Gerung tersebut diucapkannya dalam video yang beredar luas di media sosial, mengkritik keras prioritas anggaran pemerintah Prabowo Subianto yang lebih mengutamakan iuran triliunan rupiah untuk dewan perdamaian dunia dibandingkan mengatasi kemiskinan ekstrem di dalam negeri.
Pelajar SD tersebut mengakhiri hidupnya di NTT karena faktor kemiskinan dan kelaparan, menjadi fakta bahwa pemerintah Prabowo Subianto telah gagal dalam mengemban amanah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tertuang dalam landasan negara Indonesia, Pancasila sila ke lima.
Rocky Gerung menilai peristiwa ini sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah dalam menjamin keadilan sosial bagi rakyatnya, sekaligus menggugurkan Narasi Forum Internasional.
Rocky Gerung menegaskan bahwa narasi “keberhasilan” atau “kebesaran bangsa” yang kerap dipamerkan Presiden Prabowo di forum internasional menjadi tidak berarti dikarenakan di dalam negeri masih ada anak SD yang meninggal akibat kemiskinan.
Rocky Gerung menilai menganggap sebagai paradox pembangunan yang ironis jika pemerintah terus membanggakan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik sementara kebutuhan dasar rakyat yang paling rentan justru tidak terpenuhi.
Kritik ini merupakan respons atas laporan mengenai anak sekolah dasar (SD) di NTT yang nekat mengakhiri hidup diduga karena tekanan ekonomi keluarga pada awal Februari 2026. (*)












