Jakarta, EDITOR.ID – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan tanggapan keras terkait insiden pemadaman listrik Kamis, 9 April 2026 merupakan insiden signifikan karena terjadi pada momen paling krusial, yaitu pukul 17.57 WIB bertepatan saat jam pulang kantor, padam total (blackout) yang melanda sebagian wilayah Jakarta, penyebab utamanya gangguan pasokan listrik eksternal PLN.
Pemadaman ini tidak hanya menyasar pemukiman, tetapi melumpuhkan infrastruktur vital kota.
Salah satu sektor yang paling terdampak secara signifikan adalah operasional moda transportasi publik modern MRT lumpuh, evakuasi gedung tinggi via tangga yang menjadi tulang punggung mobilitas warga Jakarta, wilayah titik strategis Jakarta (Pusat Bisnis, Mall).
“Salah satunya MRT, kemudian LRT juga terkena,” ujar Pramono, Saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat (10/4/2026).
Gubernur menginstruksikan jajaran Pemprov DKI untuk lebih proaktif berkoordinasi dengan PLN. Hal ini termasuk mempermudah perizinan pemeliharaan jaringan listrik di bawah jalan protokol agar tidak ada alasan administratif yang menghambat perbaikan infrastruktur energi.
Pramono menegaskan bahwa kewenangan penuh terkait kendala teknis tersebut berada di tangan PLN.
Jakarta bukan sekadar wilayah administratif, melainkan pusat saraf nasional, ada Istana Negara, Kementerian, dan Lembaga Tinggi Negara.
Jakarta merupakan objek vital nasional dan pusat komando keamanan.
Layanan publik utama seperti rumah sakit rujukan nasional dan transportasi publik berbasis listrik (MRT/LRT).
Pramono Anung meminta agar kejadian listrik padam tidak terulang kembali, menegaskan bahwa Jakarta sebagai pusat aktivitas tidak boleh mengalami kendala pasokan listrik yang signifikan.
Pernyataan “Jangan Terulang Lagi!” merupakan teguran kepada pihak terkait, khususnya PLN, untuk memastikan sistem back-up atau keandalan jaringan berjalan 100%.
Memastikan kabel bawah tanah dan gardu induk dalam kondisi prima.
Jika satu jalur pasokan terputus, jalur cadangan harus bisa langsung mengambil alih tanpa jeda yang signifikan.
Tindakan tegas Gubernur DKI Jakarta merupakan bentuk respons atas gangguan operasional MRT pada Kamis sore (9/4/2026) akibat kendala pasokan listrik dari PLN.
Beliau menyoroti dampak blackout yang memengaruhi fasilitas publik, termasuk gangguan operasional pada MRT dan LRT Jakarta.
Pernyataan Pramono Anung sekaligus bentuk komitmen politik dan manajerial untuk memastikan Jakarta tetap beroperasi secara optimal sebagai pusat ekonomi dan jasa, di mana listrik adalah infrastruktur paling mendasar yang tidak boleh terganggu sama sekali.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi penyedia layanan infrastruktur mengenai pentingnya redundancy (cadangan sistem) dan keandalan sistem kelistrikan di kota metropolitan. Blackout di jam sibuk bukan hanya masalah kenyamanan, tapi juga menyangkut keamanan dan keselamatan warga yang berada di ruang publik dan gedung tinggi.
Secara keseluruhan, Gubernur menekankan pentingnya stabilitas infrastruktur energi untuk kelancaran aktivitas warga Jakarta.
Insiden ini sontak memicu kepanikan warga dan mengganggu berbagai aktivitas di pusat perkantoran, transportasi publik, hingga pusat perbelanjaan di ibu kota.
Keluhan Warga Jakarta
Gangguan listrik terjadi secara serentak di sejumlah titik strategis Jakarta, menyebabkan operasional berbagai fasilitas publik lumpuh dalam waktu singkat.
Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya pemberitahuan sebelumnya, sehingga banyak warga yang tidak siap menghadapi situasi gelap gulita di tengah padatnya aktivitas sore hari.
Sejumlah masyarakat langsung meluapkan keluhan mereka melalui berbagai platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter), Threads, hingga Instagram.
Di antara mereka mengaku kaget karena tetiba aliran listri terputus tanpa adanya peringatan ataupun pemberitahuan terlebih dahulu.
Kebanyakan warga yang awalnya mengira pemadaman listrik dari pihak pLN merupakan bagian dari kampanye lingkungan global.
Dugaan tersebut mencuat karena momentum pemadaman yang terjadi secara serentak. Salah satu komentar warganet bahkan menjadi perhatian luas karena mencerminkan kebingungan publik.
“Tetiba gelap, gue kira peringatan Hari Bumi, tapi baru awal April,” tulis salah satu pengguna media sosial dalam kolom komentar unggahan yang viral.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan dampak yang jauh lebih serius. Pemadaman listrik tidak hanya terjadi di kawasan permukiman, tetapi juga merambah ke pusat perbelanjaan dan sistem transportasi publik modern.
Salah satu akun Instagram melaporkan kejadian yang dialaminya saat berada di dalam mal.
“Siapa yang mati lampu juga?? Tadi lagi makan di mall, restonya mati lampu juga bersamaan sama MRT juga, ada apa Jakarta?,” tulis akun tersebut, menggambarkan kepanikan yang terjadi di lokasi.
Gangguan ini juga berdampak signifikan terhadap pekerja kantoran yang masih berada di gedung-gedung tinggi saat kejadian berlangsung.
Tanpa pasokan listrik, sejumlah fasilitas penting seperti lift tidak dapat beroperasi. Akibatnya, para karyawan terpaksa menggunakan tangga darurat untuk keluar dari gedung.
Salah satu warganet membagikan pengalamannya saat harus turun dari lantai tinggi akibat mati listrik.
“Aku kira nasib banget turun tangga dari lt.23 ternyata ada yang lebih parah dari lantai 58 coyy wkwk.. semangat Kita,” tulisnya.
Komentar serupa juga datang dari pengguna lain yang mengaku mengalami kejadian yang sama di wilayah berbeda.
“Lah kirain daerah gue doang,” tulisnya, menandakan bahwa pemadaman terjadi secara luas.
Di sisi lain, PT MRT Jakarta (Perseroda) mengonfirmasi bahwa gangguan operasional terjadi akibat kendala pasokan listrik eksternal dari PLN.
Pemadaman ini berdampak langsung pada sejumlah stasiun layang MRT di Jakarta.
Dalam keterangannya, MRT Jakarta menyebutkan bahwa gangguan mulai terjadi pada pukul 17.57 WIB.
Kondisi tersebut menyebabkan layanan transportasi massal tersebut mengalami hambatan operasional, yang berdampak pada mobilitas masyarakat di jam sibuk.
Peristiwa blackout Jakarta ini kembali menyoroti pentingnya keandalan sistem kelistrikan di ibu kota, terutama pada waktu-waktu krusial seperti jam pulang kerja.
Hingga kini, pemadaman listrik massal tersebut masih menjadi perhatian publik, mengingat dampaknya yang luas terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga Jakarta. (*)












