Polisi Usut Dugaan Keterlibatan Ormas di Kerusuhan Pejompongan, Pedagang Cermin Tewas Dianiaya

Insiden brutal ini viral di media sosial dan memicu dugaan kuat keterlibatan oknum organisasi masyarakat (ormas). Menanggapi isu liar yang beredar luas, Polda Metro Jaya menegaskan tengah mendalami dugaan keterlibatan ormas tersebut dengan pendekatan ilmiah dan kehati-hatian tinggi.

Aksi Massa Anarkhis Picu Kerusuhan di Pejompongan dan Slipi Jakarta Foto Ilustrasi

Jakarta, EDITOR.ID.- Aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPR RI pada Kamis (27/8) yang berlanjut hingga Jumat (28/8) dini hari berujung tragedi berdarah. Selain menyisakan kerusakan fasilitas umum, kerusuhan di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, melayang nyawa seorang pedagang kecil.

Bambang Setyawan, seorang pedagang cermin, tewas mengenaskan setelah dipukuli dan diseret oleh sekelompok orang tak dikenal yang membawa senjata tongkat kayu.

Insiden brutal ini viral di media sosial dan memicu dugaan kuat keterlibatan oknum organisasi masyarakat (ormas). Menanggapi isu liar yang beredar luas, Polda Metro Jaya menegaskan tengah mendalami dugaan keterlibatan ormas tersebut dengan pendekatan ilmiah dan kehati-hatian tinggi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Bhudi Hermanto menegaskan hal itu saat ditanyai oleh awak media dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat malam. Dia menyatakan, polisi perlu waktu untuk memverifikasi fakta dari informasi tersebut.

Bhudi Hermanto meminta publik menyaring informasi agar tidak terprovokasi oleh narasi menyesatkan.

“Tentang ormas, kami masih melakukan pendalaman terkait karena fakta harus terverifikasi. Kami mohon waktu,” ujar Bhudi.

Menurut dia, ada banyak unggahan di media sosial terkait dengan aksi demo dan massa aksi pada 27 Agustus lalu. Pendalaman perlu dilakukan lantaran tidak sedikit di antara video yang beredar adalah hoax.

”Teman-teman harus memahami banyak unggahan di media sosial yang disinformasi, provokasi dan hoax,” bebernya.

Bhudi menambahkan, tim siber menemukan banyak video lama yang diproduksi ulang—seperti rekaman arus mudik hingga pergerakan massa Pesta Rakyat 17 Agustus—lalu dikait-kaitkan secara tendensius dengan bentrokan Pejompongan. Polisi menegaskan hanya akan merilis informasi berbasis bukti hukum, bukan asumsi.

”Ini harus kami menjelaskan kepada teman-teman, kepada masyarakat, informasi ini harus valid. Makanya saya tadi dibilang katanya, saya tidak mau kalau pertanyaan itu katanya. Karena pertanyaannya saja salah pasti saya menjawab juga ambigu,” tegasnya.

Kelompok Perusuh Berbeda dari Massa Aksi

Aksi massa pada 27 Agustus lalu berujung rusuh. Namun, pihak kepolisian sudah memastikan bahwa massa yang merusuh berbeda dengan massa aksi.

Penyidikan awal menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas antara peserta aksi unjuk rasa utama dan kelompok perusuh.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menegaskan bahwa kerusuhan sengaja diciptakan oleh kelompok penunggang yang tidak bertanggung jawab.

“Memang sebagian besar dari yang melakukan kerusuhan ini berdasarkan hasil pendalaman yang penyidik lakukan, terafiliasi atau memiliki paham dalam komunitas anarko,” tegasnya.

Iman menyebut, massa aksi demo di DPR sudah berangsur meninggalkan lokasi aksi sejak siang. Saat massa aksi tersebut bubar, sekelompok massa yang tidak dikenal tiba-tiba mendatangi dan melakukan penyerangan fasilitas umum di sekitar DPR.

“Jadi, memang ini adalah murni tujuan untuk melakukan kerusuhan,” ucap Iman.

Bukan Peserta Aksi Demo Botok Cs, Elemen Perusuh Tak Dikenal

Pola Pergerakan: Massa demonstran utama di Gedung DPR yang dipimpin warga Pati Botok Cs sudah membubarkan diri secara tertib sejak siang hari.

Elemen Perusuh: Kelompok tak dikenal masuk pada sore hingga malam hari khusus untuk merusak fasilitas publik dan memicu bentrokan.

Afiliasi Kejahatan: Hasil pendalaman awal penyidik mengindikasikan sebagian besar perusuh terafiliasi dengan paham komunitas anarko.

Hingga Jumat malam, Polda Metro Jaya telah mengamankan 322 orang dari lokasi kerusuhan di Pejompongan. Dari hasil pemeriksaan maraton, 45 orang resmi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan perusakan fasilitas umum dan tindakan penganiayaan berat yang mengakibatkan tewasnya korban.

Polisi terus melakukan pengejaran terhadap pelaku utama penganiayaan Bambang Setyawan guna mengungkap motif serta aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut.

“Dari hasil penyidikan tersebut, berdasarkan alat bukti dan saksi yang kami lakukan pemeriksaan dalam proses penyidikan, saat ini kami sudah menetapkan 45 orang sebagai tersangka,” ungkap Iman. ****

Leave a Reply