Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro dan Perokodi

Setelah puas melihat keindahan alam desa adat Rotenggaro yang memukau dan menggali berbagai tradisinya yang sarat dengan nilai-nilai kearifan yang eksotik, perjalanan dilanjutkan ke desa Perokodi, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Desa ini terkenal dengan pantainya yang indah dengan view yang photogenic, terutama saat mata hari tenggelam (sunset).Pada waktu tertentu, para wisatawan bisa merasakan sensasi ombak menambrak batu karang dan menghasilkan cipratan air laut yang tinggi membentuk tabir seperti tirai yang dikenal dengan water blow.

Selain pemandangan alam pantai yang indah, di Perokodi ada keindahan lain yang tidak kalah menarik yaitu kehidupan sosial masyarakat yang damai dan tentram.

Menurut Budayawan Taufiq Rahzen yang pernah menghabiskan masa kecilnya di tempat ini, Perokodi merupakan perkampungan muslim. Mayoritas penduduk Perokodi beragama Islam hidup berdampingan secara damai dengan tetangga desa yag mayoritas peganut agama Nasrani dan kepercayaan adat.

Meski hanya kunjungan singkat, kami bisa melihat dan merasakan suasana damai dan tentram desa Perokodi. Di sana kami menyaksikan masyarakat bergaul dan berinteraksi tanpa sekat dan jarak.

Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro Dan Perokodi 4
Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro Dan Perokodi 4

Beruntung kami didampingi mas Taufiq, seorang budayawan yang pernah tinggal di Sumba dan memiliki pemahaman yang mendalam mengenai budaya Sumba. Dalam perjalanan, mas Taufiq juga memberikan penjeasan kepada kami berbagai kearifan dan kejenuisan lokal masayrakat Sumba.

Selain tradisi yang ada di Ratenggaro dan Perokodi, mas Taufiq juga bercerita tentang local genius masyarakat Kodi mengenai waktu.

Dijelaskan oleh taufiq, masyarakat Kodi memiliki perhituangan dan aturan mengenai waktu, semacam kalender. Perhitungan waktu ini dijadikan patokan untuk menentukan musim tanam, dibuat berdasarkan pengamatan mendalam terhadap gejala alam yang diwariskan secara turun temurun.

Perhitungan waktu masyarakat Kodi ini pernah diteliti oleh seorang antropolog Barat, JanetHoskin. Pada 1996, hasil penelitian ini diterbitkan menjadi buku dengan judul The Play of Time. Kodi Perspectives on Calendars, History, and exchange.

Menjelang siang kami kembali ke hotel dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Ede, Kupang. Hari itu kami benar-benar melihat taman sari Indonesia yang indah dengan bunga yang aneka warna. Kami juga menemukan sumber mata air kebudayaan yang sarat dengan nilai-nilai kearifan sehingga menghidupi keberagaman taman sari Idonesia.

Di sini kami menyaksikan bahwa Pancasila itu nyata dan ada dalam kehidupan bangsa Indonesia, menjadi laku hidup masyarakat Indonesia. (Bersambung)

Leave a Reply