Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro dan Perokodi

Diantara rumah adat keramat itu, salah satunya ditempati oleh pendiri kampung yaitu Uma Katoda Kataku, rumah yang berada di selatan menghadap utara. Posisi ini merupakan pengingat bahwa leluhur mereka berasal dari Utara.

Penbagunan rumah adat tidak bisa dilaksanakan secara sembarangan. Perlu ada ritual yang dilakukan oleh tetua adat sebelum pendirian rumah. Ritual dilakukan untuk meminta izin pada leluhur. Jika diizinkan oleh leluhur, maka pembangunan rumah akan dilakukan secara gotong royong seluruh warga masyarakat.

Selama proses pembangunan rumah, dilakukan berbagai macam upacara. Bagi masyarakat adat Ratenggaro, rumah tidak sekedar tempat tinggal, tetapi juga berfunsgi sebagai sarana pemujaan.

Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari tetua adat, di kampung adat Ratenggaro ada sekitar 304 kuburan batu, tiga diantaranya terletak di pantai, persis di bibir laut. Keberadaan makam-makam kuno ini menimbulkan kesan magis.

Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro Dan Perokodi 3
Pesona Budaya Desa Adat Ratenggaro Dan Perokodi 3

Memasuki area pemakaman yang diwarnai batu-batu besar, rasanya seperti kembali pada era megalitikum. Meski terkesan magis namun penuh pesona artisik karena pemandangan alam pantai dan pegunungan yang indah.

Selain keindahan alam, daya tarik kampung adat Ratenggaro adalah berbagai ritual adat dan tradisi masyarakat yang eksotik yang terus terpelihara secara kuat sampai saat ini. Diantaranya tradisi berkuda yang juga bisa dinikmati para wisatawan yang mengunjungi kampung adat Ratenggaro.

Taufiq Rahzen, Budayawan nasional yang pernah tinggal di Sumba yang menjadi salah satu anggota tim anjangsana, menginformasikan, ada kisah spiritual lain terkait dengan desa adat Ratenggaro. Dia menjelaskan, Ratenggaro juga merupakan cerminan pengembaraan spiritual seorang tokoh menuju kesempurnaan hidup.

Laku spiritual ini tercermin dalam mantra Sumbayang kemudian dibuat inteksnya oleh Taufiq Rahzen. Interteks mantra karya Taufiq Rahcen tersebut adalah :

Pangga mutaka laku malundungi;

La prainggu pihu wolu-la prainggu pihu kau;

La tolara mbima;

La hupu Ina-la hupu Ama

(Berlangkah tiba, berjalan sampai;

Di negeri tujuh bentuk dan tujuh lajur;

Di halaman rata – dan serambi teras;

Tibalah engkau pada Maha Ibu – Maha Bapa )

Istilah “la tolara mbina” ini menurut Taufiq yang menjadi inspirasi dalam membentuk teras Pancasila. Frasa ini mencerminkan adanya ruang perjumpaan yang lapang dan setara, yang mampu manampung dan merajut segala perbedaan. Inilah kearifan lokal masyarakat Ratenggaro yang bisa digali untuk dijadikan sebagai bahan (source) dalam pembudayaan pancasila.

Leave a Reply