Strategi kepemimpinan Polri dalam meningkatkan pelayanan prima harus didukung dengan daya kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta kepekaan terhadap segala perubahan situasi yang melekat di semua pejabat Polri pada setiap level kepangkatan dan jabatan yang diembannya.
Polri berasal dari rakyat, dengan demikian Polri memiliki beban moral yang harus diemban yang semakin mengukuhkan tugas dan perannya di tengah masyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, Polri harus peka terhadap suatu gejala yang ada dalam kehidupan sosial dalam masyarakat, yang dirasakan sebagai beban atau gangguan yang merugikan masyarakat.
Oleh karena itu, sebagai pemimpin dengan daya kepemimpinan yang mumpuni, kemampuan manajerial yang handal dan memiliki kepekaan tinggi, sudah semestinya mewarnai kebijakan-kebijakan strategisnya dalam memimpin roda organisasi Polri, antara lain:
- Berani membuat terobosan yang bisa atau mungkin tidak lazim tapi bermanfaat bagi organisasi dan masyarakat.
- Mampu melihat dan memperhitungkan setiap premis dan risiko yang akan menjadi ekses dari setiap kebijakan, sehingga dapat lebih awal mengantisipasinya.
- Mampu menempatkan diri dan melaksanakan perannya sebagai pemimpin, senior, teman, guru, orangtua, dan lain-lain.
- Mampu menempatkan diri dan bekerjasama serta mensinergikan semua sumberdaya yang ada dalam kewenangannya. Terus membuka ruang komunikasi dua arah dengan para staf pembantu-pembantunya dan mengadakan kroscek insidentil terhadap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan, apakah dilaksanakan atau tidak.
- Mampu/bisa mengatur penempatan anggotanya, yaitu tidak terlalu lama di suatu tempat tertentu untuk menghindari kejenuhan dan penyimpangan, kecuali yang memiliki keahlian tertentu
- Mampu menghadirkan budaya malu dalam organisasi sebagai ciri maliusia yang bermartabat. Dengan budaya malu, menjadi kontrol diri baik dalam menjaga idealisme maupun dalam menghindarkan dari perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma serta perilaku yang bertentangan dengan hukum.
- Mau dan konsisten melihat ke bawah tentang kondisi anggotanya, baik masalah kesejahteraan, perilaku, alat perlengkapan, serta sarana dan prasarana, dan lain-lain, sehingga ada empati untuk memperbaikinya, sekaligus menjadi instrumen instrospeksi diri apabila akan melakukan penyimpangan atau pola hidup berlebihan.
- Sebagai pemimpin, dapat belajar dari pengalaman senior/ pendahulunya, yang dapat menggambarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk kelebihan-kelebihannya, tentunya dapat dijadikan spirit dan trigger untuk terus dipertahankah dan dikembangkan.
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan alat peralatan yang disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing, sehingga pengadaan tidak lagi tersentralisasi, namun didistribusikan ke masing-masing daerah sesuai kebutuhan dengan pertimbangan efisiensi serta mempermudah perawatan alat peralatan guna memperpanjang usia pakai. Sebagai contoh, untuk daerah perbukitan lebih baik diberikan motor trail daripada mobil yang sangat terbatas jalannya.
- Mampu menghadapi dan mengelola dinamika penyidikan yang dilaksanakan oleh jajaran Reserse serta mampu untuk mengomunikasikannya guna mendapatkan keputusan yang arif dengan tidak mengabaikan kepentingan penegakan hukum, namun juga tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan nasional, sehingga semua langkah investigasi yang dilakukan oleh jajaran Reserse Polri mendapatkan eksistensinya dari sisi legalitas maupun legitimasi.
- Mampu memberikan contoh dan teladan untuk tidak terjadinya erosi kepemimpinan, yang artinya mampu memberikan koreksi dan perbaikan terhadap anggotanya dari hal-hal yang kecil, sehingga dapat diantisipasi kemungkinan terjadinya penyimpangan atau kesalahan yang lebih besar lagi. (***)












