Apa yang terjadi menunjukkan bahwa tenun Sumba merupakan bagian dari tradisi dan budaya Sumba yang tidak memiliki nilai ekonomis. Para pengrajin tenun melakukan kerja menenun bukan kerena dorongan motif ekonomi, tetapi lebih pada dorongan tradisi dan adat.
Karena tidak ada motif ekonomi maka mereka tidak pernah berhitung secara material terhadap kain tenun yang telah dihasilkan. Kondisi inilah yang menarik perhatian Umbu Ignatius untuk melakukan pemberdayaan ekonomi para pengrajin tenun Sumba.
Degan memanfaatkan jaringan dan pengalaman sebagai pemandu wisata di Bali, Umbu Ignatius mulai memperkenalkan tenun Sumba pada turis lokal maupun mancanegara.
Pada mulanya masyarakat Sumba yang tidak memiliki orientasi ekonomi itu hanya menjual tenun ala kadarnya. Hal ini dimanfaatkan oleh para kapitalis. Mereka membeli tenun dari para pengrajin dengan harga murah kemudian dijual dengan harga sangat tinggi.
Untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Sumba, Ignatius melakukan pendidikan terhadap masyarakat Sumba mengenai nilai ekonomi dari tenun sumba. Menurut Umbu Ignatius hal ni bukan dimaksudkan untuk mengkapitalisasi budaya dan tradisi, tetapi untuk memberikan apresiasi dan penghargaan yang layak terhadap para pelaku budaya tenun Sumba.
“Dengan cara ini kami menjaga dan melestarikan budaya tenun Sumba†Kata Umbu Ignatius. “Jika para pelaku budaya tenun Sumba bisa meningkat ekonominya, maka tenun sumba akan bisa dilestarikan†lanjutnya.
Dari tenun Sumba kami bisa belajar bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa diwujudkan dalam laku hidup sehari-hari melalui berbagai simbol budaya dan tradisi yang masih terawat dengan baik.
Dari tenun Sumba kita tidak saja belajar tentang menjaga keberagaman dan kreatifitas, tetapi juga nilai-nilai dan sistem pengetahuan tradisional dalam menjaga dan merawat alam, berbagi dengan sesama, gotong royong dan menjaga nilai-nilai ketuhanan. (Bersambung)












