Macan Putih Karya Seni Bebas Pematung Suwari Bikin Netizen Bereaksi Keras Penasaran

Patung tersebut pun sering di endorse netizen karena penampilannya yang lucu, padahal sesungguhnya patung tersebut dibuat dianggap penjaga spiritual desa berdasarkan legenda lokal.

Suwari sengaja membuatnya menjadi 'unik' dan 'lucu' (dianggap mirip kuda nil atau zebra oleh netizen) justru membuatnya viral dan menjadi daya tarik wisata baru.

Kediri, Jatim, EDITOR.ID,- Monumen Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial. Sosok harimau yang diwujudkan sebagai binatang buas berwibawa, menyeramkan dan ditakuti, oleh si pembuat patung justru dibikin wajahnya lucu tak berwibawa sama sekali mirip celengan.

Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kediri, karya bebas seniman pematung Suwari itupun menjadi viral karena bentuknya unik dan ‘tak biasa’.

Keberadaan patung viral tersebut dipasang di simpang tiga desa sebagai ikon baru, menggantikan pohon beringin lama, berada di pertigaan Jalan Raya Kunjang Badas, Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.

Dalam beberapa hari terakhir menjadi perbincangan hangat di media sosial. Patung tersebut viral setelah banyak warganet menyoroti anatomi bentuknya yang dinilai tidak proporsional, sehingga menjadi sorotan publik karena bentuknya yang unik dan dianggap tidak mirip macan.

Wujud patung yang dinilai kurang proporsional memicu beragam komentar warganet, mulai dari kritik hingga sindiran.

Pembuat patung Suwari tak mempersoalkan kritik dan sindiran netizen di media sosial. Suwari sengaja membuatnya menjadi ‘unik’ dan ‘lucu’ (dianggap mirip kuda nil atau zebra oleh netizen) justru membuatnya viral dan menjadi daya tarik wisata baru.

Tak hanya itu, ada aura misteri dan pengalaman tak biasa yang sering disebut-sebut oleh para pendahulu merujuk pada legenda Macan Putih sebagai penjaga gaib, menjadikan dasar pembuatan patung tersebut, Suwari membuatnya agar memberikan kesan sakral dan mistis pada karyanya, seperti yang dijelaskan Suwari dan Kepala Desa ketika direkam diwawancarai, video nya diunggah di medsos kini viral.

Patung tersebut pun sering di endorse netizen karena penampilannya yang lucu, padahal sesungguhnya patung tersebut dibuat dianggap penjaga spiritual desa berdasarkan legenda lokal.

Suwari menyelesaikan patung ini tanpa bantuan kuli atau asisten, diselesaikan hanya dalam waktu 18 hari.

Pengakuan Suwari filosofi dari wajah ramah Macan putih yang dibuatnya berbeda dengan patung macan pada umumnya yang terlihat garang, Cak Suwari sengaja mendesain ekspresi wajah macan tersebut agar terlihat ramah dan bersahabat agar warga maupun anak-anak yang melintas tidak merasa takut.

Suwari berdalih patung tersebut dibuatnya atas perintah pak Kades bertujuan untuk menghormati nilai sejarah lokal, khususnya yang berkaitan dengan petilasan Sri Aji Jayabaya

Meskipun hasilnya mengundang beragam komentar namun justru menarik banyak pengunjung untuk swafoto.

Suwari sendiri mengaku mendapat inspirasi dari cerita rakyat setempat tentang macan gaib penjaga wilayah, bukan hanya hewan biasa, dan pengalaman “tak biasa” yang Anda sebutkan merujuk pada cerita mitos yang menyelimuti maknanya, bukan kesulitan teknis.

Patung Macan Putih di Kediri

Patung ini diresmikan pada awal Desember 2025 dan kini menjadi salah satu ikon yang paling banyak dibicarakan di Kediri bagian utara.

Sosok Suwari kini menjadi terkenal hingga disebut-sebut sebagai maestro patung dari Kediri yang faktanya memang sudah berkarya sejak 1980-an, ia dikenal sebagai pembuat patung, hasil karya patung terbaru nya ini atas permintaan Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, yang memang dibuat patung Macan Putih ini sebagai ikon desa.

Patung ini terinspirasi legenda lokal bahwa Macan Putih adalah penjaga spiritual Desa Balongjeruk, bukan sekadar hewan biasa.

Proses pembuatannya dikerjakan oleh Suwari sendiri yang memang sudah terbiasa “one man show” perkara pembuatan patung, namun ia menciptakan patung ini berdasarkan cerita rakyat, bukan dari observasi langsung macan, yang mungkin menimbulkan persepsi ‘tak biasa’.

Alasannya pak Kades mempercayai dirinya membuat patung Macan putih karena karya-karyanya sering mendapat apresiasi dari masyarakat karena keunikan desainnya dan kecepatan pengerjaannya yang dilakukannya secara mandiri.

Karya seni pematung Suwari viral dan jadi perbincangan nasional, patung Macan Putih ini telah sukses membuat netizen terus scroll bukan karena kagum, tapi karena penasaran, sebenarnya ini patung apa?

Patung macan putih itu diresmikan Imam Syafii, Kades Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jatim pada Selasa Pon 2 Desember 2025. Berlokasi di pertigaan jalan desa.

Patung Mirip Kuda Nil atau Badak?

Patung tersebut menggantikan pohon beringin lama,namun penampilannya justru menimbulkan kebingungan warga. Bentuk wajah patung dianggap tidak proporsional dan memicu beragam tafsir,mulai dari zebra, capybara, badak, babi, hingga kudanil,

bahkan disebut sebagai spesies hewan blasteran. selain soal visual,publik juga mempertanyakan anggaran pembangunannya.sebagian warga menduga proyek tersebut dikebut menjelang akhir tahun.

Alih-alih mendapat pujian, kolom komentar justru dipenuhi rasa penasaran bercampur heran. Banyak netizen mengaku kesulitan mengenali bentuk patung tersebut sebagai harimau putih.

Wajah patung dinilai terlalu bulat dan besar, moncongnya disebut-sebut mirip badak, sementara tubuhnya dianggap menyerupai kudanil. Corak warnanya pun tak luput dari sorotan, bahkan ada yang menyamakan dengan zebra versi kurang niat.

Komentar netizen pun beragam, mulai dari yang sekadar heran hingga yang terang-terangan tengil:

“Ini macan putih dari dimensi mana?”
“Harimau tapi kok mukanya tebal banget?”
“Seni bebas, tapi jangan bikin warga mikir keras.”

Kepala Desa: Pembuatan Patung Pake Dana Pribadi Saya

Menanggapi viralnya patung tersebut, Pemerintah Desa Balongjeruk memberikan klarifikasi terkait proses pembangunan hingga sumber pendanaan monumen tersebut.

Kepala Desa Balongjeruk, Safii, menjelaskan bahwa pembangunan Monumen Macan Putih berawal dari usulan warga yang disampaikan dalam forum musyawarah desa. Musyawarah itu dihadiri pemerintah desa, lembaga desa, tokoh agama, serta tokoh masyarakat, dan menghasilkan kesepakatan pembangunan monumen dengan ikon Macan Putih.

“Pemilihan Macan Putih tidak lepas dari cerita tutur para sesepuh desa. Konon, Macan Putih merupakan hewan peliharaan leluhur yang membabat atau membuka wilayah Desa Balongjeruk,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025).

Safii juga menegaskan bahwa pembangunan monumen tersebut tidak menggunakan dana desa sama sekali. Seluruh biaya pembuatan patung berasal dari dana pribadi dirinya sebagai kepala desa. Total anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp3,5 juta. Rinciannya, Rp2 juta untuk biaya borongan tukang pembuat patung dan Rp1,5 juta untuk material.

“Ini murni dana pribadi, tidak ada penggunaan dana desa,” tegasnya.

Terkait kritik masyarakat soal hasil akhir patung yang dinilai belum sesuai harapan, Pemerintah Desa Balongjeruk menyatakan terbuka terhadap masukan. Bahkan, pihak desa berkomitmen akan melakukan perbaikan.

“Kami menyadari wujud patung saat ini belum sesuai dengan gambar atau rancangan awal. Karena itu, kami berkomitmen untuk memperbaikinya,” ungkapnya.

Pemerintah desa juga mengajak masyarakat untuk memberikan kritik dan saran demi penyempurnaan monumen sebagai ikon desa. Selain itu, masukan juga diharapkan dari Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, guna menyempurnakan nilai sejarah dan visual ikon Desa Balongjeruk.

“Demi kesempurnaan sejarah dan ikon desa, kami berharap ada arahan dan masukan agar monumen ini bisa menjadi kebanggaan bersama,” pungkas Safii.

Gencarnya kritikan dari netizen maupun masyarakat yang peduli keberadaan patung tersebut. Pemerintah Desa Balongjeruk telah mengakui dan menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan terhadap patung tersebut agar lebih layak sebagai monumen dan ikon desa.

Pemerintah Desa Balongjeruk juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, berharap polemik ini dapat menjadi masukan demi penyempurnaan monumen sekaligus menjaga nilai sejarah dan kearifan lokal desa.

Dulunya di situ ada pohon beringin. Macan (harimau) putih merupakan varian langka dari harimau Siberia Panthera tigris altaica. Di dunia ada 9 sub spesies Panthera tigris. Tiga diantaranya sudah punah, yakni harimau Jawa, Pantera tigris sondaica. Harimau Bali Pantera tigris balica dan harimau Kaspia Pantera tigris virgata. ***

Leave a Reply