Termasuk di bidang kemajuan dan layanan digital. “Oleh sebab itu kami ingin mendorong anak-anak muda untuk tampil dan berkiprah dalam bisnis digital yang akan memberikan dampak bagi kemajuan teknologi sebuah negara,” kata Khairil Hamzah.
“Dan cita-cita ini yang diharapkan dari para pendahulu kita diantaranya jenderal legendaris Soedirman, beliau tentu menginginkan negara Indonesia yang telah ia perjuangkan dengan darah dan nyawa akan tetap maju dan hebat hingga kini,” lanjutnya.
Ganang Kisahkan Perjuangan Sang Kakek, Dalam Keadaan Sakit Pimpin Perang Gerilya
Pada kesempatan ini, Ganang menceritakan kisah perjuangan heroik sang kakek. Saat itu tahun 1948. Belanda kembali menyerang dan ingin menguasai Indonesia, dimulai dari pulau Jawa, tepatnya Yogyakarta. Soekarno menyarankan Jenderal Soedirman untuk beristirahat karena saat itu sedang sakit paru-paru.
Namun dalam keadaan sakit Jenderal Soedirman pantang menyerah. Ia membawa pasukannya masuk ke hutan. Dengan ditandu pasukannya, Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya menghadapi tekanan Belanda. Soedirman ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih tegak berdiri. Ia masih mampu memimpin pasukannya menghadapi serangan Belanda.
Soedirman menggunakan taktik dan konsep perang gerilya. “Konsep beliau ditiru Vietnam saat menghadapi Amerika dan perang gerilya menjadi konsep peperangan yang diakui dunia,” kata Ganang.
Saat Sang Cucu Bongkar Kesaktian Jenderal Soedirman Usai Dikepung Belanda
Sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, Jenderal Soedirman merupakan sosok yang dihormati di Indonesia.
Berbagai kisah perjuangan yang heroik ditorehkan pria kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916 tersebut. Seperti saat memimpin perjuangan kemerdekaan meskipun dirinya sedang sakit dan lain sebagainya.
Salah satunya saat melakukan perang gerilya pada tahun 1948 menjadi salah satu cerita ikonik dalam sejarah Indonesia memperjuangkan kemerdekaan. Jenderal Soedirman berhasil mengecoh Belanda yang berusaha menangkapnya.
Konon dia memiliki jimat ampuh untuk melindungi dirinya dari serangan Belanda saat perang berlangsung.
Namun jimat yang dimaksud bukannya sebuah benda, melainkan menjaga wudhu, sholat tepat waktu, serta mengabdi pada bangsa dan negara dengan tulus dan ikhlas tanpa membawa kepentingan kelompok.
Ganang mengaku sebenarnya kurang begitu sreg dengan penggambaran umum tentang kakeknya yang dinilainya tak utuh. Soedirman yang semata dilukiskan secara militeristis, necis, dan tegas. Bahkan hampir dikultuskan. Konon kalau sang jenderal sudah mengacungkan keris ke angkasa, hujan akan berhenti.












