Jakarta, EDITOR.ID,- Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) Ulta Levenia Nababan melontarkan pernyataan yang memicu polemik. Ia menyebut ada antek asing atau operasi intelijen global dibalik fenomena meletusnya enam Gunung Api di sejumlah wilayah di Indonesia.
Sontak pernyataan ini viral dan membuat gaduh di media sosial. Netizen mempertanyakan maksud dari pernyataan Ulta yang menuduh antek asing berada dibalik meletusnya enam gunung di Indonesia.
Dalam pernyataannya, Ulta Levenia mencurigai letusan enam gunung tersebut dikaitkan dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Karena ramai di media sosial oleh kritikan neziten dan memicu polemik, Ulta Levenia Nababan menyampaikan tanggapan.
Ulta Levenia memastikan HAARP bukan isu baru karena sudah jadi pembicaraan global sejak lama.
Anak buah Presiden Prabowo Subianto itu mengatakan masyarakat Indonesia baru belakangan memberikan perhatian besar pada proyek itu. Ia menegaskan pandangan soal HAARP adalah pendapat pribadi, bukan pernyataan resmi yang berdasar kesimpulan ilmiah.
“Jadi gini project HAARP ini udah jadi obrolan globally DARI DULU, INI BUKAN BARANG BARU, masyarakat Indonesia aja yang baru syok,” ujar Ulta di media sosial Instagram, Selasa (8/9/2026).
Ullta mempersoalkan munculnya sejumlah pihak yang langsung menyerang pernyataannya setelah memberikan pandangan itu.
Ulta menilai serangan muncul karena framing yang buat masyarakat salah paham konteks pernyataannya.
“Dan ketika saya ngomong ini sebagai pendapat pribadi tiba-tiba buzzer langsung menyerang ingin membodohi masyarakat dengan framing,” sesalnya.
Ulta menekankan sejak awal ia sudah jelaskan status pernyataannya. Dia bilang keterangan dalam unggahan itu sudah menyebut pendapat pribadi dan belum ada bukti ilmiah.
“Coba lah pelajari, di caption jelas saya bilang bahwa ini pendapat pribadi dan belum ada bukti ilmiah tapi patut di entertain agar kita selalu skeptis,” ucapnya.
Ulta membandingkan respons publik soal isu itu dengan pernyataan kontroversial lain yang tidak mendapat sorotan sama. Dia singgung pihak yang disebut profesor sebar informasi tentang Jenderal Israel dan pernyataan Presiden Zionis.
“Tapi btw btw ada Prof(okator) nyebar hoax tentang Jenderal Israel, Buzzer diam. Ada Profesor bilang Presiden Zionis, Buzzer diam,” ujar Ulta.
Ulta menilai beda respons itu menandakan standar berbeda dalam menyikapi pernyataan. Ia tegaskan hanya menyampaikan pendapat pribadi yang bisa jadi bahan diskusi dan dorong masyarakat kritis pada info beragam.
“Tapi, Ada Pendapat Pribadi keluar mengedukasi eeeehhh BUZZER MELAWAN tambah lagi media mainstream mainkan framing,” tutur Ulta.
Ulta meminta publik baca unggahannya secara utuh terkait pernyataan pribadinya soal proyek HAARP. “Baca caption,” serunya.
Ada Operasi Asing Dibalik Meletusnya Gunung Api Picu Polemik
Pernyataan Ulta soal adanya antek asing dibalik meletusnya enam gunung di Indonesia dalam waktu berdekatan, memicu kegaduhan dan perbincangan luas di tengah masyarakat.
Dalam pernyataannya, Ulta menegaskan pandangannya tentang HAARP adalah pemikiran pribadi. Ia tahu, pertanyaan atau spekulasi mengenai HAARP sering dianggap sebagai teori konspirasi.
Menurut Ulta, sikap skeptis membuatnya tak menerima begitu saja penjelasan yang dianggap umum atau lazim. Ia memilih melihat kemungkinan sudut pandang lain atas fenomena yang terjadi.
Ulta mengatakan dirinya memiliki karakter skeptis dan tidak ingin langsung menerima suatu penjelasan hanya karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ia tak memungkiri, membuka kemungkinan adanya perspektif lain untuk melihat rangkaian fenomena alam tersebut.
“HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tdk ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi,” tulis Ulta Levenia dalam media sosial Instagram, Senin (7/9/2026).
Menurut Ulta, HAARP merupakan proyek penelitian ionosfer yang dalam sejarahnya pernah berkaitan dengan sejumlah lembaga Amerika Serikat. Program tersebut kemudian menjadi bahan spekulasi di kalangan masyarakat karena dikaitkan dengan kemampuan memengaruhi berbagai fenomena alam.
Namun, Ulta mengakui belum terdapat bukti ilmiah kredibel yang membuktikan bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca, memicu badai, maupun menyebabkan gempa bumi. Karena itu, keterkaitan antara HAARP dan erupsi gunung api yang ia singgung masih berada dalam ranah dugaan.
“HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima. [PEMIKIRAN PRIBADI],” tuturnya.
Ulta kemudian menjelaskan alasan dirinya tetap mempertanyakan penjelasan yang dinilai umum. Ia menyebut sikap skeptis membuatnya mempertimbangkan alternatif lain, meskipun menyadari pemikiran tersebut kemungkinan besar akan disebut sebagai teori konspirasi.
“Tapi karna saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima,” bebernya.
Ia turut menyinggung pandangan mengenai teori konspirasi yang pada waktu tertentu dapat kembali dibicarakan setelah suatu proyek atau informasi dinyatakan terbuka untuk publik. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari alasan Ulta mengaku berani menyampaikan pemikirannya meski berpotensi mendapat kritik.
Maka ada alternative lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi. Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda. Kalau di Amerika umurnya konspirasi 20-40 tahun tergantung kapan sebuah project ditutup/ selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public,” tuturnya.
Ulta kemudian menghubungkan keberadaan HAARP dengan perspektif geopolitik dan intelijen. Ia mempertanyakan alasan penggunaan pemancar radio berenergi tinggi dalam penelitian ionosfer yang pernah berpusat di Alaska.
“Kenapa ada gap conspiracy ini ttg Project HAARP, karena kalau dilihat dg kaca mata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska,” urainya.
Ulta lantas mengaitkan pertanyaannya dengan momentum kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Ia menyoroti waktu terjadinya erupsi sejumlah gunung api setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
“Walau gak ada bukti ilmiah yg kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, “Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dg Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?” ungkapnya.
Ulta menyebut, dirinya bukan satu-satunya pihak yang pernah memiliki kecurigaan serupa terhadap HAARP. Ia mengatakan sejumlah negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Turki pernah dikaitkan dengan kecurigaan mengenai proyek tersebut.
“Yg curiga ttg ini bukan sy sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama,” ungkapnya di media sosial instagram. ***












