Supriadi Arsyad, sutradara dan koreografer dari pementasan Dayana Dwipantara, dibantu oleh
Bambang Isti, Yuli & Gung Panji sebagai pelatih yg telah menyiapkan pementasan ini selama lebih dari 4 bulan baik untuk mempersiapkan penari maupun pemantapan koreografi.
Ia juga melibatkan DeRay untuk tata cahaya, Fadlan Husaini utk penataan musiknya & beberapa komunitas musik dan seniman lainnya untuk berkolaborasi dalam pementasan ini, seperti Altajaru Ensemble, Seni Budaya Khatulistiwa, dan beberapa seniman pendukung lainnya.
Lebih lanjut, sang sutradara yang dikalangan seniman Indonesia lebih dikenal dengan sebutan B.U atau Bang Ucuy, menceritakan tentang tari garapan Inong Bale yang merupakan sebuah karya untuk menceritakan laskar perempuan Aceh yang sebagian besar terdiri dari para janda yang suaminya tewas di medan perang ketika melawan penjajah.
Laskar Inong Bale ini dibentuk oleh Laksamana Keumalahayati yang tercatat dalam sejarah sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.
Laskar ini sangat berani, dengan rencong terhunus, gigih berperang dan memukul mundur penjajah. Kegigihan dan semangat Inong Bale inilah yang menjadi inspirasi untuk diangkat ke dalam pentas tari.
Sama seperti semangat dan kegigihan laskar Inong Bale, ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Menari inipun penuh semangat dan gigih tentu bukan dalam berperang, namun dalam merawat, mendalami, mengenalkan seni budaya yang ada di Indonesia, hingga ke ujung-ujung dunia.
“Dan tentunya terhubung juga dengan hari Pahlawan 10 Nopember,” katanya.
Pementasan Dayana Dwipantara didukung sepenuhnya oleh PT Pegadaian. (tim)












