Jakarta, EDITOR.ID,- Indonesia berduka. Sangat memilukan. Rusuh pada aksi demo 27 Agustus 2026 memakan korban, satu orang meninggal dunia. Ironisnya korbannya tak tahu menahu soal demo dan bukan peserta aksi demo yang anarkhis. Korban hanyalah seorang pedagang kecil yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya di lokasi Pejompongan.
Korban kebiadaban gerombolan orang di dalam aksi rusuh 27 Agustus malam itu bernama Bambang Setiyawan (59)
warga Bendungan Hilir. Ayah satu anak ini disebut tewas dalam kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.
Bambang Disebut Diseret dan Dipukuli
Sekelompok orang menghajar Bambang yang dikira massa peserta demo.
Dalam video yang diperlihatkan sebagaimana dilansir dari Kompas.com, tampak sejumlah pria membawa kayu. Seorang pria terlihat diseret dan dipukuli sekelompok pria.
Istri almarhum Bambang, Sudarsi (56), mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.
“Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu,” tuturnya.
Ketua RT 002/06 Jalan Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Aban Sobandi, mengatakan Bambang merupakan warganya yang menjadi korban dalam kericuhan tersebut.
Aban mengaku berada di lokasi saat kericuhan, tetapi tidak melihat langsung kejadian yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.
Ia kemudian meminta keterangan dari tetangga Bambang yang merekam video tersebut. Menurut keterangan yang diterimanya, Bambang diseret dan dianiaya sekelompok pria.
“(Bambang) Digeret-geret,” ucap Aban.
Kisah Memilukan Bambang
Bambang sehari-hari berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya. Saat kejadian Bambang berjualan hingga sore.
Istrinya, Sudarsi (56), mengatakan Bambang masih berjualan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Ia kemudian meminta suaminya menutup dagangan setelah melihat massa mulai ramai.
“Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa udah banyak’, saya bilang tutup. Pas dia melihat, ‘Oh ya udah, tutup’. Saya bantuinlah,” ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).
Setelah itu, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.
Setelah situasi dinilai aman, Bambang kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan. Namun, ia tak kunjung pulang.
Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang meninggal setelah anaknya mengenali sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.
Jenazah Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri sebelum menuju rumah duka di Bendungan Hilir. Bambang rencananya dimakamkan di TPU Kemanggisan.
Bambang Menjadi Korban Penganiayaan Gerombolan Tak Dikenal
Bambang menjadi korban meninggal menjadi korban penganiayaan gerombolan tak dikenal yang membawa tongkat dan kayu saat kericuhan terjadi di sejumlah titik di Jakarta Pusat. Kerusuhan ini dilakukan massa tak dikenal.
Massa anarkhis baru berdatangan pada siang menjelang setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demonstrasi dengan damai dan santun di depan Gedung DPR RI, beraudiensi dengan pimpinan DPR RI, lalu membubarkan diri.
Dalam aksi tersebut, AMPB menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.
Kericuhan di Pejompongan
Aban mengatakan kericuhan di Pejompongan terjadi setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI selesai. Menurut dia, massa kemudian masuk ke kawasan permukiman dan terlibat kericuhan dengan warga.
“Memakan korban jiwa, satu orang. (Akibat penyusup) Berkelakuan seperti binatang,” kata Aban sebagaimana dilansir dari Tribunnews, Jumat (28/8/2026).
Aban mengatakan penanganan aksi demonstrasi kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut ada pihak yang tidak dikenal dan menilai warga seperti diadu domba.
“Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba,” ujarnya.
Menurut Aban, kericuhan terjadi ketika massa yang disebutnya datang seperti anak-anak pelajar memasuki kawasan tersebut.
“Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi,” jelasnya.
Rusuh Memanas Lansia dan Balita Diungsikan
Sebelum kericuhan, Aban mengatakan warga telah mengamankan kelompok rentan.
Lansia dan warga yang memiliki balita diungsikan ke rumah saudara yang berada jauh dari lokasi. Sementara Aban dan warga lainnya tetap berjaga di rumah masing-masing.
“Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh,” imbuhnya.
Berdasarkan informasi dari Ketua RW dan warga, Aban juga mengatakan dua anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad dan Andre Rosiade, telah mendatangi rumah duka Bambang pada Kamis (27/8/2026) malam. ****












