Kejadian tersebut oleh media-media menanggapinya dengan memberitakan secara besar-besaran — ada upaya kudeta dilakukan oleh Grup Wagner yang dipimpin oleh Evgeny Prigozhin.
Sementara Putin dalam keterangan resminya mengatakan insiden tersebut menurut Putin, “adalah tikaman dari belakang di tengah konflik Ukraina,” kata Putin.
Tapi Putin mengakuinya bahwa Kota Rostov-on-Don, pusat militer utamanya, berada di luar kendalinya.
Bagi Indonesia menyikapi Insiden tersebut sangat mengejutkan — membuat pihak KBRI Moskow mengeluarkan peringatan kepada seluruh WNI atau masyarakat Indonesia di wilayah Federasi Rusia.
Tentang Group Wagner
Grup Wagner sudah dikenal sebagai tentara bayaran yang notabene disewa oleh Putin untuk menginvasi Ukraina menempatkan pasukannya di garis paling terdepan.
Itu artinya, Grup Wagner menjadi ujung tombak selama dekade setahun ini.
Dan bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa tentara bayaran swasta Grup Wagner merupakan kepanjangan tangan Presiden Vladimir Putin — bahkan bisa dibilang kebanyakan anggotanya seperti pengawal pribadi Presiden Vladimir Putin.
Tentu semua orang kaget dengan derasnya pemberitaan Grup Wagner melakukan kudeta melawan Kementrian pertahanan Rusia.
Pemberitaan itu condong ke kudeta Putin padahal Grup Wagner memerangi Kementrian Pertahanan (Kemenham) Rusia. Bukan mengkudeta atau menggulingkan presiden Vladimir Putin.
Fakta di lapangan, tentara swasta Grup Wagner sebegitu beraninya mencoba mengkudeta Kemenhannya sendiri.
Namun, berita-berita yang diedarkan oleh media mainstream, Grup Wagner sudah mengepung kota dengan tank-tank juga persenjataan peralatan berat, warga masyarakat pun terlihat tak memperdulikannya, malah masyarakat asyik ber-swafoto dengan pasukan Grup Wagner saat berlangsungnya kudeta.
Media-media mainstream memberitakan semua hampir senada, “perang saudara di Rusia” dalam narasi pemberitaannya ada juga “pengkhianat yang melakukan penikaman dari belakang”.
Namun kenyataannya penduduk Rusia tak terpengaruh terhadap pemberitaan yang sudah mereka dengungkan oleh media-media itu, bagi penduduk seolah-olah mereka media-medis telah salah menganalisis persoalan yang sebenarnya.
Media-media mainstream memberitakan kudeta terhadap Putin hal itu sebenarnya tidak merugikan Putin sendiri, tapi justru
menguntungkannya.
Pasalnya, yang ingin disasar oleh Grup Wagner sesungguhnya adalah mengkudeta para pejabat tinggi militer yang ada di Kemenhan Rusia yang dianggap oleh Grup Wagner tidak becus dan korup, dimana presiden Putin memang belum punya kekuasaan 100% di Kemenhan Rusia.










