Sidoarjo, EDITOR.ID – Acara buka puasa bersama (bukber) bertema Bollywood yang diselenggarakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo, Fenny Apridawati, viral dan menarik perhatian publik, terutama ketika disandingkan dengan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
Acara buka puasa bersama (bukber) dengan tema mewah ala Bollywood atau India ini dihadiri kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan camat di lingkungan Pemkab Sidoaro, Jawa Timur.
Acara bukber digelar di Mahabarata Palace Graha Unesa, Surabaya, pada 6 Maret 2026 tersebut viral dan menuai kritik tajam karena dianggap kurang menunjukkan empati di tengah keluhan masyarakat mengenai infrastruktur, khususnya jalan rusak.
Acara tersebut mengusung konsep Bollywood, di mana para tamu dan penyelenggara mengenakan busana khas India yang mewah dan berwarna-warni.
Acara yang dikemas sebagai rapat koordinasi sekaligus buka puasa bersama ini menggunakan ini dominasi warna emas, merah, dan oranye. Para pejabat yang hadir terlihat mengenakan busana khas India seperti Saree.
Situasi ini memang menciptakan kontras yang cukup tajam dan memicu diskusi hangat di tengah masyarakat. Fenomena kritik publik terhadap gaya hidup pejabat di tengah persoalan infrastruktur dasar bukanlah hal baru, namun tetap menjadi isu sensitif yang menyangkut empati dan prioritas kebijakan.
Penggunaan tema yang glamor di tengah momen Ramadan sering kali memicu diskusi di masyarakat mengenai batasan gaya hidup pejabat publik.
Fenny Apridawati telah menyampaikan, Fenny menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan dana APBD, acara tersebut merupakan kegiatan internal merupakan inisiatif pribadi/internal. Ia juga menyebut pakaian yang dikenakan adalah produk UKM lokal Sidoarjo
​Profil Kekayaan (LHKPN)
​Fenny Apridawati sebagai pejabat publik rutin melaporkan kekayaannya kepada KPK. Berdasarkan data terbaru total Kekayaannya dilaporkan mencapai sekitar Rp 6,5 miliar.
​Mayoritas kekayaan tersebut biasanya terdiri dari aset tanah dan bangunan, alat transportasi (kendaraan), serta kas atau setara kas.
Rp4.885.000.000.
Alat Transportasi & Mesin: Senilai Rp581.000.000.
Harta lainnya: Mencakup kas dan setara kas yang membawa total kekayaannya menembus angka Rp6,5 miliar.
​Sebagai Sekda, Fenny memegang peran administratif tertinggi bagi ASN di Kabupaten Sidoarjo. Sorotan terhadap gaya hidup pejabat di wilayah ini sering kali dikaitkan dengan prinsip kesederhanaan yang sering ditekankan oleh pemerintah pusat bagi para abdi negara, terutama saat mengadakan acara yang bersifat seremonial.
​Gaya hidup pejabat memang selalu menjadi diskursus publik yang hangat. Apakah Anda ingin saya membantu membedah rincian aset dari LHKPN tersebut secara lebih spesifik?
Video dokumentasi acara tersebut memicu kritik tajam dari warganet karena dianggap menunjukkan gaya hidup mewah dan kurang empati di tengah banyaknya keluhan masyarakat mengenai infrastruktur, terutama kondisi jalan rusak di wilayah Sidoarjo.
​Krisis Empati dan Simbolisme Publik
​Secara sosiologis, pejabat publik memikul beban simbolis. Ketika masyarakat sedang berjuang dengan masalah harian—seperti jalan rusak yang menghambat ekonomi dan membahayakan keselamatan—tontonan acara bertema mewah (seperti tema Bollywood atau “India-indiaan”) sering kali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpekaan atau “tuli” terhadap penderitaan warga.
​Prioritas Anggaran (APBD)
​Salah satu poin utama yang biasanya dikritik warga adalah alokasi dana. Meskipun biaya acara buka puasa mungkin jauh lebih kecil dibandingkan anggaran perbaikan jalan, secara psikologis publik akan mempertanyakan
​Apakah energi dan fokus birokrasi lebih banyak tersita untuk seremoni daripada eksekusi lapangan?
​Sejauh mana efektivitas rapat koordinasi jika hasilnya tidak segera dirasakan dalam bentuk perbaikan infrastruktur?
​Dampak di Media Sosial
​Di era digital, dokumentasi yang beredar menjadi bumerang bagi instansi pemerintah. Narasi yang terbentuk biasanya sangat cepat dan sulit dikendalikan. Foto atau video “bukber glamor” menjadi bukti visual yang mempermudah masyarakat untuk melakukan perbandingan langsung (juxtaposition) dengan foto jalan berlubang di wilayah yang sama.
​Transparansi Anggaran
Menjelaskan apakah acara tersebut menggunakan dana pribadi atau APBD.
​Akselerasi Proyek
Memberikan progres nyata terkait perbaikan jalan (misalnya melalui program betonisasi atau pemeliharaan rutin) sebagai jawaban atas kritik.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo telah memberikan tanggapan resmi melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo, Fenny Apridawati, terkait acara buka puasa bersama (bukber) bertema Bollywood yang viral di media sosial.
​Sumber Anggaran
​Sekda Sidoarjo menegaskan bahwa acara yang diselenggarakan pada Jumat (6/3/2026) di Mahabarata Palace, Surabaya tersebut tidak menggunakan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Ia menyebutkan bahwa kegiatan itu merupakan inisiatif silaturahmi internal dan biaya yang dikeluarkan tidak membebani keuangan daerah.
​Tujuan dan Format Acara
​Pemkab menyatakan bahwa acara tersebut sebenarnya adalah Forum Koordinasi Strategis yang dilakukan di luar jam kerja. Agenda utamanya meliputi.
​Klarifikasi Kostum dan Lokasi
​Terkait pakaian saree yang dikenakan, Fenny mengklaim bahwa pakaian dan atribut yang digunakan dalam acara tersebut merupakan produk UKM sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.
Sekda menjelaskan bahwa itu adalah produk dari UKM lokal Sidoarjo. Penggunaan kostum tersebut diklaim sebagai bentuk promosi produk lokal dan menyesuaikan dengan tema lokasi acara.
Acara diadakan di gedung tersebut karena merupakan undangan pribadi/silaturahmi dan tidak ada biaya sewa gedung yang dibebankan kepada negara.
Fenny kembali menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan dana APBD, melainkan inisiatif pribadi/internal. Ia juga menyebut pakaian yang dikenakan adalah produk UKM lokal Sidoarjo.
​Permohonan Maaf
Setelah viral video dokumentasinya dan mendapat kecaman, Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik, permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya @fennyaprdwt.
Fenny Apridawati sampaikan pada 13 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa acara tersebut merupakan rapat koordinasi strategis sekaligus silaturahmi.
Mengakui adanya ketidaktepatan momentum dalam penyelenggaraan acara yang terlihat kontras dengan kondisi lapangan.
​Merespons kritik tajam netizen yang membandingkan kemewahan acara dengan kondisi infrastruktur (jalan rusak) di Sidoarjo, Sekda menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Beliau mengakui adanya kurangnya empati dan sensitivitas dalam mendokumentasikan aktivitas pejabat di tengah situasi ekonomi dan keluhan masyarakat terkait pelayanan publik.
​Masyarakat di media sosial tetap memberikan respons kritis, terutama mendorong adanya audit transparan untuk memastikan akuntabilitas biaya meskipun diklaim tidak menggunakan APBD.
Tempat Penyelenggaraan Bukber
“Mahabarata Palace” di Graha UNESA Surabaya belakangan ini menjadi sorotan karena menjadi lokasi acara buka puasa bersama (bukber) dengan konsep mewah bertema Bollywood.
Tempat ini sebenarnya merupakan area atau aula di dalam kompleks gedung pertemuan yang didekorasi secara tematik untuk menghadirkan suasana ala India yang megah.
“Mahabarata Palace” di Graha Unesa
​Ruangan disulap dengan dekorasi megah yang didominasi warna emas, merah, dan oranye. Pencahayaan glamor serta alunan musik khas India digunakan untuk memperkuat kesan istana Mahabarata.
​Menu Hidangan Tematik
Menyajikan berbagai variasi menu makanan bernuansa India dan Timur Tengah, yang dilaporkan mencapai lebih dari 100 jenis hidangan unik.
​Fasilitas Kostum
Pengunjung atau tamu acara seringkali dapat menyewa busana tradisional India seperti sari atau pakaian ala Bollywood lainnya untuk melengkapi pengalaman foto di lokasi yang estetik tersebut.
​Lokasi Acara Viral
Tempat ini sempat viral di media sosial pada Maret 2026 setelah digunakan sebagai lokasi rapat koordinasi dan buka puasa bersama oleh pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang mengusung tema mewah tersebut. (*)












