Jakarta, EDITOR.ID,- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir hingga Selasa (12/5/2026) hari ini rontok. Harga puluhan saham terjun bebas ke level harga paling rendah. Saham-saham berkapitalisasi besar yang dikendalikan konglomerat ternama Prajogo Pangestu dan Grup Aburizal Bakrie ikut terpuruk.
Saham kepemilikan mayoritas Prajogo Pangestu yang terkoreksi diantaranya BREN, PTRO dan CUAN. Kemudian saham dibawah bendera kepemilikan Grup Bakrie yang terkoreksi diantaranya BUMI, ENRG. BUMI atau PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah salah satu perusahaan pertambangan batubara terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari konglomerasi Bakrie Group.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) adalah perusahaan hulu minyak dan gas bumi yang merupakan bagian dari Grup Bakrie.
Tak sampai disitu saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini jadi primadona dan stabil ikut runtuh. Seperti ANTM, BMRI, BRI, dan lainnya.
Net sell terbesar di pasar reguler juga melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 890 miliar.
Selanjutnya, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Net sell asing sangat besar. Tak ketinggalan, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Investor dibuat terkapar dan berdarah-darah. Pasalnya portofolionya merah semua. Keruntuhan indeks harga saham dipicu dua sentimen negatif. Pertama, anjloknya nilai rupiah terendah sepanjang sejarah Indonesia berdiri, yakni Rp 17.500 per dolar AS.
Kedua, isu kebijakan pemerintah yang menakuti dunia usaha, yakni soal penarikan pajak bagi pengusaha besar hingga rencana pemerintah akan menaikkan royalti kepada pengusaha tambang migas, emas, batu bara, nikel hingga timah. Meski belakangan kedua isu tersebut dibantah tegas.
Setelah melanjutkan koreksi pada sesi I, IHSG sempat rebound terbatas setelah diberitakan bahwa Menteri ESDM menunda rencana penerapan tarif royalti tambang komoditas untuk tembaga, timah, nikel, emas dan perak, untuk menyusun formulasi yang lebih optimal dan adil bagi semua pihak.
Namun di lain pihak, Menteri Keuangan memastikan bahwa aturan penyesuaian tarif royalti perusahaan tambang akan mulai berlaku pada awal Juni 2026 dan akan segera dirilis Peraturan Presiden mengenai hal itu. Sehingga IHSG kembali melemah. Pelemahan Rupiah hingga posisi di atas Rp 17.400 per dollar AS juga menambah sentimen negatif.
Kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada pengusaha ini sempat meruntuhkan kepercayaan investor asing hingga ke titik terendah. Akibatnya banyak investasi asing yang ditanamkan di pasar saham beramai-ramai menarik diri.
Tekanan jual investor asing membayangi perdagangan saham domestik sepanjang sepekan terakhir. Sejumlah saham bank besar hingga sektor tambang atau komoditas energi tercatat menjadi sasaran aksi jual.
Sepanjang pekan lalu pasar saham mencatat net buy asing sebesar Rp12,26 triliun. Torehan positif tersebut terjadi menjelang pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026 yang akan memberi perkembangan terbaru penilaian penyedia indeks global tersebut terhadap pasar modal Indonesia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta sebagaimana dilansir dari Bisnis.com, menilai net buy tersebut bisa diartikan sebagai langkah antisipasi investor asing untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental solid, meskipun di sisi lain kebijakan pembekuan rebalancing tetap dilakukan.
Meski ada risiko saham yang masuk daftar HSC akan dikeluarkan, sejumlah saham-saham bluechip Indonesia masih tetap menjadi konstituen indeks MSCI. Menurutnya, investor asing menilai saham-saham tersebut sudah undervalued sejalan dengan terpangkasnya IHSG sejak awal tahun. ***












