Beriman Kepada Yang Ghaib dan Menafkahkan Sebagian Rejeki Kita Bantu Sesama

Beriman kepada yang gaib (Al-Ghaib): Mempercayai segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia, namun diyakini kebenarannya karena diberitakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya—seperti keberadaan Allah, para malaikat, hari kiamat, surga, dan neraka.

Ilustrasi

Jakarta, EDITOR.ID,- Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya bagi mereka yang ingin memeroleh petunjuk sejati dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam Surah Al-Baqarah ayat 3, Allah Subhanahu wa Ta’ala memaparkan karakteristik utama orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini menjadi fondasi penting yang merangkum dimensi keimanan, hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, serta kepedulian sosial secara horizontal.

QS. Al-Baqarah (2): Ayat 3

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Ayat ini merupakan lanjutan dari sifat-sifat orang yang bertakwa (muttaqin) yang dijelaskan pada ayat sebelumnya (QS. Al-Baqarah: 2). Terdapat tiga karakteristik utama yang disebutkan dalam ayat ini:

Beriman kepada yang gaib (Al-Ghaib): Mempercayai segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia, namun diyakini kebenarannya karena diberitakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya—seperti keberadaan Allah, para malaikat, hari kiamat, surga, dan neraka.

Menegakkan salat (Yuiqimunas-salah): Melaksanakan salat fardhu secara istiqomah dengan menjaga rukun, syarat, waktu, serta kekhusyukannya, baik secara lahir maupun batin.

Berinfak (Yunfiqon): Menyisihkan sebagian dari harta yang telah Allah anugerahkan untuk disedekahkan di jalan kebaikan, membantu sesama yang membutuhkan, serta menunaikan zakat.

Berdasarkan ayat tersebut, terdapat tiga pilar utama yang menjadi penopang utama pribadi yang bertakwa. Berikut adalah penjelasannya:

1. Beriman kepada yang Ghaib: Fondasi Keyakinan Tanpa Batas Indera

Pilar pertama dari sifat orang bertakwa adalah kemampuan untuk beriman kepada yang ghaib. Secara bahasa, ghaib berarti sesuatu yang tidak terlihat, tersembunyi, atau tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia.

Dalam konteks akidah Islam, beriman kepada yang ghaib mencakup keyakinan yang kokoh terhadap segala hal yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, meskipun hal tersebut tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata kepala.

Ini meliputi:
1, Iman kepada Allah Ta’ala (Zat-Nya yang Maha Suci).
2, Iman kepada malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, surga, neraka, serta takdir baik dan buruk.

Keimanan jenis inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Keimanan kepada yang ghaib membuktikan bahwa akal manusia tunduk kepada kebenaran ilahi, meyakini bahwa eksistensi tidak hanya terbatas pada apa yang tampak secara fisik semata.

2. Mendirikan Salat: Hubungan Erat Hamba dengan Sang Pencipta

Setelah meletakkan fondasi akidah yang kuat melalui keimanan kepada yang ghaib, pilar kedua yang ditegakkan adalah mendirikan salat (iqamatush-shalah).

Frasa “mendirikan salat” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar “melaksanakan salat”. Mendirikan berarti menegakkan, menjaga konsistensinya, serta menunaikannya dengan menyempurnakan rukun, syarat, khusyuk, serta adab-adabnya—baik secara lahir maupun batin.

Salat adalah wujud nyata dari hubungan vertikal (hablum minallah). Melalui salat, seorang hamba memuji, memohon petunjuk, dan berserah diri kepada Allah secara berkala dalam sehari semalam.

Salat yang didirikan dengan benar akan menjadi benteng pelindung dari perbuatan keji dan mungkar, serta sumber ketenangan jiwa di tengah dinamika kehidupan yang penuh tantangan.

3. Menafkahkan Sebagian Rezeki: Wujud Nyata Kepedulian Sosial

Pilar ketiga yang melengkapi profil orang bertakwa dalam ayat ini adalah menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT (wa mimma razaqnahum yunfiqun).

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang egois atau hanya mementingkan keselamatan spiritual pribadi. Keimanan yang benar dan ibadah ritual yang khusyuk harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial yang nyata (hablum minannas).

Makna Rezeki yang Luas: Rezeki dalam Islam tidak sebatas harta benda atau uang saja, melainkan mencakup ilmu pengetahuan, tenaga, waktu, hingga pengaruh positif yang dapat disalurkan untuk kepentingan sesama.

Berbagi kepada Sesama: Menafkahkan sebagian rezeki berarti mendistribusikan nikmat yang dititipkan Allah kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, kerabat, maupun untuk kepentingan umum di jalan Allah (infak, sedekah, dan zakat).

Tindakan berbagi ini membersihkan jiwa dari sifat kikir, menumbuhkan rasa empati, serta memperkuat solidaritas dan keharmonisan di tengah masyarakat.

Kesimpulan

Surah Al-Baqarah ayat 3 memberikan panduan secara utuh mengenai ajaran Islam yang memadukan tiga unsur penting: keyakinan batin (beriman kepada yang ghaib), ketaatan ritual (mendirikan salat), dan amal sosial (menafkahkan sebagian rezeki).

Ketiga pilar ini saling mengikat dan tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang benar-benar beriman kepada yang ghaib pasti akan taat mendirikan salat, dan ketaatan ibadahnya itu akan tercermin dari kepedulian dermawan kepada sesama manusia.

Dengan mengamalkan nilai-nilai luhur ini, umat Islam diharapkan mampu membangun pribadi yang saleh secara spiritual sekaligus bermanfaat secara sosial bagi kemaslahatan bersama. ***

Leave a Reply