Jakarta, EDITOR.ID,- Asosiasi Pengusaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) menemui Wakil Presiden RI (Wapres) Gibran Rakabuming Raka di Kantor Wapres, Jumat (21/11/2025). Tujuan pertemuan tersebut APUDSI melaporkan hasil misi dagang ke sejumlah negara di Eropa seperti Belanda, Belgia, Perancis dan Swiss.
“Alhamdulillah Sekjen APUDSI Alimudin sudah melaporkan hasil APUDSI GOES TO EUROPE ke Mas Wapres,” sebut Ketua Dewan Penasehat APUDSI Khairil Hamzah dalam keterangannya.
Selain melaporkan hasil misi dagang selama berada di Eropa, APUDSI juga memaparkan rencana pertemuan pelaku usaha desa Internasional yang akan diselenggarakan Desember 2025 mendatang. Dalam kesempatan ini APUDSI meminta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berkenan membuka acara tersebut.
“Beliau juga ingin menyempatkan hadir di NEVSUMMEX atau even Pertemuan Pelaku Usaha Desa International di Desember 2025 besok,” ujar Khairil Hamzah yang juga founder KHP Law Firm ini.
Menariknya salah satu pengurus APUDSI Belanda kini sedang dicalonkan sebagai Perdana Menteri. APUDSI mendoakan dari tanah air dan sangat mendukung penuh.
“Kita doakan saudara kita Syafiih Kamil (APUDSI Belanda) sebagai Calon Perdana Menteri Belanda dari partai Kristen Demokrat sukses terpilih,” ujar Khairil Hamzah.

Meneer Syafiih Kamil aktif di Java Foundation Amsterdam yang kontribusi aktif, gotong royong dalam menciptakan tatanan “Global Harmony
Khairil menjelaskan bahwa meneer Syafiih Kamil aktif di Java Foundation Amsterdam yang kontribusi aktif, gotong royong dalam menciptakan tatanan “Global Harmony”.
Wapres Gibran Generani Milenial
Khairil yang kini juga berprofesi sebagai entrepeneur digital mengatakan apapun siapapun bagaimanapun Wapres Gibran Rakabuming Raka adalah harapan bangsa bahwa generasi selanjutnya punya kemampuan.
“APUDSI adalah wadah entrepeneur (pelaku usaha desa) yang didirikan oleh generasi milineal Februari 2025 berharap akan lebih banyak lagi generasi muda sebagai pelaku usaha. Persatuan harus kita tumbuhkan,” tegas Khairil.
Persatuan basic sinergy dan kolaborasi adalah melihat kesamaan bukan perbedaan. Semoga APUDSI LDN Nuscorp adalah kawah candra dimuka bagi kepemimpinan bangsa disegala lapisan.
“Terimakasih APUDSI dibawah kepemimpinan ketum sekjen dan semua anak anak muda telah memberikan ketenangan bathin bagi kami yg senior akan keberlanjutan yg baik. Spt kata seseorang ” Tenang senior ada kami” god job guys keep on fighting and we will be @your side,” paparnya.
Misi Dagang APUDSI di Eropa, Bantu Pelaku Usaha Desa Tembus Pasar Global

Ketua Umum Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) Maulidan Isbar bersama 28 orang jajaran pengurus APUDSI menggelar misi dagang ke Eropa. Tujuannya mendorong produk desa yang dimilik pelaku usaha desa bisa menembus pasar Eropa.
Ajang DMI Expo 2025 ini dimanfaatkan oleh APUDSI untuk menampilkan produk-produk unggulan desa untuk dapat dinikmati oleh pelaku industry dan mitra internasional seperti Kopi, kuliner, dan produk Bola karya dari pengusaha bola di Majalengka, Jawa Barat.
Ketua Umum Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) Maulidan Isbar bersama 28 orang jajaran pengurus APUDSI menggelar misi dagang ke Eropa. Tujuannya mendorong produk desa yang dimilik pelaku usaha desa bisa menembus pasar Eropa.
Salah satu kegiatan dalam lawatan tersebut menghadiri kegiatan Discovering The Magnificence of indonesia (DMI) Expo 2025 yang digelar di Utrect, Belanda, 1–2 November 2025.
Dalam kegiatan DMI Expo ini, Maulidan Isbar menjadi pembicara kunci dalam sesi “Taste of The Archipelago : Positioning Indonesia F&B, Herbs & Spices in Europe: yang berlangsung di Pusat Kegiatan Bisnis dan Budaya Indonesia House Amsterdam.
Ajang pameran ini merupakan bagian dari rangkaian lawatan APUDSI ke sejumlah negara di Eropa. Diantaranya di Belanda, Belgia, Perancis dan Swiss.
Maulidan Isbar dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa APUDSI merupakan organisasi yang berfokus pada pelaku usaha desa di seluruh Indonesia. Dan melalui momentum kegiatan ini APUDSI berikhtiar untuk membuka pintu dagang dan memperkuat jejaring global agar produk-produk unggulan dari seluruh desa di Indonesia bisa diterima di pasar global.
“APUDSI siap membawa cita rasa Nusantara menembus pasar Eropa sebagai Upaya kami untuk memajukan perekonomian desa yang berkelanjutan dan berdampak,” kata Maulidan Isbar yang juga sebagai pengusaha muda ini.
Ajang DMI Expo 2025 ini dimanfaatkan oleh APUDSI untuk menampilkan produk-produk unggulan desa untuk dapat dinikmati oleh pelaku industry dan mitra internasional seperti Kopi, kuliner, dan produk Bola karya dari pengusaha bola di Majalengka, Jawa Barat.
Maulidan Isbar berharap agar kegiatan DMI Expo ini bisa berkelanjutan setiap tahunnya dan menjadi gerbang bagi para pelaku usaha desa di seluruh Indonesia untuk dapat menembus pasar global.
Misi Dagang APUDSI untuk Bantu Produk Desa
Lantas apa misi APUDSI keliling Eropa. Apa tujuan dan target yang hendak dicapai?
Ketua Umum Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) Maulidan Isbar dalam sebuah wawancara di kanal Detik Pagi di Youtube menyampaikan APUDSI ingin menjembatani, mengkurasi dan membantu secara administrasi para pelaku usaha desa anggota APUDSI yang punya produk ekspor agar lebih mudah menembus pasar Eropa.
Maulidan Isbar menjelaskan APUDSI atau Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia adalah sebuah wadah atau platform yang memang dilahirnya dan dihadirkan dirinya bersama rekan-rekan untuk mewadahi berbagai kepentingan terutama terkait dengan pembangunan ekonomi di desa.
“Karena kita tahu bahwa Indonesia itu kan DNA nya DNA desa karena hampir sekitar 87,17 persen teritori wilayah kita di NKRI itu adalah wilayah desa,” ujarnya.
Menurut Maulidan, ada sekitar 127 juta warga Indonesia yang memang berdomisili atau secara administrasi tinggal di desa. Ditambah lagi Indonesia dikenal sebagai negara agraris artinya hampir semua komodite yang dihasilkan dari produksi pangan kemudian pertanian, perikanan, pertambangan bahkan pariwisata itu semua diproduksi dibasis wilayah desa.
Hanya saja ada persoalan yang sangat krusial dari desa yakni soal kemandirian dan keberlanjutan ekonominya.
“Nah ketika bicara soal keberlanjutan ekonomi maka peran pelaku usaha disini sangat signifikan akhirnya. Kita juga lihat perkembangan para pelaku usaha, pedagang, pengusaha, itu tumbuh berkembang saat ini didesa,” ungkapnya.
Pelaku usaha itu menurut Maulidan berasal dari berbagai jenis latar belakang dari mulai pelaku usaha yang memiliki warung, memiliki peternakan, pertanian, perikanan. Bahkan pelaku usaha yang memiliki sumber daya alam dan mineral yang dikelola secara mandiri oleh para pelaku ekonomi di desa dan ini belum terkelola dengan baik.
“Itulah historical atau asal muasal kenapa akhirnya APUDSI ingin hadir. Jadi kita pengen rumah besarnya untuk para pelaku usaha desa yang tersebar dari mulai Sabang sampai Merauke kurang lebih 416 kabupaten yang ada di 37 propinsi di Indonesia,” katanya.
Maulidan lebih jauh mengatakan saat ini APUDSI sedang melakukan misi dagang untuk memasarkan produk desa ke Eropa yang mencakup Belanda, Belgia, Perancis, dan Swiss.
Kenapa Memilih Lawatan ke Eropa
Kenapa memilih lawatan ke Eropa? Bukan Negara Lain?
“Kenapa kita memilih pasar Eropa. Karena kehadiran misi APUDSI disini berbarengan dengan kami ikut terlibat dalam partisipasi dalam kegiatan Discovering The Magnificence of indonesia (DMI) Expo 2025 yang digelar di Utrect, Belanda, 1–2 November 2025,” katanya.
“DMI memang tahun ini sudah yang kedua diselenggarakan Indonesia menggantikan even yang sangat populer yakni Tong-Tong Belanda,” imbuhnya.
Oleh sebab itu APUDSI berpartisipasi sebagai peserta ekspo dan juga supporting disini sekaligus melakukan konsolidasi kelembagaan. Yakni melantik dan mempersiapkan kantor-kantor perwakilan APUDSI di luar negeri.
APUDSI harus hadir di negara-negara tersebut yakni di Belanda, Perancis, Belgia dan juga di Swiss.
Maulidan Isbar mengatakan dirinya secara resmi melantik Majelis Kesejahteraan Luar Negeri (MKLN) APUDSI Belanda, Prancis, Belgia dan Swiss.
Pelantikan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan KBRI Paris, jajaran pengurus APUDSI Pusat, serta para pelaku usaha diaspora Indonesia yang tinggal di berbagai kota di Prancis dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Foto Ist
“Dan kami juga langsung melakukan bussiness meeting dan kontrak transaksi. Kenapa kami memilih Eropa? Karena Eropa ini kan pasar yang masih mempunyai angka yang sangat bagus bagi ekspektasi terkait perdagangan internasional,” paparnya.
Dan juga yang kedua, menurut Maulidan, banyak sekali orang-orang Indonesia yang tinggal di negara Eropa, terutama Belanda karena Belanda 10 persen dari penduduk Belanda adalah penduduk Indonesia.
“Diaspora kita dan itu kebutuhan herbs & spices dan home dekor sangat signifikan dan hampir semua disupply produsen-produsen di desa,” ujarnya.
APUDSI Jembatani Antara Buyer di Eropa dengan Seller di Desa Indonesia
APUDSI menjembatani antara pelaku usaha desa dengan pasar di Eropa. Oleh sebab itu road show ke Eropa ini bisa membuka hubungan lebih baik antara pelaku usaha desa yang dibawah APUDSI dengan para buyer dan region yang ada di Eropa.
“Bukan hanya dengan diaspora tapi juga para pelaku usaha asli orang Eropa yang ingin bertransaksi dengan kami,” tandasnya.
Jaga Quality Produk Desa dan Sertifikasi
Menurut Maulidan jika kita berbicara soal pasar internasional hari ini terutama pasar Eropa, mereka itu sangat konsen sekali terhadap quality produknya bahkan setiap produk itu harus memiliki sertifikasi sendiri.
“Juga ada sertifikasi green Sustainability adalah keberlanjutan lingkungan. Nah ini memang salah satu kendala yang saat ini secara faktual terjadi di para pelaku usaha desa,” katanya.
“Oleh karena itu salah satunya kami melakukan bench marking dan mempersiapkan. Jadi keuntungan dengan Apudsi itu kalau teman-teman punya usaha tapi demandnya tinggi dan temen-teman bisa suplai namun kendalanya di soal dokumen, sertifikasi dan lain sebagainya sifatnya administratif maka Apudsi bisa memfasilitasi untuk membantu menyiapkan dokumen-dokumen tersebut,” tambahnya.
Karena Apudsi ingin mendorong skema connecting the dot ini antara si pelaku usaha yang secara faktual di lapangan tapi mereka berangkat tidak dari well management. “Mungkin berangkatnya dari kultural. Dari tradisional. Artinya treatment terkait dengan kebiasaan nya pun masih belum terlalu majeur. kita disisi profesional,” katanya.
Tapi dengan adanya Apudsi, kekurangan tersebut bisa difasilitasi. Itulah fungsi Apudsi hadir sebagai rumah untuk melengkapi yang memang masih kurang secara prinsip mereka sudah punya permintaan banyak. Contoh misalnya ketika mau ekspor udang tanam ke Eropa.
“Nah Eropa sangat konsen sekali harus punya sertifikat ACP atau Aqua Sertificate Protection. Dan itu sertifikatnya tidak boleh ada di pabrik penampungnya tapi harus ada di penambaknya,” katanya.
“Padahal para penambak di anggota kita yang ada di Banyuwangi di Bali di Banten, mereka itu tradisional treatment sekali. Artinya legalitas saja nggak punya. Bagaimana mereka akan ditingkatkan sebagai pemilik sertifikat ACP,” tambahnya.
Apudsi didukung pemerintah bahkan berkolaborasi dengan Kementrian Desa, Kementrian Perdagangan, Kementrian UMKM, dan Kementrian Koperasi dan berbagai lembaga lainnya termasuk pemerintah daerah.
Di luar negeri kami bersinergi dengan KBRI dan atase-atase perdagangan. Saat ini kebetulan kami bekerja sama dengan di titik yang kami kunjungi tapi tidak menutup kemungkinan kami akan melebarkan sayap dengan negara-negara diluar Eropa. Seperti negara di Amerika, Asia, Afrika dan Australia. ***












