Jakarta, EDITOR.ID,- Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) Ulta Levenia Nababan melontarkan pernyataan kontroversi. Ia menyebut ada antek asing atau operasi intelijen global dibalik fenomena meletusnya enam Gunung Api di sejumlah wilayah di Indonesia.
Sontak pernyataan ini viral dan membuat gaduh di media sosial. Netizen mempertanyakan maksud dari pernyataan Ulta yang menuduh antek asing berada dibalik meletusnya enam gunung di Indonesia.
Dalam pernyataannya Ulta mempertanyakan apakah murni fenomena alam atau ada faktor laindibalik sejumlah erupsi Gunung Api yang terjadi berdekatan di Indonesia. Menurut Ulta ini patut dipertimbangkan seperti cawe-cawe asing di bencana erupsi tersebut.
Pernyataan itu memicu kegaduhan dan perbincangan luas di tengah masyarakat.
Ulta Curigai Asing Gunakan Proyek HAARP
Melalui unggahan di media sosial, Ulta Levenia mencurigai letusan enam gunung tersebut dikaitkan dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Ulta Tak Bisa Menerima Pendapat yang Umum
Dalam pernyataannya, Ulta menegaskan pandangannya tentang HAARP adalah pemikiran pribadi. Ia tahu, pertanyaan atau spekulasi mengenai HAARP sering dianggap sebagai teori konspirasi.
Menurut Ulta, sikap skeptis membuatnya tak menerima begitu saja penjelasan yang dianggap umum atau lazim. Ia memilih melihat kemungkinan sudut pandang lain atas fenomena yang terjadi.
Ulta mengatakan dirinya memiliki karakter skeptis dan tidak ingin langsung menerima suatu penjelasan hanya karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ia tak memungkiri, membuka kemungkinan adanya perspektif lain untuk melihat rangkaian fenomena alam tersebut.
HAARP Didanai US Air Force, US Navi dan DARPA
“HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tdk ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi,” tulis Ulta Levenia dalam media sosial Instagram, Senin (7/9/2026).
Proyek Intelijen HAARP Bisa Bikin Gempa Bumi
Menurut Ulta, HAARP merupakan proyek penelitian ionosfer yang dalam sejarahnya pernah berkaitan dengan sejumlah lembaga Amerika Serikat. Program tersebut kemudian menjadi bahan spekulasi di kalangan masyarakat karena dikaitkan dengan kemampuan memengaruhi berbagai fenomena alam.
Namun, Ulta mengakui belum terdapat bukti ilmiah kredibel yang membuktikan bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca, memicu badai, maupun menyebabkan gempa bumi. Karena itu, keterkaitan antara HAARP dan erupsi gunung api yang ia singgung masih berada dalam ranah dugaan.
“HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima. [PEMIKIRAN PRIBADI],” tuturnya.
Ulta kemudian menjelaskan alasan dirinya tetap mempertanyakan penjelasan yang dinilai umum. Ia menyebut sikap skeptis membuatnya mempertimbangkan alternatif lain, meskipun menyadari pemikiran tersebut kemungkinan besar akan disebut sebagai teori konspirasi.
“Tapi karna saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima,” bebernya.
Singgung Teori Konspirasi
Ia turut menyinggung pandangan mengenai teori konspirasi yang pada waktu tertentu dapat kembali dibicarakan setelah suatu proyek atau informasi dinyatakan terbuka untuk publik. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari alasan Ulta mengaku berani menyampaikan pemikirannya meski berpotensi mendapat kritik.
Maka ada alternative lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi. Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda. Kalau di Amerika umurnya konspirasi 20-40 tahun tergantung kapan sebuah project ditutup/ selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public,” tuturnya.
Ulta Kaitkan HAARP dengan Intelijen Global
Ulta kemudian menghubungkan keberadaan HAARP dengan perspektif geopolitik dan intelijen. Ia mempertanyakan alasan penggunaan pemancar radio berenergi tinggi dalam penelitian ionosfer yang pernah berpusat di Alaska.
“Kenapa ada gap conspiracy ini ttg Project HAARP, karena kalau dilihat dg kaca mata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska,” urainya.
Ulta lantas mengaitkan pertanyaannya dengan momentum kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Ia menyoroti waktu terjadinya erupsi sejumlah gunung api setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
“Walau gak ada bukti ilmiah yg kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, “Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dg Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?” ungkapnya.
Ulta menyebut, dirinya bukan satu-satunya pihak yang pernah memiliki kecurigaan serupa terhadap HAARP. Ia mengatakan sejumlah negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Turki pernah dikaitkan dengan kecurigaan mengenai proyek tersebut.
“Yg curiga ttg ini bukan sy sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama,” ungkapnya di media sosial instagram.
Profil Ulta Levenia, Deputi Bakom
Ulta Levenia Nababan adalah Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) RI. Ia memiliki latar belakang akademik yang berkaitan erat dengan keamanan, konflik, dan terorisme.
Ulta menempuh pendidikan magister di University of Leeds, Inggris, dan memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang insurgensi dan terorisme. Sebelumnya, ia menyelesaikan sarjana ilmu politik di Universitas Indonesia.
Selain pendidikan formal itu, Ulta mengikuti program studi keamanan Indo-Pasifik di lembaga pertahanan Prancis. Ia juga penerima beasiswa Chevening dan Fulbright, dua program internasional ternama.
Pengalaman di Bidang Keamanan
Karier profesional Ulta banyak bersinggungan dengan isu keamanan nasional dan internasional. Ia pernah menjadi peneliti kontra-terorisme dan radikalisme serta konsultan di bidang yang sama.
Pengalamannya memperkuat keahlian dalam menganalisis konflik, ekstremisme, terorisme, dan dinamika keamanan kawasan. Ia bertugas sebagai Deputi Bakom saat ini.
Ulta aktif ikut seminar dan diskusi keamanan global serta membahas perkembangan ideologi dan geopolitik. Ia pernah terlibat dalam Tim Kampanye Nasional Pemilu 2024 dan masuk daftar 40 Under 40 figur muda berpengaruh di bidangnya.
Rekam Jejak Peneliti Konflik Global
Ulta dikenal fokus pada isu kontra-terorisme, insurgensi, dan konflik global. Penelitian lapangannya mencakup wilayah dengan dinamika konflik kompleks, seperti Afghanistan dan Filipina Selatan.
Ia juga meneliti Aceh dan Papua, guna memperkaya perspektif keamanan terkait konflik bersenjata dan ekstremisme. Ulta aktif menulis analisis yang diterbitkan di media nasional dan internasional.
Topik tulisannya meliputi jaringan terorisme, radikalisme, konflik global, serta dampak krisis terhadap keamanan kawasan. Tulisan itu menjadi rujukan dalam memahami isu keamanan kontemporer. ****












