Rahayu Saraswati juga berasal dari keluarga terpandang. Kakek buyutnya merupakan Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo, Pendiri Bank Negara Indonesia. Kakek buyutnya juga orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo.
Pendidikan Rahayu Saraswati juga tidak sembarangan. Ia pernah bersekolah di UWCSEA (United World College of South East Asia), Singapura. Namun, setelahnya ia pindah dan bersekolah di Swiss
Ia menempuh pendidikan di SMA hingga dirinya diterima di Universitas Virginia dengan Early Decision. Ia mengambil fokus di Drama dan Peradaban Kuno (Yunani dan Roma). Ilmunya tersebut yang membuatnya juga aktif di industri film di Indonesia.
Sementara itu, kata Jamil, terkait Anies Baswedan, peluangnya maju masih terbuka. Setidaknya bila salah satu dari Nasdem, PKB, atau PKS tidak masuk ke Koalisi Indonesia Maju (KIM). Salah satu dari partai itu masih bisa berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung Anies.
Sebab, secara administrasi masih bisa mengusung pasangan cagub. “Namun bila Nasdem, PKB, dan PKS semuanya bergabung ke KIM, maka tertutup bagi Anies untuk maju. Sebab, kursi PDIP tidak cukup untuk mengusung pasangan cagub di Jakarta,” paparnya.
“Bahkan bila ditambah PPP dan Perindo pun belum mencukupi,” imbuhnya.
“Jadi, PDIP masih berpeluang menyokong Anies bila salah satu dari Nasdem, PKB atau PKS tidak ikut gerbong KIM,” katanya lagi.
2. Suswono
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan sosok berinisial “S” yang disebut akan mendampingi Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta merupakan politikus senior PKS sekaligus eks Menteri Pertanian (Mentan) Suswono.
“Kenapa Suswono? Tentu ini seiring dengan menguatnya isu soal terwujudnya KIM Plus. KIM Plus itu yang paling mengemuka adalah wakilnya Ridwan Kamil dari PKS,” ujar Adi kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2024).
Adi menjelaskan, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus harus menunjuk kader PKS sebagai cawagub Ridwan Kamil mengingat PKS merupakan partai pemenang Pileg 2024 di Jakarta.
Dia menyebut PKS memiliki mesin politik yang solid dan basis pemilih loyal yang cukup agresif untuk memenangkan sebuah pertarungan.
“Jadi ini yang kemudian menjadi penebal. Nah kenapa nama inisial S itu mengarah ke Suswono? Ya karena Suswono itu adalah kader PKS,” jelasnya.
“Pak Suswono itu adalah kader yang cukup senior, sudah malang melintang di jagat politik tanah air, pernah juga jadi menteri di zamannya Pak SBY,” sambung Adi.
Adi menjelaskan, jika PKS sudah memutuskan sesuatu, maka seluruh kader dan pengurusnya harus tegak lurus dan total dalam memenangkan Suswono di Jakarta.












