Tehran, EDITOR.ID – Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dipastikan masih hidup dan dalam kondisi baik, muncul kembali di hadapan publik pada 4 Maret 2026, mematahkan rumor kematiannya yang sempat beredar luas beberapa hari sebelumnya.
Meskipun sempat beredar kabar bahwa ia tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di kediamannya di distrik Narmak, Tehran pada akhir Februari 2026, laporan tersebut telah dibantah secara resmi oleh pihak-pihak terkait.
Partai Ahmadinejad, Dolate Bahar, serta para ajudan terdekatnya menegaskan bahwa kabar kematian tersebut tidak benar dan ia tidak mengalami luka apa pun.
Setelah rumor tersebut meluas, Ahmadinejad terlihat muncul kembali di publik pada awal Maret 2026 melalui rekaman video dan laporan media lokal untuk membuktikan dirinya selamat.
Ahmadinejad terlihat menghadiri prosesi pemakaman para syuhada Iran pada Rabu, 4 Maret 2026. Acara tersebut merupakan penghormatan bagi korban yang tewas dalam ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.
Dalam rekaman video yang viral di platform X (dahulu Twitter) dan kanal Telegram lokal, ia tampak dalam kondisi sehat walafiat, berjalan tegap, dan tanpa luka sedikit pun.
Sejumlah media lokal dan internasional, termasuk sumber yang dikutip oleh Iran International dan pakar militer, telah mengonfirmasi keaslian rekaman tersebut untuk membantah spekulasi kematiannya
Berbeda dengan Ahmadinejad, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan telah meninggal dunia akibat serangan udara yang terjadi di periode yang sama.
Latar Belakang Penyebab Rumor
Spekulasi kematian Ahmadinejad bermula dari laporan bahwa kediamannya di Narmak, 4Teheran, menjadi target serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari atau 1 Maret 2026.
Sebelum kemunculannya di publik, partai pengusungnya, Dolate Bahar, telah mengeluarkan pernyataan resmi pada 1 Maret 2026 yang menegaskan bahwa Ahmadinejad selamat dan tidak terluka.
Kemunculan langsung ini dianggap sebagai “pukulan telak” bagi narasi intelijen Barat dan media tertentu yang sebelumnya mengklaim sang mantan presiden telah gugur. (*)












