Jakarta, EDITOR.ID,- Mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyindir keras ada Menteri di Kabinet Merah Putih yang ia anggap merendahkan niat baik Malaysia mengirim bantuan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Rizieq menganggap sikap tersebut mencerminkan kesombongan dan tidak menghargai niat baik bantuan dari negara tetangga.
Dalam ceramahnya, Rizieq menyindir pernyataan menteri itu yang menolak bantuan dengan dalih pemerintah masih mampu menangani kondisi di lapangan.
Menurutnya, klaim tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
“Tapi sekarang, saudara, giliran ada mau bantuan bilangnya, ‘Nggak, kita masih mampu. Kita masih mampu.’ Masih mampu dari mana mampu? Kalau mampu jembatan sudah beres. Kalau mampu tuh mayat udah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Betul? (Betul!),” ujar Rizieq Shihab saat menyampaikan ceramah dihadapan para jamaahnya, dikutip Jumat (26/12/2025).
Rizieq menyatakan tidak ada alasan bagi pemerintah untuk merasa malu menerima bantuan kemanusiaan, apalagi jika kondisi di lapangan masih memerlukan pertolongan dari berbagai pihak.
“Jangan malu, jangan malu, saudara. Ada lagi menteri, bahkan ngeremehin bantuan Malaysia nggak seberapa. Cilik itu, kecil. Sombongnya Saudara,” sindirnya.
Rizieq menekankan bahwa Malaysia sebagai negara tetangga telah menunjukkan iktikad baik dengan mengirimkan bantuan. Karena itu, sikap yang seharusnya ditunjukkan adalah rasa terima kasih, bukan justru meremehkan.
“Eh, Malaysia tetangga kita, saudara, beriktikad baik kirim bantuan. Sekecil apa pun, terima kasih! Betul? (Betul!) Betul? (Betul!) Nggak ada terima kasihnya, makin nyepelein ‘enggak seberapa’, idzi biko ukh… pengen dikepret aja lo,” tegasnya.
Lebih lanjut Rizieq menunjukkan contoh sederhana tentang makna keikhlasan dan kewajiban mensyukuri bantuan, sekecil apa pun nilai yang diberikan. Ia mengajak para jamaahnya untuk menyisikan uang sekecil apapun kepada para korban terdampak bencana.
“Jamaah nanti ini bantu untuk Aceh, 1000 perak, 2000 perak, bagus tidak? (Bagus!) Wajib nggak disyukuri? (Wajib!),” ujarnya.
Rizieq juga menyindir keras jika pola pikir meremehkan bantuan kecil itu diterapkan secara luas oleh pejabat negara. Menurutnya, sikap semacam itu justru akan merusak nilai kemanusiaan dan gotong royong.
“Jangan sampai menteri ini denger. Lu nyumbang 1000, nih menteri jangan denger. Kalau menteri denger, ‘Eh, 1000’. Udah, pokoknya Masjid Madinah kirim-kirim aja, jangan ngomong. Jangan diberitain,” sesalnya.
Rizieq kemudian mempertanyakan kelayakan pejabat yang memiliki sikap merendahkan bantuan rakyat dan negara lain, apakah tetap pantas menjadi pejabat publik.
“Kalau menteri denger, gawat. ‘Eh, orang Karang Tengah, kecil’. Kacau tidak? (Kacau!) Kacau tidak? (Kacau!) Apa orang begini layak jadi menteri? (Tidak!),” katanya dengan nada tinggi.
Rizieq Tuding Sekeliling Prabowo Tak Ingin Status Bencana Nasional
Terkait penanganan bencana di wilayah Sumatera, Rizieq meyakini, Presiden Prabowo Subianto sebenarnya memiliki perhatian besar terhadap bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia mengaku berhusnuzan atau berbaik sangka bahwa Presiden Prabowo mendukung penetapan status bencana nasional agar penanganan bisa dilakukan secara lebih maksimal dan terkoordinasi.
“Saya berhusnuzan Saudara, Bapak Presiden itu Saudara, punya perhatian besar terhadap bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dan saya yakin beliau setuju ini dinyatakan sebagai bencana nasional,” tegas Rizieq.
Namun demikian, Rizieq menduga ada pihak-pihak di sekeliling Prabowo yang justru tidak menginginkan status bencana nasional tersebut ditetapkan. Ia menilai, pengaruh dari orang-orang terdekat itulah yang menjadi persoalan utama.
“Tapi yang jadi persoalan, ada pembisik-pembisik manusia di sekitar dia yang memengaruhi Presiden, saudara, supaya jangan dinyatakan sebagai bencana nasional, Saudara,” bebernya.
Rizieq kemudian menjelaskan alasan keyakinannya terhadap sikap Prabowo. Ia merujuk pada peristiwa bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Riau pada 2015 silam.
Ia mengingatkan, pada saat itu Prabowo belum menjabat sebagai Presiden, sementara Indonesia dilanda karhutla hebat yang menghanguskan ribuan hektare lahan di Riau. “Saya yakin karena di bulan Oktober tahun 2015, ketika itu Prabowo belum jadi Presiden, saudara. Di 2015, waktu itu terjadi bencana di Riau, bencana Karhutla, kebakaran hutan dan lahan, saudara. Ribuan hektar terbakar, Saudara,” ungkapnya.
Rizieq menyebut, kala itu pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai lambat dalam merespons bencana. Situasi tersebut kemudian mendorong Prabowo menyampaikan pandangannya secara terbuka melalui akun media sosial miliknya.
“Yang saat itu Presidennya Jokowi, Presiden lambat, saudara. Kerjanya nggak cepat, saudara. Akhirnya apa? Prabowo menulis di akunnya, saudara. Beliau tulis sendiri di akunnya, Saudara,” tuturnya.
Ia menegaskan, dalam unggahan tersebut Prabowo secara tegas meminta agar bencana karhutla segera ditetapkan sebagai bencana nasional demi mempercepat bantuan, termasuk dari luar negeri.
“Apa beliau (Prabowo) katakan? ‘Ini harus segera dinyatakan sebagai bencana nasional, agar bantuan dari luar negeri segera datang. Jangan kita tunda-tunda, ini berbahaya'” pungkasnya. ****












