Jejak Panjang Ahwil Lutan, Jenderal Polisi Sarat Pengalaman dan Cerita

Pimpinan AMDI yakni Ketum SS Budi Rahardjo yang juga Pemred Matra dan CEO majalah Eksekutif, Sekjen Edi Winarto pemilik media EDITOR.ID dan Bendahara AMDI Asri Hadi yang juga Pemred Indonews.id pun meluncur ke sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (9/8/2025).

Asri Hadi Kongkow Bareng Ahwil Lutan: Jejak Panjang Sang Polisi Baik, dari Korps Cokelat hingga Diplomasi Dunia

Jakarta, EDITOR.ID,- Sebuah penghormatan bagi pimpinan Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) diajak ngopi bareng oleh Komjen Pol Purn Ahwil Lutan, mantan Kepala Badan Narkotika Nasional dan Duta Besar sejumlah negara. Ahwil dikenal sebagai sosok Jenderal Purnawirawan yang ramah, sederhana dan cerdas.

Pimpinan AMDI yakni Ketum SS Budi Rahardjo yang juga Pemred Matra dan CEO majalah Eksekutif, Sekjen Edi Winarto pemilik media EDITOR.ID dan Bendahara AMDI Asri Hadi yang juga Pemred Indonews.id pun meluncur ke sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (9/8/2025).

Acara bincang dan ngopi bareng berlangsung santai, penuh kehangatan dan terkadang serius. Banyak hal dikisahkan Ahwil Lutan di depan para jurnalis senior.

Di usia yang ke-78 tahun, sang jenderal terlihat masih muda dan energik. Tidak tampak kerut wajah “senior”. Tubuhnya juga terlihat masih proporsional dan atletis. “Apa rahasia bisa tetap bugar dan menjaga proporsi badan tetap langsing,” tanya jurnalis senior.

“Olah raga ringan dan jangan makan malam,” jawab Pak Jenderal simpel.

Dalam perbincangan ngopi bareng, Jenderal Ahwil Lutan banyak mengisahkan pengalamannya selama menapaki karier di kepolisian dan setelah pensiun dari anggota Bhayangkara Negara.

Semua cerita yang diungkapkan Ahwil Lutan seperti sebuah cerita panjang yang menarik dan banyak menguak kisah dibalik peristiwa yang selama ini orang tak pahami. Banyak cerita-cerita off the record dari sang jenderal.

Ahwil Lutan berkisah sejak dirinya menjabat wakil sub dit Narkoba Mabes polri, Direktur Sekolah penyidik mabes Polri, Sekretaris Interpol, Gubernur PTIK, Kepala BNN sampai jadi Duta Besar RI untuk Meksiko. Ahwil dikenal sebagai seorang pemikir strategis, penggerak senyap, dan simbol integritas.

“Saya kenal ketika Jenderal Ahwil masih berpangkat Letnan Kolonel,” ujar Asri Hadi, aktivis anti narkoba LSM Bersama, Bakolak Inpres 1971.

Tahun-tahun itu, Ahwil Lutan juga sudah sebagai polisi yang dihadapkan pada gelombang besar peredaran narkoba.

Tak banyak publik yang tahu jika ternyata Badan Narkotika Nasional (BNN) lahir dari sebuah rintisan dan perjalanan panjang yang diperjuangkan Komjen Pol Purn Ahwil Lutan. Ketika itu BNN belum lahir. Maka tercetus ide dan inisiatif dari Ahwil Lutan untuk membentuk dan membangun sebuah badan yang mengkoordinasi penanganan narkotika.

“Pak Ahwil memang selalu menjadi pelopor banyak hal baik di bangsa ini,” ujar Asri Hadi, Pemimpin Perusahaan Harian Kami, yang pernah sama-sama mendirikan Majalah HealthNews. Media Agains Drugs yang direkomendasian Badan Dunia PBB UNODC (United Nations On Drugs and Crime).

Ahwil Lutan pula yang pertama kali mengusulkan dibentuknya atase Kepolisian. Hal tersebut bermula ketika ada peristiwa pelemparan oleh massa di Dresden, Jerman saat Presiden Soeharto melakukan kunjungan kerja disana.

Banyak cerita diungkap Ahwil ketika membahas soal tersebut dengan Kepala BAIS saat itu Mayjen Samsir Siregar. Ahwil memberikan masukan tentang bagaimana strategi penanganan kasusnya di Jerman hingga lahirlah atase Kepolisian di luar negeri.

Aktivis anti narkoba dan polisi, yang kerap berada di lapangan, berdiri di depan pelajar, buruh, hingga tokoh masyarakat, menyuarakan satu pesan yang sama: Indonesia sudah darurat narkoba.

“Kami tidak hanya mengedukasi, tapi juga berkomitmen untuk bergerak,” kenang Asri, bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia.

Ahwil juga mengisahkan bagaimana ia berjuang membidani lahirnya majalah HealthNews — sebuah majalah gaya hidup sehat yang kemudian direkomendasikan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) sebagai media anti-drugs pertama dari Indonesia. Saat itu Ahwil Lutan menjadi Kepala BKNN.

Ia membangun majalah ini sebagai dedikasinya terhadap pencegahan Narkotika. Demi terbitnya majalah, semua biaya operasional harus diperjuangkan dari sana sini. Tidak ada keuntungan materi dari hasil penerbitan majalah murni relawan dan keikhlasan. Dan Majalah HealtNews terpaksa “istirahat” usai diminta mencetak 3.000 eksemplar untuk dibagikan ke istana dalam sebuah momen HUT Kemerdekaan RI.

Tak terasa obrolan dari siang hingga sore jelang malam. Kamipun harus berpamitan dengan Pak Jenderal lulusan Akpol Angkatan 1968 yang dikenal sangat ramah. (^)

Leave a Reply