Diplomasi Busana Andy Rachmianto, Mengenalkan Karya Kain Tradisional Khas Indonesia kepada Dunia

Busana berbahan kain tradisional yang dikenakan Andy selalu berbeda dalam setiap kesempatan. Terkadang ia mengenakan busana bermotif batik, juga mengenakan tenun dan kain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, masing-masing dengan ciri khas, motif, warna, dan teknik pembuatan yang unik.

Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler di Kementerian Luar Negeri Sekaligus Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto bersama Istri, Ismi Rohimaningsih dan Para Jurnalis Senior, Pemred EDITOR.ID, Pemred INDONEWS.ID, Pemred MATRA dan Pemred BULIR.ID.

Jakarta, EDITOR.ID,- Andy Rachmianto adalah “sutradara” penting dibalik layar atas seluruh penyelenggaraan protokol kenegaraan diplomatik, hingga pelayanan konsuler Indonesia di luar negeri. Dua tugas strategis negara diemban. Sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler di Kementerian Luar Negeri dan Kepala Protokol Negara (KPN).

Sebagai Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto bertanggung jawab penuh setiap detail acara kenegaraan Presiden berjalan sempurna. Mulai dari kunjungan kepala negara sahabat, upacara di Istana, hingga kunjungan Presiden ke luar negeri.

Poisisinya sebagai KPN memberinya akses dan kedekatan yang unik dengan pusat kekuasaan, memungkinkannya memahami denyut nadi kebijakan luar negeri Indonesia dari ring satu. Menariknya lagi dengan dua jabatan tersebut Andy mempunyai tugas melayani Presiden hingga masyarakat bawah atau pekerja migran.

Tugasnya menuntut ketelitian tingkat tinggi, pemahaman mendalam tentang etiket internasional, dan kemampuan koordinasi yang luar biasa.

Ia menjadi wajah pertama yang menyambut para pemimpin dunia sekaligus orang terakhir yang memastikan semua agenda berjalan lancar.

Pada hari Kamis, 7 Agustus 2025 sore, Andy Rachmianto menerima rombongan jurnalis senior di ruang kerjanya.
Para jurnalis senior itu adalah Drs. Asri Hadi, MA selaku Pemimpin Redaksi Indonews.id, Pemred Majalah Matra SS Budi Rahardjo, Pemred Editor.ID Edi Winarto, dan Pemimpin Umum Bulir.id Richard Jegadut.

Andy menyambut para jurnalis itu dengan senyum ramah dan gestur diplomatik khas seorang pejabat senior negara.

Dibalik Acara Ada Busana Menarik Perhatian

Dalam sesi wawancara eksklusif berdurasi kurang lebih dua jam penuh itu, Andy tidak hanya berkisah tentang diplomasi formal dan peran krusialnya sebagai wajah protokol negara, tetapi juga menjawab pertanyaan jurnalis soal penampilannya yang selalu mengenakan busana berbahan kain tradisional Indonesia. Dan selalu menarik perhatian di acara-acara kenegaraan.

Salah satunya ketika Andy menyambut para tamu tokoh-tokoh penting dan kepala negara di KTT ASEAN 2024 di Labuan Bajo.

Diplomat kelahiran Jakarta 8 April 1965 ini mampu tampil beda dengan busana berbahan kain tradisional Indonesia yang biasa diistilahkan “Wastra Nusantara”. Misinya, Andy ingin mempromosikan produk budaya khas daerah Indonesia melalui para pejabat dan tamu asing yang hadir.

Busana berbahan kain tradisional yang dikenakan Andy selalu berbeda dalam setiap kesempatan. Terkadang ia mengenakan busana bermotif batik, juga mengenakan tenun dan kain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, masing-masing dengan ciri khas, motif, warna, dan teknik pembuatan yang unik.

Andy ingin mengangkat produk yang dihasilkan para perajin kain tradisional menarik perhatian dunia. Ternyata upaya Andy tidak sia-sia. Banyak tamu dan kolega di acara menanyakan dimana ia mendapatkan busana khas dan unik itu. Andy telah melakukan diplomasi busana.

Kecintaan Kain Khas Tradisional Dipengaruhi Sang Istri

Andy mengisahkan, ia mulai jatuh cinta pada Wastra Nusantara dalam lima tahun terakhir. Menariknya, Kecintaannya itu dipengaruhi oleh sang istri, Ismi Rohimaningsih.

“Saya mulai menyukai wastra itu baru sekitar lima tahun belakangan. Dan itu karena mantan pacar saya, yang sekarang jadi istri saya, Ismi Rohimaningsih. Beliau yang memperkenalkan saya, bahkan sekarang menjadi fashion advisor saya untuk semua urusan wastra,” ungkap Andy dengan penuh senyum.

Menurut Andy, Wastra Nusantara bukan hanya sekadar kain, tetapi juga merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia, mencerminkan identitas sosial, nilai-nilai filosofis, dan sejarah panjang bangsa. Semua itu tergambar dari batik, tenun, songket, hingga ulos.

Andy mengungkapkan kecintaannya pada Wastra berawal ketika ia bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Setiap akhir pekan, ia dan sang istri menyempatkan diri mengunjungi situs-situs bersejarah di Yordania—negara yang dijuluki sebagai The Land of the Prophets—dan Palestina.

“Sopir kami suruh istirahat di Wisma, saya nyetir sendiri bermodalkan google map. Setiap kali bepergian, istri saya selalu memakai busana dari kain khas nusantara. Kami foto, lalu ia beri narasi. Semua itu dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul My Journey Book: Indonesia & Jordan Beauties,” ungkap Andy.

“Dari situlah saya mulai menyadari bahwa wastra bisa menjadi media diplomasi budaya yang kuat,” tambahnya.

Dari situlah, kesadaran akan kekuatan budaya dalam diplomasi tumbuh perlahan namun pasti. Andy mulai mengenakan tenun, songket, atau batik dalam setiap acara kenegaraan. Tidak sembarangan—setiap motif dan warna dipilih berdasarkan filosofi dan konteks acara, dengan bimbingan penuh dari sang istri.

Ketua Dewan Redaksi EDITOR.ID Asri Hadi Bersama Andy Rachmianto dan Istri Ismi Rohimaningsih

Tenun Manggarai dan Peran Sang Istri

Puncak dari peran diplomatik Wastra terjadi ketika penyelenggaraan  KTT ASEAN 2024 di Labuan Bajo. Andy mengusulkan agar para kepala negara mengenakan tenun khas Manggarai Barat, NTT, sebagai busana resmi. Usul ini pun disetujui oleh Presiden RI. Namun, ada cerita menarik di balik pilihan warna.

“Saya sudah pilih satu warna kain. Tapi ternyata, warna yang sama juga dipilih Presiden. Untungnya, belum dijahit. Akhirnya saya mengalah. Tapi tetap saya pakai motif yang sama, hanya dengan desain yang berbeda. Saya buat seperti vest, jadi kelihatan unik,” beberanya dengan rasa bangga.

Baginya, mengenakan kain tradisional bukan hanya soal estetika. Respons dari para tamu negara pun sangat positif. Bahkan, tak jarang mereka bertanya tentang motif dan filosofi kain yang dikenakan.

“Saya harus siap menjelaskan. Karena itu, saya harus punya literasi tentang motif dan makna kain, dan tentu saja, istri saya selalu jadi rujukan utama dalam hal ini,” tambahnya.

Dalam memilih wastra untuk setiap acara kenegaraan, Andy mengaku menyerahkan sepenuhnya pada sang istri.

“Saya percaya selera dan pengetahuan beliau. Saya hanya bilang acaranya apa dan siapa saja yang hadir, lalu biarkan dia memilihkan motif, warna, dan model. Alhamdulillah sejauh ini, semua berhasil mencuri perhatian,” ujar pria yang meraih gelar Master of Philosophy (M.Phil) dari School of International Studies, Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, India ini.

Sosok Andy Rachmianto

Andy Rachmianto saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang secara ex-officio sekaligus bertugas sebagai Kepala Protokol Negara (KPN) Jabatan tersebut diemban sejak tanggal 19 Juni 2020.

Diplomat senior ini telah mengabdi di Kementerian Luar Negeri RI selama lebih dari tiga dekade.

Baginya, jabatan dengan tanggung jawab strategis ini merupakan wujud nyata sebagai pelayan publik yang memberi dampak langsung pada pelayanan publik. Jabatan ini pun, lanjutnya, sudah disepakati bersama sang istri sebelum memutuskan.

“Jadi istri sudah setuju. Sebab saya melayani langsung dari orang nomor satu di negeri ini hingga warga kelas paling bawah seperti para korban Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri,” ungkapnya.

Sebelumnya Andy menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Kerajaan Yordania Hasyimiah merangkap Negara Palestina dari 2017 hingga 2020.

Andy kini disebut-sebut bakal mendapat amanah baru sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Kerajaan Belgia. Merangkap Luksemburg dan Uni Eropa, yang berkedudukan di Brussel.

Ketua Dewan Redaksi EDITOR.ID Asri Hadi

Pendidikan dan Karier Diplomatik

Andy Rachmianto meniti karir sebagai diplomat mulai dari bawah. Profesinya sebagai Diplomat didorong oleh mendiang sang ayahanda. Andy sebenarnya bercita-cita ingin menjadi dosen.

Usai lulus dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, Andy sempat mengajar di almamaternya. Disanalah ia mendapatkan jodoh yang sekarang menjadi pendampingnya.

Pada tahun 1992, Andy mencoba bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, menjalani pendidikan Sekolah Dinas Luar Negeri dan kemudian memulai karir pada Kantor Badan Eksekutif untuk Gerakan Non-Blok (1993-1996).

Pada perjalanan selanjutnya Andy menjabat sebagai Sekretaris Ketiga (Politik, Informasi, dan Konsuler) di KBRI New Delhi (1996-2000).  Disela bertugas di India, Andy melanjutkan pendidikan pasca sarjana dan mendapatkan gelar Master of Philosophy (M.Phil) dari School of International Studies, Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, India pada tahun 1999.

Karir Andy terus melesat. Ia bertugas sebagai Kepala Seksi/Plt. Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Kerja Sama Fungsional/Mitra Wicara, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, serta sekretaris Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN (2000-2002).

Dalam kurun waktu 2002-2006, Andy bertugas sebagai Sekretaris Kedua/Sekretaris Pertama pada PTRI New York merangkap sebagai Koordinator/Negosiator Kelompok Kerja Gerakan Non-Blok tentang Perlucutan Senjata.

Sekembalinya ke Jakarta pada 2007, beliau diangkat sebagai Kasubdit (Counselor) Senjata Pemusnah Massal dan Senjata Konvensional, Direktorat KIPS, bertanggung jawab atas kebijakan Indonesia di bidang perlucutan senjata dan non-proliferasi di semua aspeknya.

Andy pernah mendapat tugas sebagai Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan (KIPS) Senjata Kementerian Luar Negeri sejak Mei 2013. Pada periode 2011 – 2013 beliau bertugas di Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York (PTRI New York) sebagai Minister Counselor bidang Ekonomi, Sosial, dan Kemanusiaan.

Prestasinya diakui secara internasional, salah satunya melalui penganugerahan “Star of Friendship” dari Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, pada tahun 2020.

Keluarga dan Sosok di Balik Layar

Andy menikah dengan Ismi Rohimaningsih, seorang aktivis sosial dan budaya yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Amman.

Ismi tak hanya dikenal sebagai pencinta wastra, ia juga penggerak kegiatan sosial. Ismi salah satu dari empat penggagas Gerakan Etalase Nasi Gratis (GENG) dan Gerakan 1000 Cinta untuk Papua, yang menjadi bagian dari kontribusinya pada isu kemanusiaan.

Ismi juga penulis buku My Journey Book Indonesia & Jordan Beauties, yang menggambarkan peran wastra dalam diplomasi budaya.

Pasangan ini dikenal kompak dan saling melengkapi. Di banyak forum diplomatik dan kultural, kehadiran mereka selalu menjadi simbol pasangan diplomat yang memadukan profesionalisme, empati sosial, dan kecintaan pada budaya Indonesia.

Diplomasi tidak selalu tentang meja perundingan dan perjanjian internasional. Melalui wastra, Indonesia bisa memperkenalkan jati diri, nilai, dan warisan budayanya secara halus namun kuat. Andy Rachmianto, dengan dukungan penuh dari sang istri, membuktikan bahwa sehelai kain bisa bicara lebih banyak daripada kata-kata.

“Kita tidak hanya mewakili negara lewat sikap dan protokol, tapi juga lewat apa yang kita pakai. Karena itu, saya ingin memastikan bahwa setiap motif yang saya kenakan, punya makna yang layak disampaikan kepada dunia,” tutup Andy Rachmianto.

Bagi Waktu untuk Keluarga

Posisinya sebagai Kepala Protokol Negara membuat Andy jarang bertemu dengan keluarganya karena harus mengutamakan tugas negara yang sangat penting.

Namun Andy tetap berusaha membagi waktu dan membangun komunikasi bersama keluarga ditengah kesibukan. Caranya? Andy menyempatkan diri mengajak makan istri dan anak-anaknya di bandara ketika akan berangkat bertugas.

“Makan bareng diluar saat momen bertemu di bandara. Hal ini kami lakukan untuk tetap menghadirkan sosok ayah. Sambil makan kita ngobrol menceritakan pengalaman dan kegiatan kita,” kata Andy.

Uniknya, sang istri Ismi dengan setia selalu mengantar dan menjemput Andy di bandara ketika akan bertugas ke luar negeri atau luar kota. “Istri saya selalu mengantar dan menjemput saya sampai detik ini,” ujarnya. (tim)

Leave a Reply