Sultra. EDITOR.ID. – Keributan antara anggota TNI dan Brimob Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) pecah usai pertandingan sepak bola di lapangan Buton Selatan. Insiden ini bermula dari adu yel-yel yang memicu ketegangan, namun telah diselesaikan secara damai.
Insiden bentrok terjadi pasca-laga pertandingan berakhir pada score 4-5 sekitar pukul 17.30 WITA, antara 500 oknum prajurit TNI Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 871/La Maindo dan 25 Anggota Brimob B Polda Sultra.
Baku pukul tak terhindari lagi di Lapangan Sepak Bola Lakarada, Kabupaten Buton Selatan, pada Minggu sore, 4 Januari 2026.
Ratusan personel TNI dilaporkan memasuki area lapangan setelah pertandingan. Sekitar 500 prajurit TNI yang hadir sebagai penonton memasuki lapangan.
Awalnya mereka dikira akan melakukan selebrasi atau yel-yel kemenangan, namun situasi memanas hingga terjadi penyerobotan penonton dan berubah menjadi aksi baku pukul 500 prajurit TNI terhadap 25 personel Brimob yang berjaga berada di lokasi.
Akibat kericuhan tersebut, sejumlah anggota kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka.
Sebanyak 25 personel Brimob yang berjaga di lokasi memilih mundur karena jumlah massa yang tidak seimbang.
Kericuhan diduga dipicu oleh salah paham antar oknum personel saat berlangsungnya sebuah pertandingan sepak bola di lokasi tersebut.
Kapolres Buton, AKBP Ali Rais Ndraha, mengonfirmasi pada Minggu malam bahwa situasi telah berakhir damai setelah dilakukan koordinasi antar pimpinan satuan terkait.
“Sudah diselesaikan (damai), situasi sudah kondusif. Hanya ada kesalahpahaman saja,” ungkap Ali Rais Ndraha, Minggu (4/1/2025).
Kronologi Bentrokan
Insiden terjadi di Lapangan Lakarada, Kelurahan Lakambau, Kecamatan Masiri, Buton Selatan, Minggu (4/1) sore.
Kerusuhan ini bermula saat digelarnya pertandingan mini soccer antara La Maindo FC, yang merupakan tim TNI melawan La Beta FC berlangsung pada awal Januari 2026 di Lapangan Lakarada, Kelurahan Lakambau, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.
Laga ini merupakan bagian dari babak penyisihan turnamen sepak bola lokal.
Viral di Media Sosial
Video amatir mengenai insiden tersebut sempat beredar luas di media sosial, namun situasi di lapangan dilaporkan telah kembali kondusif sesaat setelah mediasi dilakukan.
Beberapa personel Brimob dilaporkan mengalami luka-luka akibat pengeroyokan. Kondisi di lapangan sempat mencekam hingga membuat penonton perempuan dan anak-anak berlarian menyelamatkan diri.
Upaya Perdamaian
Setelah kejadian, berbagai pihak turun tangan untuk meredakan situasi. Informasi terbaru menyebutkan bahwa kedua belah pihak telah menempuh jalur damai setelah dilakukan koordinasi intensif antar pimpinan satuan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pertemuan antara Dandim, Sekda Buton, serta komandan batalyon dari Yonif TP dan Brimob menghasilkan kesepakatan untuk mencegah eskalasi konflik.
“Tadi kami sudah ketemu dengan Dandim, ada Sekda Buton, kedua Komandan Batalyon baik Yonif TP dan Brimob, kita sampaikan untuk menyampaikan ke pasukan bahwa kesalahpahaman ini tidak berlanjut lagi, dan sudah selesai,” ungkap Ali.
Bupati Buton Selatan, yang menginisiasi kegiatan ini, berencana mempertemukan kembali kedua belah pihak di Lapangan Lakarada. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari bibit-bibit pemain sepak bola potensial.
“Bupati juga akan kembali mempertemukan kedua belah pihak, karena bupati yang menginisiasi giat ini. Akan dipertemukan lagi di Lapangan Lakarada,” ungkapnya.
Pemicu Kericuhan
Menurut seorang warga berinisial RM, kericuhan diduga dipicu oleh adu yel-yel yang terjadi di antara para suporter. Suasana yang memanas kemudian menyulut emosi para pemain.
“Suporter Lamaindo FC ini yel-yel terus karena mereka kan banyak. Di sini makin memanas. Tadi juga ada orang tua sampe banting kursi,” bebernya.
Suporter yang terpancing emosi kemudian memasuki lapangan setelah pertandingan usai, yang menyebabkan terjadinya saling pukul antara kedua institusi. Akibatnya, sejumlah anggota dari kedua belah pihak dilaporkan mengalami luka-luka.
“Luka-luka, TNI dan Brimob juga luka-luka, baku kejar-kejaran tadi sampai keluar lapangan,” bebernya.
Video yang beredar menunjukkan kerumunan orang saling kejar-kejaran di lapangan hingga ke jalanan, membuat warga sekitar panik dan menjauh dari lokasi.
Hingga Senin, 5 Januari 2026, belum ada pernyataan resmi dari pihak Polda Sulawesi Tenggara maupun Kodam XIV/Hasanuddin  mengenai rincian kronologi atau jumlah pasti korban luka akibat bentrokan tersebut telah mendapat penanganan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu keterangan resmi dari pimpinan institusi terkait guna menghindari simpang siur informasi. (*)












