Warga Tanam Pohon Pisang di Jalan Akses Tanki BBM Pertamina

EDITOR.ID, Indramayu – Puluhan warga Desa/Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu nekat menanam pohon pisang di jalan yang selama ini digunakan menjadi akses mobil tanki pegangkut bahan bakar minyak (BBM) dan gas milik PT.Pertamina (Persero). Tindakan ini mereka lakukan dipicu kekesalan lantaran jalan yang selama ini juga dijadikan akses utama warga setempat kondisinya rusak. Sudah satu tahun, jalan dibiarkan rusak penuh lubang sehingga kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

Ketua RW setempat, Sariman (52) mengatakan, sejak satu tahun terakhir jalan milik kabupaten itu kondisinya tidak lebih baik. Di musim penghujan keadaannya bertambah parah. Kerusakan bertambah panjang karena jalan tersebut setiap harinya dilalui ratusan truk-truk tanki besar pengangkut BBM dan gas. Kebetulan, depo-depo pengisian BBM dan gas berada di wilayah setempat sehingga beban jalan kabupaten itu semakin berat. “Para pemangku kebijakan di pemkab Indramayu dan Pertamina, silahkan cek kondisinya. Terutama Pertamina, tidak mungkin kalau tidak mengetahui kondisi jalan kami. Makanya mohon agar Pertamina bisa memperbaikinya,” ujar Sariman.

Keluhan Sariman dan warganya memang bukan tanpa alasan. Sebab kerusakan jalan juga kerap memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Misalnya, sepeda motor terjerembab karena roda menghantam lubang jalan, atau saling berserempetan antara mobil dan sepeda motor saat menghindari lubang. “Karena jalan berlubang menimbulkan debu. Bayangkan ketika truk-truk tanki besar melintas dengan membawa debu tebal, masyarakat sangat terganggu,” keluh Sariman seraya menambahkan akibat musim penghujan kerusakan jalan utama Balongan itu kini memanjang ratusan meter sampai ke desa tetangga, Tegalurung.

‘Tikus mati dilumbung padi’, begitu ia menggambarkan kondisi desanya saat ini. Sebab ia menilai keberadaan Pertamina juga dinilai kurang memberikan manfaat lebih. Dicontohkannya, selain jalan rusak warga juga mengeluhkan tidak adanya penerangan jalan umum (PJU) dan drainase sama sekali. Sehingga ketika musim penghujan atau terjadi banjir rob, lingkungan sekitar tidak memiliki saluran (kanal) pengendali air. “Kalau kondisinya dibiarkan terus seperti ini, kami akan melakukan aksi protes dan unjuk rasa kepada pihak-pihak bertanggung jawab atas keadaan lingkungan tempat kami tinggal saat ini,” tegas dia.

Reporter : Hendra Sumiarsa

Leave a Reply