Yogyakarta, EDITOR.ID — Viral video Ketoprak jadul, warganet heboh: Jangan sampai gen Z harus belajar budaya sendiri ke luar negeri! Sebuah video lawas pertunjukan Ketoprak yang tersebar di media sosial tiba-tiba menjadi perhatian banyak orang. Bukan hanya disukai dan ditonton, video ini malah memicu diskusi seru dan perasaan mendalam di kolom komentar.
Mulai dari rasa rindu yang dalam sampai kritik tajam, semuanya muncul bersamaan dari warganet lintas generasi.
Komentar warganet beragam, pembicaraan pun semakin hangat dan seru.
1. Membawa Kembali Kenangan Emas Tahun 80-90an
Video ini seolah menjadi mesin waktu yang mengembalikan banyak orang ke masa lalu. Banyak yang berbagi cerita, seperti saat mereka berdesakan di lapangan Tegalsari hanya untuk menonton pertunjukan ini, atau warga satu daerah di Kendal dan Ngawi yang patung uang agar grup kesayangan mereka mau datang tampil. Bagi yang dulu hanya punya televisi hitam-putih, tayangan Ketoprak di TVRI Yogyakarta menjadi kenangan tak terlupakan. Saat itulah kesenian tradisional sangat dicintai dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
2. Nama-Nama Legenda yang Sulit Digantikan
Warganet pun menyebut satu per satu nama grup dan seniman hebat yang pernah menghidupkan panggung Ketoprak. Mulai dari grup Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro dan Ketoprak Widayat Marsidah, hingga cerita terkenal seperti Prabu Angling Darma dan Sirat Mencuri Bagdat.
Nama-nama besar seperti Pak Sarjono, Pak Widayat, dan Pak Gelinding disebut dengan rasa hormat. Bahkan ada fakta unik yang dibahas, yaitu salah satu aktor legendaris itu sehari-hari bekerja sebagai tukang cukur di Pasar Beringharjo. Kehebatan mereka dinilai sangat sulit disamai oleh siapa pun saat ini.
3. Rindu Lawakan yang Cerdas dan Sopan
Banyak yang membandingkan kesenian zaman dulu dengan hiburan sekarang. Seniman zaman dulu dinilai memiliki kemampuan akting yang luar biasa. Karakter yang mereka perankan jelas dan kuat, percakapannya seru dan penuh makna, ditambah dengan lelucon yang cerdas dan tidak menyinggung perasaan. Banyak warganet menyatakan rindu hiburan yang bisa membuat tertawa lebar tanpa harus menghina orang lain atau merendahkan martabat siapa pun.
4. Hiburan yang Sekaligus Mendidik
Bagi generasi yang lebih tua, Ketoprak bukan hanya sekadar tontonan untuk menghibur diri. Di balik panggung dan dekorasi yang sederhana, selalu ada pesan berharga di dalamnya. Mulai dari ajaran moral, tata krama, hingga pandangan hidup yang mendalam semuanya tersampaikan lewat pertunjukan ini.
Dulu, Ketoprak menjadi sarana belajar yang paling efektif, di mana orang bisa menikmati tontonan sekaligus mendapatkan panduan hidup yang baik.
5. Permintaan dan Kekhawatiran untuk Masa Depan
Rasa rindu ini akhirnya berubah menjadi kekhawatiran besar akan nasib budaya Indonesia ke depan. Warganet pun menyampaikan harapan dan permintaan tegas kepada pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan. Mereka meminta agar stasiun televisi nasional diwajibkan menayangkan kesenian daerah secara rutin agar lebih banyak orang bisa melihatnya.
Yang paling mengena adalah kekhawatiran terhadap generasi muda sekarang. Banyak yang takut Gen Z makin tidak mengenal budaya sendiri. Ada ungkapan yang sangat menyentuh:
“Jangan sampai nanti di masa depan yang cerah, anak cucu kita malah harus pergi ke luar negeri dan mengantre izin hanya untuk belajar budaya Nusantara, karena kita sendiri tidak mau merawatnya dengan baik.”
Singkatnya, video Ketoprak jadul yang viral ini bukan hanya soal kenangan masa lalu. Ia menjadi peringatan bagi kita semua. Ia menunjukkan bahwa masyarakat rindu hiburan yang bermanfaat dan mendidik, sekaligus berharap warisan budaya yang berharga ini terus hidup dan tidak hilang tertelan zaman. (*)












