Jakarta, EDITOR.ID,- Teka-teki siapa dalang dibalik kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Bank BUMN Muhammad Ilham Pradipta, akhirnya terbongkar. Otak pembunuhan tersebut adalah oknum prajurit TNI berinisial FH.
Pangkatnya Kopral Dua (Kopda). FH yang mengatur semua rencana dan skenario penculikan dan pembunuhan yang melibatkan empat pelaku yang sebelumnya telah ditangkap polisi. Mereka yang melakukan penculikan Ilham Pradipta saat berada di Pasar Rebo Jakarta Selatan. Profesi para eksekutor lapangan itu adalah penagih hutang atau debt collector.
Prajurit TNI Kopda FH kini telah ditangkap. Usai resmi ditetapkan sebagai tersangka, Kopda FH diperiksa intensif oleh Pomdam Jaya.
Motif Kopda FH Jadi Otak Penculikan Kacab Bank
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen (Mar) Freddy Ardianzah, menyebut Kopda FH merupakan otak penculikan. Dia bertugas mencari orang untuk menculik korban.
Kenapa Kopda FH sampai setega itu menculik dan membunuh Ilham Pradipta? Brigjen Freddy Ardianzah mengungkapkan, Kopda FH tergiur iming-iming bayaran uang untuk melakukan perbuatan tersebut.
Siapa yang menyuruh Kopda FH? Seseorang yang ingin melenyapkan Muhammad Ilham Pradipta. Seseorang itu kemudian menyewa jasa ke Kopda FH.
“Peran Kopda FH dalam kasus ini adalah sebagai perantara, yakni mencari orang untuk melakukan upaya penjemputan paksa. Dari hasil pemeriksaan sementara, motifnya karena yang bersangkutan menerima sejumlah uang,” kata Freddy saat dikonfirmasi, pada Sabtu (13/9/2025).
Meski demikian, Freddy belum menjelaskan lebih lanjut terkait identitas pihak pemberi uang maupun jumlah yang diterima.
Ia menegaskan, penyidikan masih terus berjalan dan akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Militer setelah dinyatakan lengkap.
“Proses hukum terhadap yang bersangkutan langsung dilakukan melalui mekanisme pidana. Setelah penyidikan selesai dan dinyatakan lengkap, perkara akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Militer untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujar dia.
FH Dicari Satuannya Karena Tak Hadir Tanpa Ijin
Penangkapan Kopda FH sebelumnya diungkap oleh Komandan Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya), Kolonel Corps Polisi Militer (Cpm) Donny Agus Priyanto.
Saat peristiwa berlangsung, Kopda FH diketahui berstatus Tidak Hadir Tanpa Izin (THTI) dan tengah dalam pencarian satuannya.
“Saat kejadian tersebut, (Kopda FH) sedang dicari oleh satuan karena tidak hadir tanpa izin dinas,” katanya melansir dari Tribunjakarta.com, Jumat (12/9/2025).
Namun untuk identitas rinci dan asal kesatuan, pihak berwajib masih belum mengumumkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Kopda FH berperan sebagai perantara untuk mencari orang yang akan menjemput paksa atau menculik korban.
“Bahwa oknum F menjelaskan kepada Eras terkait pekerjaan yang dimaksud tersebut adalah untuk menjemput paksa (menculik) korban (Ilham),” tambah dia.
Kopda FH Tawari Eras dkk Pekerjaan Culik Ilham Pradipta
Adrianus Agal, kuasa hukum Eras salah satu penculik Ilham Pradipta mengungkapkan pada Senin (18/8/2025), Kopda FH menelpon Eras untuk menawarkan pekerjaan sekaligus mengajaknya bertemu di kantin tersebut.
Menurut Agal, Eras kliennya mengaku sempat bertemu dengan Kopda FH di sebuah kantin di kawasan Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (19/8/2025).
“Tanggal 19 Agustus 2025, Eras dan beberapa kawan pelaku bertemu dengan oknum F di kantin daerah Cijantung sekitar pukul 09.00 WIB untuk membahas perihal pekerjaan yang dimaksud,” ujar kuasa hukum Eras, Adrianus Agal, Jumat (12/9/2025).
Para Pelaku Kenal Kopda FH Sejak Lama
Adrianus Agal, kuasa hukum Eras salah satu penculik Ilham Pradipta, mengungkapkan, Eras dkk sudah kenal Kopda FH jauh sebelum peristiwa penculikan dan pembunuhan kacab bank BUMN terjadi.
Pada Rabu (20/8/2025), hari eksekusi penculikan, Eras bersama kawan-kawan kembali bertemu dengan Kopda FH di Kafe Kungkung, Jalan Percetakan Negara, Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pukul 09.00 WIB.
FH Atur Penculikan dan Serahkan ke “Tangan Kanan Bos”
Saat pertemuan, Kopda FH mengatur dan memerintah Eras dkk untuk merencanakan menjemput paksa terhadap Ilham. Jika rencana itu berhasil, Eras diminta menyerahkan korban kepada seseorang yang disebut sebagai “tangan kanan bos”.
“Dan nanti korban akan diantar kembali ke rumahnya oleh tangan kanan bos tersebut, dan oknum F menjelaskan ada tim lain yang sedang mengikuti korban,” ucap Agal.
Pada hari yang sama sekitar pukul 10.00 WIB, Kopda FH disebut menerima informasi dari tim pengintai terkait keberadaan Ilham di Lotte Grosir Pasar Rebo, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.
Oleh karena itu, Kopda FH memerintahkan Eras dan kawan-kawan segera bergerak menuju lokasi.
Kelompok pelaku dalam klaster penculikan tiba di tempat kejadian perkara (TKP) sekitar pukul 11.30 WIB dan menunggu korban di area parkir selama kurang lebih empat jam.
Sekitar pukul 16.00 WIB, korban berjalan menuju mobilnya. Saat Ilham hendak masuk ke kendaraan, Eras dan kawan-kawan langsung menariknya lalu memaksa korban masuk ke mobil yang telah diparkir para pelaku di samping kendaraan korban.
Setelah itu mereka pun keluar dari area parkir Lotte Grosir Pasar Rebo.
“Awalnya korban akan diserahkan kepada oknum F dan tangan kanan Bos di daerah Fatmawati, akan tetapi oknum F mengarahkan ke daerah Tanjung Priok,” jelas dia.
Namun, Eras disebut tidak menyetujui penyerahan korban di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Eras pun bertolak ke kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
“Sekitar pukul 18.40 WIB, Eras sudah sampai di lokasi penukaran, dan korban diserahkan kepada oknum F dan tangan kanan bos sekitar pukul 18.55 WIB. Bahwa sekitar pukul 19.00 WIB, korban dibawa oleh tangan kanan bos,” ucap Agal.
Eras dan kawan-kawan serta D bergerak menuju Arcici Sport Center, Cempaka Putih Barat, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Setiba di sana, Kopda FH menyerahkan uang senilai Rp 45 juta kepada Eras sebagai imbalan pekerjaan.
Usai menerima jatah, Eras dan teman-temannya kembali ke tempat tinggal. Dalam kesempatan ini, Agal membantah Eras ditangkap polisi pada Kamis (22/8/2025) saat hendak melarikan diri ke kampung halamannya.
Eras disebut meninggalkan Jakarta karena hendak mengikuti acara adat.
“Eras mengetahui korban meninggal usai Satuan Reskrim Polres Manggarai Barat menunjukan foto bahwa orang yang mereka jemput paksa sudah meninggal,” ungkap dia.
“Pada saat itu juga Eras meminta ke anggota polisi untuk menelepon oknum F, dan Eras sangat syok mendengar korban meninggal. Berulang kali Eras menelepon, namun tidak tersambung,” tambah dia.
Adapun kronologi yang disampaikan Agal bukan alur cerita resmi dari kepolisian. Polda Metro Jaya sebagai penyidik masih menelusuri perkara ini meski sebanyak 15 orang telah ditangkap.
Kronologi Penculikan
Peristiwa tragis ini bermula dari penculikan di parkiran Lotte Mart Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan berakhir dengan penemuan jasad korban di persawahan Bekasi. Hingga kini, motif di balik aksi keji ini masih misterius meski polisi telah menangkap empat pelaku.
Berdasarkan rekaman CCTV, MIP terlihat baru saja tiba di parkiran Lotte Mart Pasar Rebo, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur pada Rabu (20/8/2025).
Saat itu, ia mengenakan kemeja batik cokelat lengan pendek dan celana panjang krem. Karena rintik hujan, MIP menutupi kepalanya dengan tangan kiri sambil berjalan menuju mobil hitamnya.
Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba sebuah mobil putih yang terparkir di sebelahnya mengeluarkan beberapa orang.
Mereka langsung menyerang MIP. Korban sempat memberikan perlawanan, tetapi kalah jumlah. Ia dipaksa masuk ke mobil putih tersebut yang kemudian melaju meninggalkan lokasi.
Seorang saksi yang melihat kejadian itu tak mampu menghentikan laju mobil pelaku. (*)












