EDITOR.ID, Indramayu – Dominasi politik Partai Golkar (PG) di Kabupaten Indramayu terhenti saat akan melaju pada level quintrick (lima kali cetak kemenangan). Kekuatannya terhenti pada level quattrick setelah calon bupati dan wakil bupati Golkar, Daniel-Taufik, kalah dalam Pilkada Indramayu 9 Desember 2020 baru lalu.
Saling tuding siapa yang salah, dan mencari penyebab serta kambing hitam atas kekalahan mulai mengemuka.
Setidaknya itu yang ada dalam benak para sesepuh dan dewan penasihat (wanhat) PG ketika dihadapkan fakta politik di Indramayu saat ini. Mereka berkesimpulan, kekalahan dalam pilkada kali ini menjadi pukulan terberat bagi PG di Indramayu yang telah dibangun mulai pada era reformasi nasional. Kondisi ini juga menyebabkan terjadinya pergeseran kekuatan politik di Indramayu, sulit merebutnya kembali.
Padahal pilkada bupati dan wakil bupati menjadi prestasi sekaligus prestise PG di daerah. “Merebut kembali kekuasaan (pemimpin daerah) sulit dilakukan dalam waktu pendek,” ungkap salah satu sesepuh PG Indramayu, A. Djahidin, saat bertemu sesepuh dan jajaran wanhat DPD PG Kabupaten Indramayu, Minggu (13/12).
Berdasarkan pengamatan sesepuh dan wanhat PG, situasi yang terjadi saat ini di Indramayu sejatinya bukan soal keberadaan partai berlambang pohon beringin itu. Namun karena adanya dominasi internal PG yang dianggap menjadi kekuatan monopoli.
Hal itu menjadi salah satu alasan bagi sebagian besar dari 1,3 juta warga mengalihkan pilihannya kepada cabup-cawabup lain.
“Kekuatan besar pada kursi legislatif, 22 kursi, tidak memengaruhi stigma monopoli dan keinginan besar beralih pilihan kepada pasangan partai lain,” tegas Djahidin.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Wanhat PG Kabupaten Indramayu, Udi Karyudi. Menurutnya, realitas politik saat ini berharap banyak kepada sosok Syaefudin, kader PG yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Indramayu.
Anggapan itu bukan tanpa alasan sebab Syaefudin dinilai satu-satunya tokoh muda PG yang memiliki kapabilitas dan pengaruh besar baik di internal maupun eksternal PG.
“Menjaga hubungan dengan partai dan elemen lain diluar golkar, menjadi salah satu cara untuk memngembalikan keadaan. Dan itu ada pada sosok Syaefudin, sebab bisa diterima semua ‘warna’ dan semua kalangan. Tujuannya agar Syaefudin bisa menyelamatkan golkar ke depan,” ujar Udi. (Hendra Sumiarsa)












