EDITOR.ID, Indramayu – Semburan gas bercampur air dan lumpur muncul kembali di area bekas sumur minyak tua milik Pertamina di Desa Sukaperna Kecamatan Tukdana Kabupaten
Idramayu. Berbeda dengan yang terjadi bulan lalu, semburan kali ini lebih parah. Air bercampur material lumpur yang menyembur serupa air mancur, memiliki kemiringan 45
derajat dengan jangkauan mencapai 10 meter lebih. Jika didekati tercium bau gas yang menyengat. Yang mengerikan dari sumber semburan mengeluarkan suara bising bergemuruh hingga terdengar sampai radius 1 km.
Peristiwa ini merupakan kali kedua dalam dua bulan terakhir. Pada akhir Oktober lalu, tiba-tiba muncul sebuah lubang yang mengeluarkan semburan air bercampur lumpur
setinggi 50 cm di lokasi yang sama. Dalam beberapa hari, lubang yang awalnya berdiameter kecil semakin melebar dengan volume semburan lebih banyak. Air dan lumpur dari
semburan sempat menggenangi lahan pertanian warga. Namun beberapa hari berikutnya, setelah dilakukan upaya penanganan oleh pertamina, semburan berhenti.
Genap sebulan, semburan itu ternyata muncul kembali di lokasi yang sama. Hanya saja kali ini dianggap parah karena tekanan air bercampur lumpur sangat kuat sehingga sebaran
material semburan menyebar lebih luas di lahan pertanian. Menurut warga setempat, semburan kali ini sangat menakutkan lantaran dibarengi suara bising gemuruh. “Ketahuannya tengah malam, karena terdengar suara yang sangat bising dan bergemuruh. Warga yang jauh dari lokasi semburan juga dibuat kaget ketika mendengar suara bising bergemuruh itu,” tutur Dana (54), warga setempat, Senin (30/11).
Kapolres Indramayhu AKBP Hafidh S Herlambang melalui Kapolsek Tukdana Iptu Iwa Mashadi membenarkan adanya peristiwa semburan tersebut. Menurut IWa, begitu menerima laporan
pihaknya langsung menghubungi pertamina dan BPBD guna melakukan mitigasi awal. Selain itu, beberapa anggota polsek setempat segera menuju lokasi untuk lebih mengetahui
potensi bahaya bagi warga. “Kami langsung pasangi garis polisi agar tidak ada warga yang mendekat. Ada anggota yang terus memantau lokasi semburan, bersama rekan-rekan dari
koramil dan kecamatan,” ujar Iwa.
Pernyataan sama disampaikan Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, A Fata. Hasil pengukuran bersama menggunakan ‘Gas Tester Rae’ bersama ‘safety officer’ pertamina, material air bercampur lumpur terdeteksi tidak memiliki kandungan gas berbahaya. Catatan pada gas tester menunjukkan ‘Lower Explosive Limit atau LEL (konsentrasi terendah gas yang mudah terbakar di udara yang akan menyebarkan api ketika terkena sumber pengapian) didapat pada angka 22,3% / 5M. “Makanya kami imbau kepada warga disekitar lokasi semburan agar tidak menyalakan api. Berbahaya, ada potensi sambaran gas disana,” ungkap Fata. (Hendra Sumiarsa)












