Raksasa Minyak Inggris Jual Blok Minyak Natuna ke Perusahaan Migas Lokal

Blok ekplorasi migas yang dilego mencakup kepemilikan operasional Harbour di Natuna Sea Block A sebesar 28,67 persen. Kemudian proyek pengembangan Lapangan Tuna yang berada di perairan Indonesia dengan kepemilikan operasional sebesar 50 persen.

Blok Migas di Kawasan Perairan Natuna

Jakarta, EDITOR.ID,- Raksasa energi asal Inggris, Harbour Energy dikabarkan telah menjual sebagian tempat eksplorasi hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia kepada perusahaan lokal, Prime Group. Jual beli aset ini ditaksir mencapai harga 215 juta dolar AS atau setara Rp 3,5 triliun.

Blok ekplorasi migas yang dilego mencakup kepemilikan operasional Harbour di Natuna Sea Block A sebesar 28,67 persen. Kemudian proyek pengembangan Lapangan Tuna yang berada di perairan Indonesia dengan kepemilikan operasional sebesar 50 persen.

Manajemen Harbour Energy mengungkapkan transaksi jual beli blok minyak ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengefisiensikan aset-aset portofolio global sekaligus mengalokasikan modal pada aset-aset yang dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Penjualan sebagian besar aset kami di Indonesia menandai tonggak strategis bagi Harbour,” kata Managing Director Harbour Indonesia Steve Cox dalam keterangan perusahaan, sebagaimana diberitakan Upstream yang khas memberitakan isu isu energi pada Kamis (28/5/2026).

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut mencerminkan pendekatan disiplin perusahaan dalam mengelola portofolio bisnis di tengah dinamika industri energi global.

“Transaksi ini menunjukkan pendekatan disiplin kami dalam mengelola portofolio,” ujarnya.

Meski melepas sebagian besar asetnya di Indonesia, Harbour tetap mempertahankan eksistensinya melalui sejumlah aset eksplorasi dan pengembangan migas di kawasan Laut Andaman.

Di sisi lain, akuisisi tersebut memperkuat posisi Prime Group di sektor energi nasional. Perusahaan itu sebelumnya telah memiliki kepentingan bisnis di sejumlah aset migas Indonesia, termasuk Natuna Sea Block B.

Pengamat industri menilai langkah Prime Group menunjukkan meningkatnya minat perusahaan domestik untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pengelolaan aset-aset energi strategis di dalam negeri.

Akuisisi tersebut juga dinilai dapat memperkuat posisi perusahaan nasional dalam pengembangan sumber daya migas Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan energi jangka panjang.

Harbour Energy sendiri merupakan salah satu perusahaan energi independen terbesar di Inggris yang memiliki portofolio aset di berbagai kawasan dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan tersebut menjalankan strategi optimalisasi aset guna meningkatkan efisiensi dan fokus investasi pada wilayah yang dianggap paling prospektif.

“Saya berterima kasih kepada rekan-rekan kami di Indonesia atas kerja mereka selama bertahun-tahun,” kata Cox.

Penyelesaian transaksi ini menandai babak baru dalam pengelolaan aset migas Natuna dan Lapangan Tuna, yang selama ini menjadi bagian penting dari pengembangan energi di kawasan perairan Indonesia.

Harbour Energy: Raksasa Energi Independen dari Inggris

Harbour Energy merupakan salah satu perusahaan minyak dan gas independen terbesar yang berbasis di Inggris. Perusahaan ini terbentuk melalui serangkaian merger dan akuisisi yang menjadikannya salah satu pemain penting di sektor energi global, dengan operasi yang tersebar di Eropa, Amerika Latin, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Berbeda dengan perusahaan energi raksasa milik negara seperti Saudi Aramco atau Petronas, Harbour Energy beroperasi sebagai perusahaan independen yang fokus pada eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak serta gas alam.

Model bisnis tersebut membuat perusahaan lebih fleksibel dalam mengambil keputusan investasi dan restrukturisasi portofolio aset.

Salah satu keunggulan Harbour adalah kemampuannya mengelola aset-aset migas yang telah berproduksi maupun lapangan yang masih dalam tahap pengembangan. Perusahaan dikenal memiliki pengalaman panjang dalam meningkatkan efisiensi produksi serta memperpanjang umur ekonomis lapangan migas yang telah matang.

Dalam beberapa tahun terakhir, Harbour juga aktif melakukan penataan portofolio global. Perusahaan tidak segan melepas aset yang dinilai kurang strategis untuk mengalihkan modal ke wilayah yang menawarkan prospek keuntungan lebih tinggi. Strategi inilah yang menjadi latar belakang penjualan sebagian asetnya di Indonesia.

Di kawasan Asia Tenggara, Harbour memiliki pengalaman operasional yang cukup panjang, termasuk di Indonesia. Selain Natuna Sea Block A dan proyek Tuna, perusahaan masih mempertahankan sejumlah kepentingan eksplorasi di kawasan Laut Andaman yang dinilai memiliki potensi sumber daya migas yang menjanjikan.

Keunggulan lain Harbour terletak pada kemampuan teknis dan manajemen proyek. Sebagai perusahaan yang beroperasi di berbagai yurisdiksi internasional, Harbour memiliki pengalaman dalam mengelola proyek-proyek kompleks, termasuk pengembangan lapangan lepas pantai yang membutuhkan teknologi tinggi dan investasi besar.

Prime Group: Pemain Nasional yang Semakin Agresif

Prime Group merupakan kelompok usaha energi yang semakin aktif memperluas portofolio bisnisnya di sektor minyak dan gas Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mulai dikenal melalui serangkaian langkah strategis untuk memperkuat posisinya di industri energi nasional.

Akuisisi aset Harbour Energy menjadi salah satu transaksi terbesar yang dilakukan Prime Group dalam upayanya memperbesar kapasitas bisnis hulu migas. Langkah tersebut memperlihatkan ambisi perusahaan untuk menjadi salah satu pemain domestik yang memiliki peran lebih besar dalam pengelolaan sumber daya energi nasional.

Salah satu keunggulan Prime Group adalah fokusnya pada aset-aset energi yang memiliki nilai strategis bagi Indonesia. Perusahaan tidak hanya membangun bisnis melalui eksplorasi baru, tetapi juga melalui akuisisi aset yang telah memiliki cadangan dan infrastruktur yang relatif matang.

Prime juga memiliki posisi yang cukup kuat di kawasan Natuna melalui keterlibatannya pada Natuna Sea Block B. Dengan masuknya kepemilikan pada Natuna Sea Block A dan proyek Tuna, perusahaan berpotensi menciptakan sinergi operasional yang dapat meningkatkan efisiensi pengembangan lapangan migas di kawasan tersebut.

Dari sisi strategi bisnis, Prime mengusung pendekatan jangka panjang yang menekankan penguatan kapasitas nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dorongan pemerintah untuk memperbesar peran perusahaan domestik, langkah ekspansi Prime dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian sektor energi Indonesia.

Ke depan, keberhasilan Prime Group dalam mengelola aset yang diakuisisi dari Harbour Energy akan menjadi salah satu indikator penting bagi kemampuan perusahaan nasional untuk mengambil alih dan mengembangkan aset-aset migas strategis yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan energi internasional. ****

Leave a Reply