Piala Dunia 2026 Terancam Gagal Terselenggara Akibat Kebijakan Geopolitik Trump

Kebijakan Trump yang sangat kontroversial tak luput dijadikan alasan pemboikotan, seperti kebijakan ketat terhadap imigrasi yang masuk negaranya. Di tingkat internasional, AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dituding punya relasi dengan kartel narkoba. Pernyataan Trump bahwa militer AS akan memperluas operasi antinarkoba mereka dan mulai melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko. Pernyataan ini didasarkan pada keyakinan Trump bahwa kartel-kartel tersebut telah mengendalikan sebagian besar Meksiko.

Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden AS Donald Trump. (Foto: Whitehouse)
Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden AS Donald Trump. Pihak FIFA menanggapi dengan mengadakan pertemuan darurat dan melakukan negosiasi, terutama mengenai masalah visa untuk delegasi Iran dan tekanan diplomatik lainnya. FIFA juga memperkenalkan tingkatan harga tiket baru untuk penggemar tim yang lolos kualifikasi untuk mengatasi keluhan harga. FIFA menilai isu-isu tersebut merupakan sentimen negatif dan seruan boikot memang ada tetapi hanya berbagai kontroversi, sedangkan angka pasti jumlah pembatalan tiket sebanyak 16.800 dalam semalam tidak terverifikasi. (Foto: Whitehouse)

Jakarta, EDITOR.ID – Ramainya isu serukan boikot Piala Dunia 2026 di AS hingga Januari, beredarnya angka 16.800 tiket merujuk pada laporan mengenai gelombang pembatalan tiket secara massal oleh penggemar sepakbola internasional, dimana Amerika Serikat (AS) menjadi tuan rumahnya bersama Meksiko dan Kanada, dugaan penyebabnya tak lepas dari kebijakan pemerintahan Donald Trump.

Meski penyelenggaraannya digelar di 3 negara, tapi mayoritas laga bakal berlangsung di Amerika Serikat. Dari 16 venue pertandingan, 11 di antaranya berada di AS.

Padahal gelaran Piala Dunia 2026 tinggal beberapa bulan lagi sebagai ajang supremasi sepakbola bergengsi diselenggarakan pada 11 Juni diikuti 48 tim nasional dari berbagai negara-negara belahan dunia.

Angka pembatalan tiket sebanyak itu terjadi dalam waktu semalam sebagai bentuk protes atau kekhawatiran terkait situasi politik dan kebijakan penegakan imigrasi yang agresif di Amerika Serikat (salah satu tuan rumah).

Seruan boikot global terhadap Piala Dunia 2026 karena beredarnya isu keamanan bagi pengunjung asing seperti yang dilaporkan di media sosial.

Di sisi lain, permintaan tiket secara keseluruhan tetap sangat tinggi, dengan lebih dari 150 juta permintaan yang masuk selama fase undian acak (Random Selection Draw) yang dijadwalkan ditutup pada 13 Januari 2026.

Pembatalan dalam waktu semalam dinilai semacam pemboikotan dari penggemar sepakbola internasional, hal itu terjadi atas dasar protes yang sedang berlangsung terkait harga tiket yang mahal selain permasalahan geopolitik.

Banyak penggemar, terutama dari Inggris, mengeluhkan harga tiket yang dianggap “tidak masuk akal” dan terlalu mahal, bahkan untuk pertandingan penyisihan grup, yang memicu ancaman boikot dari basis penggemar.

Sedangkan keterkaitannya dengan masalah geopolitik, diantaranya Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) sempat memboikot acara undian grup karena penolakan visa oleh Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah. Ada juga desakan dari berbagai pihak, termasuk Spanyol, agar Israel dilarang tampil di turnamen tersebut sebagai sanksi atas agresi militer, dengan ancaman boikot jika Israel diizinkan berpartisipasi.

Kebijakan Trump yang sangat kontroversial tak luput dijadikan alasan pemboikotan, seperti kebijakan ketat terhadap imigrasi yang masuk negaranya. Di tingkat internasional, AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dituding punya relasi dengan kartel narkoba.

Trump telah menyatakan bahwa militer AS akan memperluas operasi antinarkoba mereka dan mulai melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko. Pernyataan ini didasarkan pada keyakinan Trump bahwa kartel-kartel tersebut telah mengendalikan sebagian besar Meksiko.

Trump secara terbuka mengancam akan meluncurkan serangan darat di Meksiko, beralih dari operasi maritim (laut) yang dilakukan sebelumnya di Samudra Pasifik timur dan Laut Karibia.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, telah menolak tawaran atau permintaan AS sebelumnya untuk mengirim pasukan ke wilayahnya. Meksiko menegaskan kedaulatannya dan tidak mengizinkan intervensi militer AS di darat, meskipun ada upaya untuk mempererat koordinasi keamanan. Sheinbaum menyatakan bahwa benua Amerika bukan milik kekuatan manapun, menyiratkan AS tidak bisa mendominasi wilayah negara lain.

Pernyataan Trump adalah sebuah ancaman atau isyarat, dan belum ada konfirmasi mengenai serangan darat skala penuh yang sedang berlangsung di wilayah Meksiko saat ini. Rencana spesifik mengenai serangan darat tersebut dirahasiakan.

Ancaman ini sekaligus memicu kekhawatiran baru terkait eskalasi keamanan regional dan bahkan menyebabkan munculnya gerakan boikot Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan sebagian di AS.

Perang AS dengan peredaran narkoba bahkan bisa merembet ke Meksiko. Trump menyatakan akan menargetkan kartel yang ‘menguasai’ negara tetangga mereka tersebut melalui serangan darat

Di luar perang terhadap kartel narkoba, Trump yang terang-terangan atas minatnya yang sangat serius mengakuisisi Greenland, merupakan wilayah otonom Denmark, karena Trump nilai strategisnya di Arktik, termasuk sumber daya alam dan posisi militer, dengan berbagai opsi dipertimbangkan, termasuk pendekatan diplomatik, insentif ekonomi (pembayaran tunai), dan potensi langkah militer, meskipun Denmark dan Greenland menolak keras penjualan tersebut.

Greenland sangat penting untuk memperluas pengaruh AS di Arktik, menahan ekspansi Rusia dan China, serta memperkuat pertahanan NATO.

Pulau ini kaya akan mineral langka dan potensi energi. Membuat AS meskipun sudah memiliki pangkalan militer di Greenland (Thule Air Base) sejak 1951, dan Trump ingin memperkuat kehadiran militernya di sana.

Trump merayu dengan menawarkan pembayaran tunai hingga $100.000 per warga Greenland untuk mendorong mereka keluar dari Denmark. Hal ini tak lain demi memperluas pengaruh AS melalui kerja sama keamanan dan diplomatik.

Beberapa laporan menyebutkan opsi militer juga dipertimbangkan untuk akuisisi pulau tersebut. Bagi Pemerintah Denmark dan otoritas Greenland menolak tegas tawaran tersebut, menegaskan wilayah mereka tidak untuk dijual dan kedaulatan mereka tidak bisa diganggu. Akibatnya wacana Trump ini menimbulkan ketegangan geopolitik antara AS dengan Denmark, Eropa, dan kekuatan lain di Arktik, serta mengancam stabilitas internasional.

Hasrat Trump yang ingin menggabungkan Greenland, wilayah otonom milik Denmark tak mudah diakuisisi ke dalam AS meskipun lewat kekuatan militer.

“Hanya orang gila yang akan pergi ke #USA untuk Piala Dunia FIFA. Anda beruntung jika bisa keluar dari sana hidup-hidup. Bahkan jika Anda berkulit putih!” politisi Inggris George Galloway menuliskan di X.

“Halo Dunia, mari kita boikot Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat. Terima kasih,” akun X mantan profesor matematika dan ilmu komputer asal AS Eliot Jacobson ikut menyuarakan boikot.

Penyelenggaraan Piala Dunia menghadapi isu-isu ancaman boikot bukan yang pertama kali, 2022 tuan rumah Qatar diancam pamboikotan sebagai bentuk protes atas perlakuan negara kaya minyak itu terhadap pekerja migran, kelompok LGBTQ+, serta dugaan kejahatan HAM.

Qatar menghadapi kritik tajam terkait sistem kafala dan kondisi kerja yang buruk bagi buruh migran yang membangun infrastruktur stadion. Laporan mengenai tingginya angka kematian pekerja menjadi pemicu utama gerakan boikot dari berbagai organisasi HAM internasional.

Karena hukum Qatar mengkriminalisasi hubungan sesama jenis, muncul kekhawatiran besar mengenai keamanan penggemar dan atlet dari komunitas LGBTQ+, yang memicu protes dari berbagai federasi sepak bola Eropa.

 Beberapa tim nasional, seperti Jerman, Norwegia, dan Denmark, melakukan aksi protes di lapangan (seperti mengenakan kaus khusus saat pemanasan) untuk menyuarakan kepedulian terhadap HAM sebelum turnamen dimulai.

Di Prancis, beberapa kota besar seperti Paris memutuskan untuk tidak menyediakan layar lebar (fan zones) di tempat umum sebagai bentuk protes simbolis terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan di Qatar.

Meskipun turnamen tetap berjalan hingga selesai, tekanan tersebut berhasil memaksa Qatar melakukan beberapa reformasi ketenagakerjaan dan menempatkan isu etika dalam pemilihan tuan rumah olahraga besar di bawah pengawasan global yang lebih ketat

Banyak yang menuding pembatalan tiket sebanyak itu disebabkan pula karena ketidakkonsistennya FIFA dalam menerapkan sanksi politik, seperti yang dilakukan terhadap Rusia (yang dilarang dari kompetisi internasional setelah invasi ke Ukraina) dibandingkan dengan perlakuan terhadap Israel.

Akibat dari isu-isu mengenai pembatalan tiket Piala Dunia ini oleh pihak FIFA menanggapi dengan mengadakan pertemuan darurat dan melakukan negosiasi, terutama mengenai masalah visa untuk delegasi Iran dan tekanan diplomatik lainnya. FIFA juga memperkenalkan tingkatan harga tiket baru untuk penggemar tim yang lolos kualifikasi untuk mengatasi keluhan harga.

Hasil dari pertemuan darurat dilakukan oleh FIFA menilai isu-isu tersebut merupakan sentimen negatif dan seruan boikot memang ada tetapi hanya berbagai kontroversi, sedangkan angka pasti jumlah pembatalan tiket sebanyak 16.800 dalam semalam tidak terverifikasi. Sementara situasi politik dunia dan harga tiket yang dinamis terus menjadi perhatian menjelang turnamen. (*)

Leave a Reply